Beranda Utama Harvesting Hope: Kampus dan Petani Garam Madura Wujudkan Masa Depan dari Lahan...

Harvesting Hope: Kampus dan Petani Garam Madura Wujudkan Masa Depan dari Lahan Pesisir

73
0
proyek Harvesting Hope, Universitas Trunojoyo Madura bersama mitra internasional menghadirkan teknologi poligenerasi yang mengubah wajah pertanian pesisir.

MADURA, cimutnews.co.id – Di pesisir Madura, kisah petani garam yang selama ini terkungkung oleh cuaca dan fluktuasi harga perlahan berubah. Bukan karena keajaiban, melainkan berkat kerja keras, riset, dan kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat. Melalui proyek Harvesting Hope, Universitas Trunojoyo Madura bersama mitra internasional menghadirkan teknologi poligenerasi yang mengubah wajah pertanian pesisir.

Proyek yang secara resmi diperkenalkan kepada publik pada Senin, 21 Juli 2025 ini membawa teknologi berbasis energi terbarukan ke desa-desa penghasil garam. Di atas lahan yang dahulu hanya menghasilkan satu komoditas, kini petani bisa memanen garam kualitas ekspor, rumput laut bernilai tinggi, air layak minum, hingga listrik mandiri dari energi matahari.

“Petani dulu hanya bergantung pada satu hasil. Sekarang mereka punya tiga: garam, rumput laut, dan air bersih. Bahkan listrik pun bisa dihasilkan sendiri,” ujar Assoc. Prof. Wahyudi Agustiono, Ph.D, peneliti utama sekaligus penggagas proyek Harvesting Hope.

Teknologi Poligenerasi: Solusi Inklusif dan Berkelanjutan

Teknologi poligenerasi ini merupakan hasil riset kolaboratif antara Indonesia dan Australia melalui program KONEKSI, didukung Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Teknologi ini memungkinkan:

  • Produksi garam kualitas ekspor,
  • Budidaya rumput laut secara efisien,
  • Desalinasi air laut menjadi air minum,
  • Konversi panas matahari menjadi listrik dengan sistem Rankine Cycle dan panel surya.

Dengan waktu operasi hanya delapan jam per hari, sistem ini mampu memproduksi air bersih senilai hingga Rp500.000, namun dijual lebih murah dari harga air kemasan.

“Nilai ekonominya besar, tapi yang kami tekankan adalah kebermanfaatan sosial dan keberlanjutan lingkungan,” tambah Wahyudi.

Selain mendapatkan air minum murah, petani juga menikmati hasil panen yang lebih stabil dan peluang ekonomi baru dari listrik murah yang mendorong berkembangnya UMKM berbasis energi terbarukan.

Baca juga  Hari Lahir Pancasila, Momentum Jaga Kerukunan

Mahasiswa sebagai Agen Solusi, Bukan Sekadar Akademisi

Berbeda dari pendekatan konvensional, proyek ini juga mengubah wajah pendidikan tinggi. Mahasiswa Universitas Trunojoyo tak hanya belajar teori, tetapi turun langsung ke lapangan, berinteraksi dengan masyarakat, dan menciptakan solusi nyata.

Salah satu inovasi datang dari mahasiswa yang merancang pintu air otomatis guna menjaga kadar salinitas tambak rumput laut. Inovasi ini lahir dari pengamatan langsung terhadap dinamika tambak di lapangan.

“Ide-ide segar justru muncul dari mahasiswa yang menghadapi langsung persoalan. Ini bentuk nyata pendidikan berbasis realitas,” kata Wahyudi.

Proyek ini menjadi perwujudan nyata dari program Kampus Berdampak, bagian dari revolusi pendidikan tinggi Kemendiktisaintek.

Dari Madura ke Dunia

Dampak proyek ini tak hanya dirasakan lokal. Keberhasilannya menarik perhatian universitas ternama seperti Newcastle University dan MIT University Melbourne untuk bergabung dalam jaringan riset kolaboratif.

“Riset ini bukan untuk jurnal semata, tapi untuk solusi. Inilah esensi dari konsep ‘locally rooted, globally impacted’,” ujar Wahyudi.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., saat meninjau lokasi proyek Februari lalu menyebut Harvesting Hope sebagai model riset ideal: melibatkan mahasiswa, berdampak nyata pada masyarakat, dan mampu menggerakkan ekonomi lokal.

“Petani tidak hanya menjadi objek, mereka diajak belajar, memahami teknologi, dan mulai memproduksi garam dengan metode lebih efisien,” kata Prof. Fauzan dalam program Bincang Kita TV Nasional.

Menanam Harapan, Memanen Peradaban

Proyek Harvesting Hope menjadi simbol kolaborasi yang berhasil. Dari lahan yang tadinya hanya menghasilkan garam, kini tumbuh harapan, menyala listrik, dan mengalir air bersih. Di Madura, teknologi hadir dari kebutuhan, dan riset menjelma menjadi solusi.

Dengan keterlibatan kampus, mahasiswa, pemerintah, dan mitra internasional, proyek ini menjadi model pembangunan berkelanjutan yang tak hanya relevan untuk Madura, tetapi juga untuk daerah pesisir lainnya di Indonesia.

Baca juga  Sinergi Forkompimda OKI Wujudkan Pemilu Damai 2024

“Kami percaya masa depan bisa dipanen hari ini – jika kita bekerja bersama, dengan ilmu, dan dengan hati,” pungkas Wahyudi. (*)