Beranda Pagar Alam Terungkap Pesan Maulid Pagar Alam, Tapi Tantangan Nyata Masih Ada

Terungkap Pesan Maulid Pagar Alam, Tapi Tantangan Nyata Masih Ada

9
0
Wakil Wali Kota Pagar Alam Hj. Bertha menghadiri Peringatan Maulid Akbar Nabi Muhammad SAW 1448 H di Masjid Al-Akbar Kompleks Perkantoran Pemkot Pagar Alam, Gunung Gare.(Foto: Hafis/cimutnews.co.id)

PAGAR ALAM, cimutnews.co.id — Peringatan Maulid Akbar Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 Masehi berlangsung di Masjid Al-Akbar, Kompleks Perkantoran Pemerintah Kota Pagar Alam, Gunung Gare, Kamis (27/8/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Wali Kota Pagar Alam Hj. Bertha bersama jamaah. Tausiyah dalam kegiatan itu disampaikan Ustadz KH Muhammad Nur Effendi dengan tema “Meneladani Akhlak Rasulullah SAW Sebagai Bekal Membangun Pagar Alam Berkah, Pagar Alam Maju.”

Namun, di balik agenda keagamaan yang berlangsung khidmat, ada pesan yang lebih luas: sejauh mana nilai-nilai yang disampaikan dalam peringatan Maulid benar-benar diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari dan pembangunan daerah?

Maulid Bukan Sekadar Seremonial

Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Pagar Alam Hj. Bertha menyampaikan apresiasi atas kehadiran KH Muhammad Nur Effendi di tengah jamaah Kota Pagar Alam.

Menurut Bertha, kehadiran penceramah diharapkan dapat mempererat silaturahmi sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat dalam menjalankan syariat Islam.

“Semoga dengan kehadiran Ustadz akan lebih dapat mempererat tali silaturahmi di antara kita, serta dapat meningkatkan pemahaman dalam melaksanakan syariat Islam khususnya di Kota Pagar Alam yang kita cintai ini,” ujar Bertha.

Pemerintah Kota Pagar Alam juga memandang peringatan Maulid Nabi sebagai momentum untuk mengambil pelajaran dari perjalanan hidup Rasulullah SAW.

Nilai keteladanan tersebut, menurut pemerintah daerah, diharapkan tidak berhenti dalam ruang masjid, tetapi dapat diamalkan dalam kehidupan masyarakat.

Ada Pesan Besar di Balik Tema Maulid

Tema yang diangkat tidak hanya berbicara tentang kehidupan keagamaan.

Frasa “Pagar Alam Berkah, Pagar Alam Maju” membawa pesan bahwa pembangunan daerah idealnya berjalan beriringan dengan pembentukan karakter masyarakat.

Di sinilah letak persoalan yang menarik.

Pembangunan sebuah daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, angka investasi, maupun capaian administratif. Ada pula persoalan yang lebih sulit diukur, seperti integritas, kepedulian sosial, kedisiplinan, pelayanan kepada masyarakat, hingga keteladanan para pemimpin.

Baca juga  Pagar Alam Punya Kerajinan Rotan, Tapi Tantangan Pasarnya Belum Terjawab

Namun fakta di lapangan menunjukkan, menerjemahkan nilai moral menjadi perilaku sehari-hari bukan perkara sederhana.

Pesan tentang kejujuran, kepedulian dan akhlak dapat disampaikan dalam berbagai kesempatan. Tantangannya adalah bagaimana nilai tersebut benar-benar terlihat dalam interaksi sosial dan pelayanan publik.

Di Sisi Lain, Tantangan Tidak Berhenti di Mimbar

Peringatan Maulid menjadi ruang untuk mengingat kembali keteladanan Rasulullah SAW.

Tetapi setelah acara selesai, kehidupan masyarakat tetap berjalan dengan berbagai persoalan dan kebutuhan.

Masyarakat tetap membutuhkan pelayanan pemerintah yang baik, lingkungan yang nyaman, kesempatan ekonomi, kepastian dalam memperoleh pelayanan, serta ruang sosial yang sehat.

Karena itu, pesan pembangunan berbasis nilai keagamaan akan memiliki arti lebih kuat apabila dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata.

Bukan hanya dalam bentuk kegiatan seremonial, tetapi juga melalui perilaku sehari-hari.

Hingga kini, belum semua ukuran keberhasilan pembangunan dapat dilihat hanya dari banyaknya kegiatan atau agenda resmi. Ada sisi lain yang baru bisa dirasakan masyarakat ketika kebijakan benar-benar menyentuh kebutuhan mereka.

Pemerintah Dorong Nilai Keislaman dalam Kehidupan

Bertha mengatakan, Pemerintah Kota Pagar Alam menyambut baik pelaksanaan Maulid Akbar di lingkungan Masjid Al-Akbar Kompleks Gunung Gare.

Ia berharap kegiatan tersebut menjadi media pembelajaran bagi masyarakat sekaligus mendorong pengamalan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.

“Dengan adanya kegiatan ini dapat menjadi media pembelajaran yang sangat baik bagi kita semua serta dapat mengamalkan nilai-nilai keislaman dalam berkehidupan sehari-hari,” katanya.

Pernyataan tersebut menempatkan Maulid bukan semata sebagai agenda tahunan, tetapi sebagai momentum refleksi.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana nilai yang disampaikan dalam momentum tersebut dapat terus hidup setelah kegiatan berakhir?

Keteladanan Menjadi Tantangan Berikutnya

Pesan utama Maulid pada akhirnya kembali kepada persoalan keteladanan.

Baca juga  Pemkot Pagar Alam Siapkan 10 Hektare Lahan Bawang Putih, Didorong Jadi Sentra Pangan

Rasulullah SAW dikenang bukan hanya karena ajaran yang disampaikan, tetapi juga karena akhlak yang menjadi bagian dari kehidupan beliau.

Dalam konteks pembangunan daerah, gagasan tersebut dapat menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak cukup hanya dibangun melalui program pemerintah.

Diperlukan pula kepercayaan masyarakat, perilaku aparatur yang baik, kepedulian antarsesama, serta konsistensi antara nilai yang disampaikan dan tindakan yang dilakukan.

Hal ini menimbulkan pertanyaan yang masih terbuka: apakah semangat “Pagar Alam Berkah, Pagar Alam Maju” nantinya hanya menjadi tema dalam berbagai kegiatan, atau benar-benar dapat terlihat dalam kehidupan masyarakat?

Terungkapnya pesan moral dalam peringatan Maulid ini tentu menjadi bagian penting. Namun pekerjaan berikutnya justru berada di luar mimbar—ketika nilai keteladanan harus diuji dalam kehidupan sehari-hari.

Hingga kini, pertanyaan tersebut masih menjadi ruang refleksi bersama bagi pemerintah dan masyarakat Pagar Alam. (Hafis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here