Beranda Pagar Alam ASN Pagar Alam Diingatkan Bijak Bermedia Sosial, Wali Kota Ludi Soroti Ancaman...

ASN Pagar Alam Diingatkan Bijak Bermedia Sosial, Wali Kota Ludi Soroti Ancaman Karhutla

17
0
Wali Kota Pagar Alam H. Ludi Oliansyah memimpin Upacara Gabungan Pemkot Pagar Alam di Halaman Kantor Wali Kota, Kamis (17/9/2026).(Foto:Hafis/cimutnews)

PAGAR ALAM, cimutnews.co.id – Wali Kota Pagar Alam H. Ludi Oliansyah memimpin Upacara Gabungan Pemerintah Kota Pagar Alam dalam rangka memperingati HUT Kementerian Komunikasi dan Digital, Hari Perhubungan Nasional, serta Hari Pariwisata Sedunia 2026 di Halaman Kantor Wali Kota Pagar Alam, Kamis (17/9/2026).

Dalam amanatnya, Ludi menyampaikan dua pesan yang berkaitan langsung dengan kehidupan pemerintahan dan masyarakat, yakni pentingnya aparatur sipil negara (ASN) menjaga perilaku di ruang digital serta kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau.

Wali Kota Pagar Alam Ingatkan ASN soal Jejak Digital

Upacara gabungan tersebut diikuti Wakil Wali Kota Pagar Alam Hj. Bertha, unsur Forkopimda, TNI dan Polri, para asisten dan staf ahli, pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), serta ASN di lingkungan Pemerintah Kota Pagar Alam.

Di hadapan peserta upacara, Ludi secara khusus meminta ASN lebih berhati-hati menggunakan media sosial. Ia mengingatkan agar aktivitas pribadi yang dibagikan ke ruang publik tidak justru menimbulkan persoalan bagi diri sendiri maupun institusi pemerintahan.

Menurut Ludi, posisi ASN sebagai abdi negara membuat perilaku mereka di ruang publik memiliki konsekuensi yang berbeda dibandingkan masyarakat pada umumnya. Aktivitas di media sosial, baik dilakukan secara sadar maupun tidak, dapat menjadi perhatian masyarakat.

“Bijaklah dalam bermedia sosial, jangan mengumbar hal-hal pribadi ke Medsos yang berpotensi dapat merugikan diri sendiri,” pesan Ludi.

Media Sosial dan Kredibilitas Institusi

Pesan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan media sosial tidak lagi hanya dipandang sebagai persoalan pribadi. Bagi aparatur pemerintah, perilaku digital dapat bersinggungan dengan persepsi publik terhadap profesionalitas dan kredibilitas lembaga tempat mereka bekerja.

Karena itu, kehati-hatian diperlukan bukan hanya ketika ASN menyampaikan informasi kedinasan, tetapi juga ketika mengunggah konten pribadi yang berpotensi menimbulkan salah tafsir atau berdampak pada reputasi.

Baca juga  KUPA/PPAS-P 2026 Pagar Alam Dibahas, Pemkot Pertajam Prioritas Anggaran dan Pelayanan Publik

Di tengah cepatnya penyebaran informasi digital, unggahan yang semula ditujukan kepada lingkaran pertemanan juga dapat menyebar lebih luas. Kondisi ini membuat literasi digital dan kesadaran terhadap jejak digital menjadi bagian penting dari profesionalitas aparatur.

Wali Kota Soroti Ancaman Karhutla Saat Musim Kemarau

Selain persoalan penggunaan media sosial, Ludi menyoroti ancaman kebakaran hutan dan lahan yang masih dapat muncul selama musim kemarau.

Ia mengatakan praktik pembukaan maupun pembersihan lahan dengan cara membakar masih dilakukan oleh sebagian masyarakat. Cara tersebut dinilai memiliki risiko karena api dapat dengan cepat menyebar, terutama ketika kondisi lingkungan kering.

Ludi meminta masyarakat tidak membersihkan lahan maupun pekarangan dengan cara membakar. Imbauan tersebut ditekankan sebagai langkah pencegahan sebelum api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

“Api kecil jadi kawan, besar jadi lawan, untuk itu mari kita cegah Karhutla dengan cara tidak membersihkan lahan dengan cara dibakar apalagi di musim kemarau seperti saat ini,” ujar Ludi.

Mengapa Pembakaran Lahan Perlu Dicegah?

Pembersihan lahan menggunakan api memang dapat terlihat sebagai cara cepat untuk menghilangkan semak atau sisa tanaman. Namun, dalam kondisi kemarau, api dapat sulit dikendalikan ketika bertemu bahan yang mudah terbakar dan kondisi angin yang mendukung.

Risikonya tidak hanya menyangkut lahan yang dibakar. Jika api merambat ke vegetasi kering, kebun, kawasan permukiman, atau area lainnya, dampaknya dapat meluas dan membutuhkan penanganan lebih besar.

Karhutla juga memiliki konsekuensi terhadap kualitas udara, aktivitas masyarakat, kesehatan lingkungan, hingga mobilitas apabila asap mengganggu jarak pandang.

Pencegahan Lebih Penting daripada Penanganan

Pesan Wali Kota Pagar Alam tersebut memperlihatkan dua persoalan yang berbeda tetapi memiliki kesamaan: pencegahan.

Baca juga  Karhutla 2026 Jadi Perhatian, Pemkot Pagar Alam Perkuat Sinergi Hadapi Puncak Kemarau

Dalam penggunaan media sosial, pencegahan dilakukan dengan mempertimbangkan konsekuensi sebelum sebuah unggahan dipublikasikan. Sementara dalam persoalan karhutla, pencegahan dilakukan dengan menghindari sumber api yang berpotensi berkembang menjadi kebakaran.

Pendekatan pencegahan menjadi penting karena penanganan setelah persoalan terjadi umumnya membutuhkan sumber daya lebih besar. Pada karhutla, misalnya, upaya pemadaman dapat melibatkan masyarakat, pemerintah daerah, aparat, serta unsur terkait lainnya.

Data Pembanding dan Konteks Nasional

Secara nasional, pencegahan karhutla juga menjadi perhatian pemerintah setiap memasuki periode rawan kebakaran. Pola yang berulang menunjukkan bahwa faktor manusia, termasuk aktivitas pembukaan atau pembersihan lahan dengan api, tetap menjadi salah satu persoalan yang perlu diantisipasi di wilayah rawan.

Untuk Pagar Alam, kondisi musim kemarau membuat imbauan tersebut relevan terutama bagi masyarakat yang melakukan aktivitas di lahan terbuka, kebun, maupun pekarangan.

Namun, bahan informasi kegiatan ini tidak mencantumkan jumlah titik api, luas lahan terbakar, jumlah kejadian, maupun perbandingan statistik karhutla Pagar Alam pada 2025 dan 2026. Karena itu, angka tersebut tidak dapat disimpulkan dari kegiatan upacara ini.

Dua Pesan Wali Kota Menyasar Risiko yang Berbeda

Ada satu hal menarik dari amanat Ludi dalam upacara gabungan tersebut. Pesan mengenai media sosial dan karhutla sama-sama menempatkan tindakan sebelum dampak sebagai perhatian utama.

Pada ruang digital, satu unggahan dapat meninggalkan jejak dan membentuk persepsi publik. Di lapangan, satu sumber api yang tidak terkendali dapat berkembang menjadi kebakaran yang berdampak pada lingkungan dan masyarakat.

Dengan demikian, pesan tersebut tidak semata-mata berupa imbauan administratif. Keduanya berkaitan dengan tanggung jawab individu terhadap dampak yang dapat muncul setelah sebuah tindakan dilakukan.

Pemkot Pagar Alam Dorong Kesadaran Bersama

Baca juga  107 Mahasiswa ITPA Diwisuda, Wali Kota Pagar Alam Dorong Lulusan Jadi Agen Perubahan

Upacara Gabungan Pemkot Pagar Alam pada Kamis (17/9/2026) akhirnya menjadi momentum penyampaian pesan yang menyentuh dua ruang kehidupan masyarakat: ruang digital dan lingkungan fisik.

ASN diminta menjaga perilaku bermedia sosial agar tidak merugikan diri sendiri maupun institusi. Pada saat yang sama, masyarakat diajak menghindari pembakaran lahan sebagai bagian dari upaya mencegah karhutla selama musim kemarau.

Ke depan, efektivitas pencegahan karhutla tidak hanya bergantung pada imbauan, tetapi juga kesadaran masyarakat, pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan, serta koordinasi pemerintah daerah bersama aparat dan masyarakat.

Begitu pula di ruang digital, kehati-hatian ASN perlu berjalan seiring dengan pemahaman bahwa setiap aktivitas yang dipublikasikan dapat memiliki konsekuensi lebih luas dari tujuan awal pembuatnya. (Hafis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here