
KOTA SUKABUMI, cimutnews.co.id — Di tengah laju pembangunan Kota Sukabumi, sebuah kawasan bersejarah kembali mencuri perhatian publik. Odeon Chinatown Soekaboemi atau yang lebih dikenal sebagai Kampung Cina Odeon menghadirkan wajah baru wisata kota yang mengangkat kembali jejak panjang komunitas Tionghoa yang telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah Sukabumi selama lebih dari satu abad.
Namun, di balik ramainya kunjungan wisatawan dan berbagai agenda budaya yang digelar, muncul pertanyaan yang masih menarik untuk dicermati. Apakah kebangkitan kawasan bersejarah ini benar-benar mampu menjaga warisan budaya sekaligus memberi dampak nyata bagi masyarakat sekitar?
Berada di Jalan Pajagalan, Kelurahan Nyomplong, Kecamatan Warudoyong, kawasan tersebut kini berkembang menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menawarkan perpaduan budaya Tionghoa dan Sunda dalam satu kawasan yang relatif masih terjaga.
Jejak Sejarah yang Membentuk Kota
Sejarah mencatat, komunitas Tionghoa mulai menetap di Sukabumi sejak masa kolonial Belanda. Mereka datang melalui jalur Cianjur dan Bogor sebelum berkembang sebagai kelompok pedagang yang berperan dalam aktivitas ekonomi daerah.
Perkembangan komunitas tersebut semakin pesat setelah jalur kereta api dibuka pada tahun 1882. Kehadiran transportasi modern kala itu mempercepat perdagangan sekaligus mendorong pertumbuhan kawasan perkebunan teh yang banyak melibatkan pengusaha keturunan Tionghoa.
Warisan sejarah tersebut masih dapat disaksikan hingga kini melalui berbagai bangunan tua yang tetap berdiri di kawasan Odeon Chinatown.
Salah satu ikon terpenting adalah Vihara Widhi Sakti yang dibangun pada tahun 1908.
Meski telah beberapa kali mengalami renovasi, bangunan ini tetap mempertahankan karakter arsitektur aslinya.
Di bagian luar, nuansa budaya Sunda masih terasa kuat.
Sementara ketika memasuki area dalam vihara, pengunjung disambut ornamen naga, lampion merah, altar sembahyang hingga berbagai patung dewa yang masih terawat.
Museum Menyimpan Cerita yang Tak Banyak Diketahui
Tak jauh dari vihara berdiri Museum Tionghoa Sukabumi yang menjadi ruang dokumentasi perjalanan komunitas Tionghoa di kota tersebut.
Museum ini diprakarsai oleh lima pemerhati sejarah dan budaya, yakni Satrio HP, Budiyanto HP (Budi Chung), Irman Firmansyah, Yudi Julianto, serta Vidi Jensen.
Empat lantai museum menghadirkan perjalanan sejarah secara kronologis.
Mulai dari proses kedatangan etnis Tionghoa ke Sukabumi, perkembangan kawasan Pecinan, kehidupan sosial masyarakat, hingga kontribusi mereka terhadap perkembangan ekonomi dan pembangunan kota.
Berbagai koleksi turut dipamerkan, mulai dari radio kuno, gramofon, peralatan rumah tangga tempo dulu, pakaian tradisional, mata uang lama, perlengkapan ritual keagamaan hingga dokumentasi foto-foto Sukabumi pada masa kolonial.
Namun Fakta di Lapangan Menunjukkan…
Kawasan heritage seperti Odeon Chinatown bukan hanya membutuhkan bangunan yang terawat, tetapi juga aktivitas yang mampu menjaga denyut kehidupan kawasan setiap hari.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, daya tarik kawasan masih banyak bergantung pada momentum tertentu, terutama saat perayaan Imlek maupun Cap Go Meh.
Pada momen tersebut ribuan masyarakat memadati kawasan untuk menyaksikan atraksi barongsai, liong, bazar UMKM hingga berbagai pertunjukan seni budaya.
Di luar agenda besar tersebut, tantangan menjaga konsistensi kunjungan wisatawan masih menjadi pekerjaan yang tidak sederhana bagi seluruh pihak yang terlibat dalam pengembangan kawasan.
Di sisi lain, keberadaan pusat kuliner dan UMKM menjadi salah satu upaya agar kawasan tetap hidup sepanjang tahun.
Tenant yang beroperasi menawarkan beragam pilihan makanan, mulai dari dimsum, bakmi, kopi tiam, jajanan tradisional hingga kuliner Nusantara.
Menariknya, seluruh tenant disebut telah mengantongi sertifikasi halal sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan masyarakat.
Peluang Besar, Tantangan Masih Ada
Sejumlah pengunjung menilai kawasan ini memiliki daya tarik berbeda dibanding destinasi wisata perkotaan lainnya karena menghadirkan pengalaman sejarah yang masih terasa autentik.
Sementara sejumlah pelaku UMKM berharap meningkatnya kunjungan wisata dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih merata, terutama bagi usaha kecil di sekitar kawasan.
Meski demikian, hingga kini, belum semua potensi kawasan sejarah tersebut diketahui secara luas oleh wisatawan luar daerah.
Promosi digital, keberlanjutan agenda budaya, serta penguatan narasi sejarah dinilai menjadi faktor penting agar kawasan tidak hanya ramai pada musim perayaan.
Pengamat pariwisata juga kerap menilai bahwa wisata berbasis sejarah membutuhkan pengelolaan yang berkelanjutan agar tidak sekadar menjadi lokasi swafoto, tetapi benar-benar menjadi ruang edukasi sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
Warisan Budaya yang Menjadi Identitas Kota
Keberadaan Odeon Chinatown Soekaboemi menunjukkan bahwa keberagaman budaya dapat menjadi modal penting dalam pembangunan sektor pariwisata.
Warisan sejarah yang masih bertahan lebih dari satu abad menjadi bukti perjalanan panjang Kota Sukabumi sebagai kota perdagangan yang tumbuh dari berbagai latar belakang budaya.
Namun, hal ini menimbulkan pertanyaan yang masih relevan hingga kini.
Mampukah kawasan bersejarah tersebut terus berkembang sebagai destinasi wisata unggulan yang memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus menjaga nilai sejarahnya di tengah perubahan zaman? Jawabannya akan sangat bergantung pada konsistensi pelestarian, kolaborasi berbagai pihak, serta minat generasi muda untuk terus mengenal sejarah kotanya sendiri. (Holil)

















