
PAGAR ALAM, cimutnews.co.id — Pemerintah Kota Pagar Alam bersama Polres Pagar Alam memulai penanaman bawang putih serentak sebagai bagian dari program swasembada pangan nasional. Kegiatan tersebut berlangsung di lahan milik Pemkot Pagar Alam di samping Kantor Satpol PP, Rabu (19/8/2026).
Penanaman ini bukan hanya agenda lokal. Kegiatan dilakukan serentak di sejumlah daerah dan diikuti 17 provinsi secara virtual bersama Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo.
Pagar Alam bahkan menjadi salah satu lokasi yang dipusatkan untuk pelaksanaan program di Sumatera Selatan.
Namun, di balik seremoni penanaman tersebut, ada tantangan yang jauh lebih besar: apakah penanaman bawang putih mampu berkembang menjadi produksi berkelanjutan yang benar-benar berdampak pada petani dan ekonomi masyarakat?
Dari Lahan Tanam Menuju Ketahanan Pangan
Program tersebut diarahkan untuk mendukung target pemerintah dalam memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan nasional.
Bawang putih menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian karena kebutuhan nasional masih sangat bergantung pada pasokan dari luar negeri. Dalam informasi yang disampaikan Pemkot Pagar Alam, ketergantungan impor bawang putih saat ini disebut telah mencapai lebih dari 90 persen.
Angka tersebut menunjukkan besarnya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan apabila produksi dalam negeri ingin menjadi penopang utama kebutuhan nasional.
Di tingkat daerah, penanaman di Pagar Alam diharapkan tidak berhenti pada aktivitas budidaya. Pemerintah juga mendorong agar muncul kegiatan ekonomi baru dari sektor pertanian hingga pengolahan hasil.
Wali Kota Pagar Alam H. Ludi Oliansyah mengatakan program tersebut diharapkan dapat membuka sumber penghasilan tambahan bagi petani sekaligus mendorong tumbuhnya UMKM.
Menurut dia, bawang putih tidak hanya dapat dijual sebagai hasil pertanian, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk olahan rumah tangga.
Gagasan tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah daerah ingin membangun rantai ekonomi yang lebih panjang, mulai dari bibit, produksi, pasar hingga industri pengolahan.
Namun Fakta di Lapangan Menunjukkan, Tanam Baru Langkah Awal
Namun fakta di lapangan menunjukkan, keberhasilan program swasembada tidak cukup diukur dari berapa banyak bibit yang ditanam.
Tantangan sebenarnya berada pada tahap setelah penanaman.
Petani membutuhkan kepastian mengenai produktivitas, akses terhadap bibit berkualitas, biaya produksi, teknologi budidaya, pendampingan, distribusi hingga pasar ketika panen tiba.
Jika salah satu mata rantai tersebut tidak berjalan, program berpotensi berhenti pada kegiatan produksi tanpa menghasilkan perubahan ekonomi yang signifikan.
Di sisi lain, bawang putih merupakan komoditas yang memiliki pasar besar. Tingginya ketergantungan terhadap impor menjadi gambaran bahwa kebutuhan masyarakat terhadap komoditas ini masih jauh lebih besar dibandingkan kemampuan produksi domestik.
Karena itu, pengembangan sentra produksi di daerah seperti Pagar Alam membutuhkan konsistensi, bukan sekadar kegiatan tanam serentak.
Ketika Petani Diminta Menjadi Bagian dari Rantai Hilirisasi
Peluang ekonomi yang disebut Pemkot Pagar Alam juga menarik untuk diperhatikan.
Wali Kota menyampaikan bahwa hasil bawang putih dapat dikembangkan menjadi berbagai produk olahan, termasuk sambal, sehingga membuka peluang bagi industri rumah tangga dan UMKM.
Konsep ini sejalan dengan upaya membangun ekosistem hulu-hilir.
Petani tidak hanya diposisikan sebagai produsen bahan mentah. Mereka diharapkan terhubung dengan pelaku usaha yang mengolah, mengemas dan memasarkan produk.
Namun, hingga kini belum semua detail mengenai skema hilirisasi bawang putih tersebut dijelaskan secara rinci, termasuk bagaimana mekanisme penyerapan hasil panen, siapa pasar utamanya dan bagaimana kepastian harga bagi petani.
Hal ini menimbulkan pertanyaan penting.
Jika produksi meningkat, apakah pasar lokal dan regional sudah siap menyerap hasilnya?
Pagar Alam dan Ambisi Menjadi Sentra Hilirisasi
Program bawang putih juga datang bersamaan dengan agenda ekonomi lain yang sedang dikembangkan Pagar Alam.
Wali Kota menyebut Kota Pagar Alam dipilih menjadi salah satu kota sentra hilirisasi kopi di Indonesia. Dalam waktu dekat, Menteri Koperasi dan UMKM disebut akan berkunjung ke Pagar Alam.
Jika dua agenda tersebut berjalan beriringan, Pagar Alam memiliki peluang membangun model ekonomi daerah berbasis komoditas unggulan.
Kopi sudah memiliki identitas kuat di wilayah tersebut. Sementara bawang putih dapat menjadi salah satu komoditas tambahan yang memperluas basis ekonomi pertanian.
Tetapi keberhasilan tetap akan bergantung pada kemampuan menghubungkan produksi dengan pasar.
Bukan hanya berapa hektare lahan yang ditanami, melainkan berapa hasil yang berhasil dipanen, berapa petani yang memperoleh manfaat dan sejauh mana produk tersebut mampu bertahan di pasar.
Pertanyaan yang Belum Terjawab
Program swasembada bawang putih memiliki tujuan besar: mengurangi ketergantungan impor, melindungi petani, menjaga kestabilan harga dan membangun ekosistem ekonomi dari hulu hingga hilir.
Pagar Alam kini menjadi bagian dari agenda tersebut.
Namun fakta bahwa ketergantungan impor masih sangat tinggi menunjukkan bahwa perjalanan menuju swasembada bukan pekerjaan singkat.
Penanaman pada 19 Agustus 2026 menjadi langkah awal. Pertanyaan berikutnya justru lebih penting: bagaimana hasilnya nanti?
Apakah lahan yang ditanam hari ini akan berkembang menjadi sentra produksi yang konsisten, atau justru berhenti sebagai proyek seremonial setelah kegiatan tanam selesai?
Hingga kini, jawaban atas pertanyaan tersebut masih menunggu pembuktian dari musim tanam, hasil panen dan manfaat ekonomi yang benar-benar dirasakan masyarakat. (Hafis)

















