Beranda Pagar Alam 240 Santri Diwisuda di Pagar Alam, Tantangan Pendidikan Al-Qur’an Belum Berakhir

240 Santri Diwisuda di Pagar Alam, Tantangan Pendidikan Al-Qur’an Belum Berakhir

11
0
Wakil Wali Kota Pagar Alam Hj. Bertha menghadiri Wisuda ke-XXXII Santri TKA/TPA/TPQ dan Wisuda Tahfidz ke-III LPPTKA-BKPRMI Kota Pagar Alam Tahun 2026 di Gunung Gare, Selasa (25/8/2026). (Foto: Hafis/CimutNews)

PAGAR ALAM, cimutnews.co.id — Sebanyak 240 santri TKA/TPA/TPQ dan Tahfidz Al-Qur’an di Kota Pagar Alam memasuki salah satu momentum penting dalam perjalanan pendidikan mereka.

Wisuda tersebut digelar dalam Wisuda ke-XXXII Santri TKA/TPA/TPQ dan Wisuda Tahfidz ke-III LPPTKA-BKPRMI Kota Pagar Alam Tahun 2026 di Gedung Serbaguna SD Negeri 74, Gunung Gare, Selasa (25/8/2026).

Namun, di balik seremoni wisuda dan kebanggaan para orang tua, ada pertanyaan yang lebih panjang: sejauh mana pendidikan Al-Qur’an yang dimulai sejak usia dini mampu terus dipertahankan setelah para santri meninggalkan bangku TPA?

Tahun ini, 215 santri tercatat menyelesaikan pendidikan TPQ, sementara 25 lainnya mengikuti wisuda Tahfidz Al-Qur’an.

Momentum tersebut turut dihadiri Wakil Wali Kota Pagar Alam, Hj. Bertha. Kehadirannya menjadi penanda dukungan pemerintah daerah terhadap pembinaan keagamaan sebagai salah satu bagian dari pembangunan sumber daya manusia.

Bukan Sekadar Wisuda

Dalam sambutannya, Hj. Bertha mengapresiasi peran orang tua, ustadz dan ustadzah, serta pengurus BKPRMI yang selama ini mendampingi para santri.

Menurutnya, keberhasilan seorang anak dalam belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an tidak lahir secara instan.

Ada orang tua yang mengantar, tenaga pengajar yang membimbing, waktu yang disediakan untuk belajar, serta kemauan anak untuk terus mengikuti proses pendidikan.

Pesan tersebut sekaligus menempatkan keluarga sebagai bagian penting dalam keberlanjutan pendidikan keagamaan anak.

Pemerintah Kota Pagar Alam juga menilai pembangunan sumber daya manusia tidak cukup hanya diukur dari pembangunan fisik seperti jalan, gedung maupun fasilitas umum.

Aspek iman, ilmu, akhlak, keluarga dan pendidikan sejak usia dini disebut memiliki peran yang tidak kalah penting.

Namun Fakta di Lapangan Menunjukkan, Wisuda Bukan Garis Akhir

Baca juga  Diklat Paskibraka Pagar Alam 2026 Resmi Dimulai, 70 Calon Pengibar Bendera Digembleng Menuju HUT Ke-81 RI

Wisuda pada dasarnya merupakan tanda bahwa seorang santri telah melewati tahapan pendidikan tertentu.

Tetapi, setelah acara berakhir dan toga dilepas, proses pendidikan tidak otomatis selesai.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan ketika anak kembali ke lingkungan keluarga dan kehidupan sehari-hari.

Kemampuan membaca Al-Qur’an, hafalan, kebiasaan salat, hingga pembentukan adab membutuhkan pembiasaan yang berlangsung terus-menerus.

Karena itu, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar bagaimana membuat anak mampu mengikuti pendidikan di TPA, tetapi bagaimana menjaga agar kebiasaan tersebut tidak berhenti setelah mereka dinyatakan lulus atau diwisuda.

Hingga kini, belum semua aspek keberlanjutan pendidikan keagamaan anak dapat diukur hanya melalui jumlah santri yang diwisuda.

Diperlukan kesinambungan antara lembaga pendidikan, keluarga dan lingkungan agar capaian yang diperoleh selama belajar tetap menjadi kebiasaan.

Orang Tua Jadi Titik Penting

Hj. Bertha secara khusus mengingatkan orang tua agar tidak menyerahkan seluruh proses pendidikan anak kepada sekolah maupun TPA.

Menurutnya, rumah merupakan tempat pendidikan pertama bagi anak.

Ia mendorong keluarga membiasakan membaca Al-Qur’an, menjalankan salat berjamaah, menanamkan adab serta memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut menjadi penting karena pendidikan karakter tidak berlangsung hanya dalam ruang kelas.

Anak akan lebih mudah menangkap nilai yang mereka lihat dan alami secara berulang di lingkungan terdekatnya.

Dengan kata lain, keberhasilan pendidikan Al-Qur’an tidak berhenti pada kemampuan membaca atau menghafal.

Ada proses lebih panjang untuk menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai bagian dari perilaku sehari-hari.

Ada Capaian, Ada Pekerjaan Rumah

Wisuda 240 santri menjadi capaian yang patut diapresiasi.

Namun fakta di lapangan juga mengingatkan bahwa angka tersebut hanyalah salah satu bagian dari perjalanan pendidikan.

Pemerintah daerah, BKPRMI, pengajar dan orang tua masih menghadapi tantangan untuk memastikan pembinaan dapat berjalan berkelanjutan.

Baca juga  Kasus KDRT Maut di Pagaralam Picu Sorotan, Perlindungan Perempuan Dipertanyakan

Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah setelah wisuda para santri tetap mendapatkan ruang yang cukup untuk melanjutkan pembelajaran Al-Qur’an dan memperdalam pendidikan keagamaannya?

Pertanyaan lain juga muncul terkait bagaimana menjaga minat anak ketika mereka memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan menghadapi aktivitas yang semakin padat.

Di titik inilah dukungan keluarga menjadi penting, sekaligus membutuhkan ekosistem pendidikan yang mampu menjaga keberlanjutan proses tersebut.

Wisuda akhirnya bukan sekadar panggung untuk merayakan keberhasilan.

Ia juga menjadi pengingat bahwa pendidikan anak merupakan proses panjang yang membutuhkan konsistensi.

Pertanyaan yang Belum Selesai

Pemerintah Kota Pagar Alam telah menunjukkan dukungan terhadap pendidikan berbasis keagamaan sejak usia dini.

Sebanyak 240 santri tahun ini menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Namun, keberhasilan yang sesungguhnya tentu tidak hanya terlihat ketika para santri menerima tanda kelulusan.

Pertanyaan besarnya adalah apa yang terjadi setelah wisuda?

Apakah kemampuan membaca, hafalan, kebiasaan beribadah dan nilai-nilai akhlak yang dipelajari selama berada di TKA/TPA/TPQ akan terus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari?

Atau masih ada pekerjaan rumah yang perlu dijawab bersama oleh pemerintah, lembaga pendidikan, pengajar dan keluarga?

Hingga kini, pertanyaan itu masih terbuka.

Dan perjalanan 240 santri tersebut baru saja memasuki tahap berikutnya. (Hafis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here