Beranda Pagar Alam Terungkap, Penanaman Bawang Putih di Pagar Alam Sisakan Pertanyaan

Terungkap, Penanaman Bawang Putih di Pagar Alam Sisakan Pertanyaan

6
0
Ketua TP PKK Sumsel Hj. Febi Deru bersama Wali Kota Pagar Alam H. Ludi Oliansyah dan Ketua TP PKK Pagar Alam Hj. Hera Ludi saat melakukan penanaman bawang putih di kawasan Perkantoran Gunung Gare, Pagar Alam. (Foto: Hafis/cimutnews.co.id)

PAGAR ALAM, cimutnews.co.id — Penanaman bawang putih menjadi salah satu agenda rombongan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Sumatera Selatan saat melanjutkan kunjungan kerja di Kota Pagar Alam, Kamis (27/8/2026).

Kegiatan tersebut berlangsung di kawasan Perkantoran Gunung Gare. Ketua TP PKK Sumsel Hj. Febi Deru bersama Wali Kota Pagar Alam H. Ludi Oliansyah dan Ketua TP PKK Pagar Alam Hj. Hera Ludi ikut turun langsung dalam kegiatan penanaman.

Sekilas, kegiatan ini terlihat sederhana: menanam bawang putih di kawasan perkantoran.

Namun, di balik kegiatan tersebut terdapat agenda yang lebih besar, yakni bagaimana sektor pertanian lokal dapat ikut menopang ketahanan pangan daerah.

Bukan Sekadar Menanam

Penanaman bawang putih dilakukan bersama pengurus dan anggota TP PKK Provinsi Sumsel serta TP PKK Kota Pagar Alam.

Kegiatan itu disebut menjadi bagian dari komitmen TP PKK untuk mendorong kemajuan sektor pertanian lokal sekaligus memperkuat ketahanan pangan.

Bawang putih sendiri bukan sekadar komoditas pertanian biasa. Kebutuhannya cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, mulai dari rumah tangga hingga pelaku usaha kuliner.

Karena itu, keberhasilan budidaya di tingkat daerah pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai tanaman yang tumbuh, tetapi juga menyangkut kesinambungan produksi dan manfaat ekonominya bagi masyarakat.

Ada Harapan Besar di Balik Penanaman

Kehadiran jajaran TP PKK Sumsel dan Pemerintah Kota Pagar Alam dalam kegiatan tersebut menunjukkan adanya dorongan agar sektor pertanian tidak hanya menjadi aktivitas produksi, tetapi juga bagian dari penguatan ketahanan pangan.

Pagar Alam memiliki karakter wilayah yang kuat dengan sektor pertanian. Kondisi tersebut menjadi modal penting untuk mengembangkan berbagai komoditas hortikultura.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, sebuah gerakan penanaman baru akan memiliki dampak lebih besar apabila dilanjutkan dengan perawatan, pendampingan, kepastian produksi hingga akses pasar.

Baca juga  542 Anak Meriahkan Hari Anak Nasional di Pagar Alam, Namun Tantangan PAUD Masih Menjadi Pertanyaan

Di sinilah tantangan sebenarnya berada.

Dari Seremonial ke Produksi Nyata

Penanaman tentu menjadi langkah awal. Tetapi setelah bibit masuk ke tanah, pekerjaan justru baru dimulai.

Tanaman membutuhkan pemeliharaan. Petani membutuhkan pengetahuan. Hasil panen membutuhkan pasar. Sementara produksi yang berkelanjutan membutuhkan kepastian agar kegiatan pertanian tidak berhenti setelah satu kali penanaman.

Di sisi lain, kondisi berbeda dapat dirasakan apabila program pertanian mampu diteruskan secara konsisten dan melibatkan masyarakat secara langsung.

Bukan hanya pemerintah atau organisasi, tetapi juga kelompok tani, pelaku UMKM, hingga masyarakat yang berada di sekitar kawasan pertanian.

Pertanyaan yang Belum Terjawab

Dari kegiatan di Gunung Gare tersebut, belum ada penjelasan rinci mengenai berapa luas lahan yang akan dikembangkan, berapa target produksi bawang putih, serta bagaimana pola pendampingan setelah kegiatan penanaman dilakukan.

Hal ini menimbulkan pertanyaan penting.

Apakah penanaman tersebut akan menjadi proyek percontohan yang kemudian diperluas, atau hanya menjadi bagian dari agenda kunjungan kerja?

Pertanyaan lainnya adalah bagaimana hasil budidaya nantinya dapat memberi manfaat langsung bagi petani dan masyarakat Pagar Alam.

Jika produksi berhasil, maka peluang ekonominya tentu terbuka. Tetapi jika tidak diikuti dengan perencanaan berkelanjutan, kegiatan penanaman berpotensi hanya berhenti pada tahap awal.

Ketahanan Pangan Tidak Selesai di Tanah

Ketahanan pangan pada akhirnya bukan hanya soal berapa banyak tanaman yang ditanam.

Ada rantai panjang yang harus dijaga, mulai dari bibit, lahan, teknologi budidaya, perawatan, panen, distribusi hingga pasar.

Karena itu, keberhasilan kegiatan bawang putih di Pagar Alam nantinya lebih tepat diukur dari hasil yang bisa dirasakan masyarakat, bukan hanya dari jumlah tanaman yang ditanam.

Hingga kini, belum semua detail mengenai keberlanjutan program tersebut disampaikan secara rinci.

Baca juga  Karnaval Pagar Alam Meriah, 124 Peserta Ramaikan HUT ke-81 RI

Terungkapnya potensi pertanian Pagar Alam melalui kegiatan ini tentu menjadi peluang. Namun, pertanyaan besarnya tetap sama: apakah penanaman bawang putih ini akan berkembang menjadi gerakan pertanian berkelanjutan yang benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat?

Jawabannya masih menunggu proses di lapangan. (Hafis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here