Beranda Pagar Alam Bendera 2.026 Meter di Puncak Dempo, Rekor MURI Belum Terjawab

Bendera 2.026 Meter di Puncak Dempo, Rekor MURI Belum Terjawab

5
0
Wali Kota Pagar Alam H. Ludi Oliansyah bersama Wakil Wali Kota Hj. Bertha dan Ketua TP PKK Hj. Hera Parianti Ludi saat menjamu Tim Bentang Merah Putih di Griya Rumah Dinas Wali Kota, Gunung Gare. (Foto: Hafis/cimutnews.co.id)

PAGAR ALAM, cimutnews.co.id — Pemandangan tak biasa tersaji di puncak Gunung Dempo, Kota Pagar Alam, saat bendera Merah Putih sepanjang 2.026 meter dibentangkan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2026.

Bendera berukuran fantastis itu bukan sekadar simbol perayaan. Pemerintah Kota Pagar Alam berharap kegiatan tersebut mampu menjadi daya tarik baru bagi wisatawan sekaligus pendaki yang ingin merasakan pengalaman berbeda di kawasan Gunung Dempo.

Namun, di balik kemeriahan pengibaran bendera tersebut, ada satu target yang hingga kini masih menunggu kepastian: apakah aksi itu benar-benar akan tercatat sebagai rekor MURI?

Pengibaran Bendera di Puncak Dempo

Sehari setelah kegiatan, Selasa (18/8/2026), Wali Kota Pagar Alam H. Ludi Oliansyah bersama Wakil Wali Kota Hj. Bertha dan Ketua TP PKK Hj. Hera Parianti Ludi menjamu Tim Bentang Merah Putih di Griya Rumah Dinas Wali Kota, Gunung Gare.

Pertemuan itu menjadi bentuk apresiasi pemerintah daerah kepada tim, Brigade, serta berbagai pihak yang terlibat dalam misi pengibaran Bendera Merah Putih sepanjang 2.026 meter di puncak Gunung Dempo.

Wali Kota menyampaikan terima kasih atas keterlibatan seluruh pihak yang menyukseskan kegiatan tersebut.

Menurutnya, pengibaran bendera dengan panjang 2.026 meter di top Dempo diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni peringatan kemerdekaan.

Ada harapan yang lebih besar: momentum tersebut dapat ikut memperkuat daya tarik Gunung Dempo sebagai destinasi wisata pendakian.

Targetnya Bukan Sekadar Seremoni

Pemerintah Kota Pagar Alam melihat kegiatan tersebut memiliki potensi untuk menjadi bagian dari promosi wisata daerah.

Jika dikembangkan secara tepat, peristiwa pengibaran bendera dengan ukuran tidak biasa itu dapat menjadi cerita yang menarik bagi wisatawan. Gunung Dempo bukan hanya menjadi lokasi pendakian, tetapi juga memiliki pengalaman dan peristiwa yang dapat dikenang pengunjung.

Baca juga  Pagar Alam Mulai Salurkan 513 Ton Beras, 17.115 Keluarga Jadi Sasaran

Di titik inilah kegiatan tersebut mulai memiliki nilai lebih dari sekadar seremoni.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, sebuah momentum wisata tidak otomatis berubah menjadi daya tarik jangka panjang hanya karena sebuah kegiatan berlangsung besar.

Dibutuhkan pengelolaan lanjutan agar perhatian publik terhadap Dempo tidak berhenti setelah perayaan selesai.

Rekor MURI Masih Menjadi Pertanyaan

Wali Kota Pagar Alam berharap pengibaran bendera sepanjang 2.026 meter tersebut dapat tercatat dalam Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI), dengan kategori pengibaran bendera terpanjang di puncak gunung Indonesia.

Pernyataan tersebut sekaligus membuka satu persoalan penting.

Apakah kegiatan tersebut sudah memenuhi seluruh persyaratan pembuktian rekor?

Hingga kini, dari informasi yang disampaikan Pemerintah Kota Pagar Alam, belum ada penjelasan rinci mengenai status penilaian atau keputusan resmi MURI terhadap kegiatan tersebut.

Artinya, target rekor masih berada pada tahap harapan dan belum dapat diperlakukan sebagai sebuah capaian yang telah dipastikan.

Hal ini penting karena pencatatan sebuah rekor membutuhkan pembuktian terhadap kategori, ukuran, pelaksanaan, serta ketentuan yang berlaku.

Dengan demikian, istilah rekor perlu menunggu kepastian resmi agar tidak menimbulkan persepsi berbeda di tengah masyarakat.

Di Sisi Lain, Ada Pekerjaan Rumah Pariwisata

Di luar persoalan rekor, kegiatan tersebut menyisakan pertanyaan yang lebih panjang mengenai masa depan wisata Gunung Dempo.

Jika benar mampu meningkatkan minat wisatawan dan pendaki, bagaimana pemerintah daerah memastikan lonjakan kunjungan dapat dikelola dengan baik?

Persoalannya bukan hanya bagaimana mendatangkan wisatawan, tetapi juga bagaimana menjaga kawasan, keselamatan pendaki, kebersihan lingkungan, akses, serta manfaat ekonomi agar dapat dirasakan masyarakat sekitar.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan ketika sebuah destinasi hanya ramai pada momentum tertentu.

Baca juga  QRIS-PeKA 2026 Digelar di Pagar Alam, BI Dorong UMKM Masuk Ekosistem Digital

Karena itu, keberhasilan kegiatan ini seharusnya tidak hanya diukur dari banyaknya perhatian publik atau kemungkinan masuk rekor, tetapi juga dari apakah setelah acara selesai Gunung Dempo tetap menjadi tujuan yang menarik untuk dikunjungi.

Potensi Besar, Pembuktian Masih Berjalan

Kegiatan Bentang Merah Putih dengan panjang 2.026 meter memiliki nilai simbolik yang kuat. Angka tersebut sekaligus berkaitan dengan momentum kemerdekaan 2026 dan menjadikan kegiatan tersebut mudah diingat.

Tetapi, daya tarik sebuah destinasi pada akhirnya ditentukan oleh apa yang terjadi setelah sorotan kamera berakhir.

Apakah momentum tersebut mampu meningkatkan kunjungan?

Apakah pelaku usaha di sekitar kawasan ikut mendapatkan manfaat?

Dan yang tak kalah penting, apakah pengelolaan kawasan mampu mengimbangi meningkatnya perhatian terhadap Gunung Dempo?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut belum memiliki jawaban dalam informasi resmi yang disampaikan pemerintah.

Menunggu Bukti, Bukan Sekadar Klaim

Bagi Pagar Alam, pengibaran Bendera Merah Putih sepanjang 2.026 meter tentu menjadi momentum yang patut dicatat.

Namun, jika targetnya adalah rekor sekaligus penguatan sektor pariwisata, pekerjaan sebenarnya justru dimulai setelah kegiatan berakhir.

Rekor MURI membutuhkan pembuktian resmi. Sementara promosi wisata membutuhkan konsistensi dan pengelolaan dalam jangka panjang.

Hingga kini, belum semua pertanyaan mengenai dampak kegiatan tersebut dan status pencatatan rekor mendapatkan penjelasan rinci.

Apakah Bentang Merah Putih 2.026 meter nantinya benar-benar tercatat sebagai rekor, sekaligus mampu membawa lebih banyak wisatawan ke Gunung Dempo? Jawabannya masih menunggu pembuktian.

CimutNews akan terus melihat perkembangan pencatatan rekor tersebut serta dampaknya terhadap pariwisata Pagar Alam. (Hafis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here