Beranda Palembang PMI Palembang Ungkap Stok Darah B+ dan AB+ Paling Sulit, Defisit Capai...

PMI Palembang Ungkap Stok Darah B+ dan AB+ Paling Sulit, Defisit Capai 2.000 Kantong Per Bulan

6
0
Ketua PMI Kota Palembang Hj Dewi Sastrani saat menghadiri kegiatan donor darah di Kantor Camat Ilir Timur III, Senin (14/9/2026).(Foto:Poerba/cimutnews)

PALEMBANG, cimutnews.co.id – PMI Kota Palembang mengungkapkan stok darah B+ dan AB+ menjadi golongan yang paling sulit diperoleh di tengah kebutuhan transfusi darah yang masih tinggi. Setiap bulan, kebutuhan darah di Palembang mencapai sekitar 7.000 kantong, sedangkan pasokan rata-rata baru 5.000 kantong.

Kondisi itu membuat PMI Palembang terus memperluas kegiatan donor darah dengan pola jemput bola. Upaya tersebut dilakukan dengan menggandeng pemerintah kecamatan, organisasi, komunitas, perusahaan hingga masyarakat umum.

Kebutuhan Darah Palembang Capai 7.000 Kantong per Bulan

Ketua PMI Kota Palembang, Hj Dewi Sastrani, mengatakan kesenjangan antara kebutuhan dan pasokan menjadi tantangan yang harus diatasi bersama.

Menurut Dewi, dari kebutuhan sekitar 7.000 kantong darah setiap bulan, PMI Palembang rata-rata baru mampu memperoleh sekitar 5.000 kantong. Artinya, terdapat kebutuhan yang belum terpenuhi sekitar 2.000 kantong setiap bulan.

“Untuk golongan darah B positif dan AB positif memang stoknya paling sedikit dibandingkan golongan darah A dan O. Karena itu, kami terus mengajak masyarakat untuk rutin mendonorkan darahnya,” kata Dewi saat menghadiri kegiatan donor darah di Kantor Camat Ilir Timur (IT) III, Senin (14/9/2026).

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan ketersediaan darah bukan hanya berkaitan dengan jumlah pendonor secara keseluruhan. Komposisi golongan darah juga menjadi faktor penting agar kebutuhan pasien dapat dipenuhi secara tepat.

B+ dan AB+ Menjadi Perhatian PMI

PMI Palembang secara khusus mendorong masyarakat dengan golongan darah B positif dan AB positif yang memenuhi persyaratan kesehatan untuk berpartisipasi sebagai pendonor rutin.

Dewi menjelaskan, donor darah memiliki fungsi sosial yang langsung berkaitan dengan kebutuhan pasien. Darah yang terkumpul dapat digunakan untuk membantu pasien kecelakaan, ibu yang membutuhkan transfusi saat persalinan, maupun pasien dengan kondisi tertentu yang memerlukan transfusi secara berkala.

Baca juga  Wagub Cik Ujang Tegaskan Komitmen Pembinaan Sepak Bola Usia Dini, Pemprov Sumsel Buka Kolaborasi dengan Yayasan Ras Jaya

“Setiap satu kantong darah sangat berarti. Darah tersebut bisa membantu menyelamatkan pasien kecelakaan, ibu yang akan melahirkan, maupun pasien yang membutuhkan transfusi secara rutin,” ujarnya.

80 Orang Mendaftar Donor Darah di IT III

Kegiatan donor darah di Kecamatan IT III menjadi salah satu upaya PMI mendekatkan layanan donor kepada masyarakat.

Sebanyak 80 orang mendaftar untuk mengikuti kegiatan tersebut. Dari jumlah pendaftar itu, kegiatan ditargetkan menghasilkan sekitar 30 kantong darah yang kemudian dikelola PMI untuk mendukung kebutuhan transfusi.

Perbedaan antara jumlah pendaftar dan target kantong darah menunjukkan bahwa tidak seluruh orang yang mendaftar otomatis dapat melakukan donor. Kelayakan donor tetap bergantung pada hasil pemeriksaan dan persyaratan kesehatan yang berlaku.

Camat IT III Hefnianto mengapresiasi antusiasme masyarakat yang hadir. Menurutnya, jumlah pendaftar menunjukkan kepedulian warga terhadap kebutuhan darah masih cukup tinggi.

Ia berharap kegiatan serupa tidak berhenti sebagai agenda sesaat, tetapi dapat dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga terbentuk lebih banyak pendonor sukarela.

Donor Darah Jemput Bola Jadi Strategi PMI

PMI Palembang memilih memperbanyak kegiatan donor darah di berbagai lokasi sebagai salah satu cara memperluas basis pendonor.

Pola jemput bola memungkinkan kegiatan donor digelar lebih dekat dengan aktivitas masyarakat. Pemerintah kecamatan, perusahaan, organisasi dan komunitas dapat menjadi titik pengumpulan pendonor tanpa harus menunggu masyarakat datang sendiri ke fasilitas PMI.

Strategi tersebut penting karena kebutuhan darah berlangsung setiap hari, sedangkan donor tidak selalu terjadi secara merata. Dengan kegiatan yang terjadwal dan berulang, PMI memiliki peluang menjaga kesinambungan pasokan sekaligus mengenalkan donor darah sebagai aktivitas sosial rutin.

Kekurangan 2.000 Kantong Menunjukkan Tantangan Pasokan

Jika angka kebutuhan dan pasokan yang disampaikan PMI berlangsung konsisten selama setahun, selisih sekitar 2.000 kantong per bulan setara dengan sekitar 24.000 kantong darah dalam satu tahun.

Baca juga  Turnamen RS Siti Fatimah Digelar, Layanan Kesehatan Jadi Sorotan

Angka tersebut memberikan gambaran bahwa persoalan stok tidak cukup diselesaikan melalui kegiatan donor yang bersifat insidental. Diperlukan kesinambungan pendonor sukarela agar pasokan dapat mengikuti kebutuhan transfusi.

Khusus untuk B+ dan AB+, tantangannya menjadi lebih spesifik karena PMI menyebut kedua golongan tersebut saat ini paling sulit diperoleh dibandingkan A dan O. Karena itu, ajakan donor perlu menyasar masyarakat secara luas sekaligus memperhatikan kebutuhan berdasarkan golongan darah.

Ketersediaan Darah Bergantung pada Partisipasi Rutin

Kesenjangan antara kebutuhan sekitar 7.000 kantong dan pasokan rata-rata 5.000 kantong memperlihatkan bahwa ketersediaan darah sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. Stok tidak dapat dibangun hanya ketika terjadi kebutuhan mendesak, sebab darah harus tersedia sebelum pasien membutuhkannya.

Di sisi lain, keberadaan 80 pendaftar dalam kegiatan di IT III menunjukkan adanya modal sosial yang dapat dikembangkan. Jika kegiatan donor dilakukan secara rutin dan basis pendonor sukarela semakin luas, PMI memiliki lebih banyak saluran untuk menjaga kesinambungan pasokan.

persoalan yang dihadapi PMI bukan sekadar “kurang darah”, melainkan juga ketidaksesuaian antara kebutuhan transfusi dan komposisi stok berdasarkan golongan darah. Karena itu, ajakan kepada pendonor B+ dan AB+ memiliki nilai strategis ketika dua golongan tersebut sedang menjadi titik kekurangan.

PMI Ajak Masyarakat Jadi Pendonor Sukarela

PMI Palembang mengajak masyarakat yang berada dalam kondisi sehat dan memenuhi persyaratan donor untuk menyumbangkan darah secara sukarela.

Dewi secara khusus meminta pemilik golongan darah B positif dan AB positif agar lebih aktif mengikuti kegiatan donor darah. Partisipasi tersebut diharapkan tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga memperkuat ketersediaan stok untuk kebutuhan pasien berikutnya.

Pada akhirnya, ketersediaan darah merupakan bagian penting dari sistem pelayanan kesehatan. Ketika pasokan belum mampu mengejar kebutuhan, keberlanjutan kegiatan donor dan bertambahnya pendonor sukarela menjadi bagian penting untuk memperkecil kesenjangan tersebut. (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here