
PALEMBANG, cimutnews.co.id — Kegiatan Halal Bihalal Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kota Palembang kembali digelar dengan penuh kehangatan.
Namun di tengah semangat kebersamaan yang ditampilkan, muncul pertanyaan tentang sejauh mana organisasi keagamaan mampu menjawab tantangan sosial masyarakat saat ini.
Lalu, apakah kegiatan seremonial semacam ini sudah benar-benar memberi dampak luas bagi masyarakat?
Ketua Tim Penggerak PKK Kota Palembang, Dewi Sastrani Ratu Dewa, menghadiri kegiatan Halal Bihalal BKMT Kota Palembang yang berlangsung di Gedung Shinta, Kecamatan Seberang Ulu I, Rabu (15/4/2026).
Acara tersebut dihadiri anggota BKMT dari berbagai kecamatan di Kota Palembang, termasuk jajaran pengurus BKMT Provinsi Sumatera Selatan dan sejumlah pejabat daerah.
Dalam sambutannya, Dewi Sastrani menyampaikan apresiasi atas tingginya partisipasi anggota BKMT yang hadir dalam kegiatan tahunan tersebut.
“Ini menunjukkan semangat kebersamaan yang luar biasa,” ujarnya.
Ia juga memuji berbagai penampilan seni islami seperti rebana dan pengajian yang ditampilkan para anggota BKMT selama acara berlangsung.
Menurutnya, BKMT bukan hanya aktif dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga ikut menjaga pengembangan seni dan budaya islami di tengah masyarakat.
Selain itu, momentum Halal Bihalal disebut menjadi sarana mempererat silaturahmi dan memperkuat kekompakan organisasi perempuan berbasis keagamaan tersebut.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, tantangan sosial dan pembinaan masyarakat di perkotaan masih menjadi persoalan yang tidak sederhana.
Berdasarkan temuan di lapangan, sejumlah kegiatan majelis taklim memang aktif digelar hingga tingkat kecamatan dan kelurahan.
Akan tetapi, sebagian warga mengaku kegiatan keagamaan masih lebih banyak bersifat seremonial dan belum sepenuhnya menyentuh persoalan sosial sehari-hari, seperti pembinaan keluarga, ekonomi perempuan, hingga edukasi generasi muda.
“Acara seperti ini bagus untuk silaturahmi. Tapi masyarakat juga berharap kegiatan majelis taklim bisa lebih banyak menyentuh persoalan nyata di lingkungan,” ujar seorang warga Seberang Ulu I.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sejumlah anggota BKMT yang menganggap keberadaan organisasi tersebut sangat membantu menjaga hubungan sosial dan nilai-nilai keagamaan di tengah perubahan kehidupan perkotaan.
“Paling tidak ibu-ibu jadi punya wadah positif untuk belajar agama dan menjaga kebersamaan,” kata salah satu peserta kegiatan.
Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana organisasi keagamaan seperti BKMT dapat berkembang bukan hanya sebagai simbol kebersamaan, tetapi juga menjadi motor pemberdayaan masyarakat.
Pengamat sosial di Palembang menilai, majelis taklim memiliki potensi besar dalam membangun solidaritas sosial di tingkat akar rumput.
Namun, menurutnya, tantangan ke depan adalah bagaimana kegiatan organisasi dapat lebih adaptif terhadap persoalan sosial modern yang dihadapi masyarakat urban.
“Kalau hanya sebatas kegiatan rutin seremonial, dampaknya tentu terbatas. Yang dibutuhkan masyarakat sekarang adalah program nyata yang berkelanjutan,” ujarnya.
Hingga kini, belum semua harapan terhadap peran organisasi keagamaan di tengah masyarakat dapat terjawab sepenuhnya.
Kegiatan Halal Bihalal BKMT memang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Namun publik masih menunggu sejauh mana organisasi semacam ini mampu memberi dampak nyata di luar agenda seremonial tahunan. (Poerba)

















