Beranda Banyuasin Karhutla Banyuasin Jadi Sorotan, Empat Posko Disiagakan

Karhutla Banyuasin Jadi Sorotan, Empat Posko Disiagakan

13
0
Bupati Banyuasin Askolani menerima audiensi rombongan Perwira Siswa Seskoad LXVIII TNI Penyuluh Tahun 2026 di Guest House Rumah Dinas Bupati Banyuasin, Kamis (3/9/2026). (Foto: Noto/cimutnews.co.id)

PANGKALAN BALAI, cimutnews.co.id — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali menjadi perhatian di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Pemerintah daerah kini memperkuat koordinasi dengan jajaran TNI, sementara empat posko terpadu disiapkan di sejumlah wilayah yang dinilai rawan kebakaran.

Langkah tersebut mencuat dalam audiensi Bupati Banyuasin Dr. H. Askolani, SH., MH bersama rombongan Perwira Siswa (Pasis) Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) LXVIII TNI Penyuluh Tahun 2026 di Guest House Rumah Dinas Bupati Banyuasin, Kamis (3/9/2026).

Pertemuan itu bukan sekadar agenda silaturahmi. Para Pasis Seskoad datang untuk menggali informasi mengenai kondisi daerah, termasuk strategi pencegahan dan penanganan Karhutla yang menjadi bagian dari bahan penyempurnaan tesis mereka.

Ancaman Karhutla dan Strategi yang Disiapkan

Bupati Banyuasin Askolani mengatakan pemerintah daerah terbuka terhadap masukan dari berbagai pihak, terutama dalam memperkuat langkah mitigasi dan penanganan Karhutla.

“Terima kasih atas kolaborasinya. Kami sangat terbuka untuk mendapatkan masukan, terutama terkait apa saja yang diperlukan dan dukungan seperti apa yang bisa diberikan pemerintah daerah,” ujar Askolani.

Menurutnya, komunikasi lintas lembaga menjadi salah satu bagian penting dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan.

Pemkab Banyuasin juga mendorong keterlibatan berbagai pihak untuk memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kawasan hutan serta mencegah munculnya titik api.

Namun, persoalan Karhutla tidak berhenti pada koordinasi di ruang pemerintahan.

Empat Posko Jadi Benteng Awal

Salah satu langkah konkret yang disampaikan Pemkab Banyuasin adalah pembentukan empat posko terpadu di wilayah yang disebut rawan Karhutla.

Keempatnya berada di Kecamatan Rantau Bayur, Banyuasin III, Sembawa, dan Suak Tapeh.

Posko tersebut disiapkan selama dua bulan, yakni pada Agustus dan September, sebagai bagian dari upaya pemerintah daerah menghadapi potensi Karhutla.

Baca juga  Ribuan Peserta Ramaikan Fun Run Saat Citra Humanis Polri Terus Diuji

Keberadaan posko menjadi penting karena penanganan kebakaran membutuhkan kecepatan. Semakin lambat sebuah titik api terdeteksi dan ditangani, semakin besar pula potensi dampaknya terhadap lahan, lingkungan, aktivitas masyarakat hingga kualitas udara.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, keberadaan posko saja belum otomatis menghilangkan risiko kebakaran.

Ada tantangan yang lebih besar: bagaimana memastikan sistem pencegahan benar-benar bekerja sebelum api membesar.

Cuaca Ekstrem Disebut Jadi Tantangan

Dosen Seskoad Kolonel Inf Sapta Budi Purnama mengatakan audiensi tersebut membahas upaya kolaboratif dan strategi komprehensif dalam penanganan Karhutla di Banyuasin.

Ia menyebut kondisi cuaca ekstrem menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan situasi Karhutla saat ini.

Pembahasan itu sekaligus menjadi bekal bagi para Pasis ketika nantinya menjalankan tugas sebagai unsur pimpinan bina kesatuan yang berkaitan dengan penanganan kebakaran hutan.

“Melalui kunjungan ini diharapkan dapat semakin mempererat hubungan kelembagaan antara Pemkab Banyuasin dan Seskoad, serta menghasilkan masukan-masukan konstruktif bagi penguatan kapasitas daerah dalam pencegahan dan penanggulangan Karhutla secara berkelanjutan,” kata Sapta.

Di sisi lain, pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan Karhutla membutuhkan pendekatan yang lebih luas daripada sekadar pemadaman ketika api sudah muncul.

Ketika Pencegahan Menjadi Pertaruhan

Karhutla memiliki karakter berbeda dengan bencana yang datang secara tiba-tiba. Pencegahannya sangat bergantung pada kesiapsiagaan, pemantauan, respons cepat, kondisi lahan, cuaca, serta perilaku manusia di sekitar kawasan rawan.

Karena itu, empat posko terpadu yang disiapkan Pemkab Banyuasin dapat menjadi salah satu instrumen penting.

Tetapi efektivitasnya tetap akan sangat ditentukan oleh bagaimana posko tersebut bekerja di lapangan.

Apakah pemantauan berlangsung secara konsisten?

Seberapa cepat laporan potensi kebakaran dapat ditindaklanjuti?

Dan apakah edukasi kepada masyarakat benar-benar mampu menekan risiko munculnya titik api?

Baca juga  Pemkab Banyuasin Siapkan THR ASN 2026, Tinggal Tunggu Juknis Kemenkeu Sebelum Dicairkan

Hal ini menimbulkan pertanyaan yang lebih besar mengenai ukuran keberhasilan penanganan Karhutla.

Bukan hanya berapa banyak api yang berhasil dipadamkan, tetapi juga berapa banyak potensi kebakaran yang berhasil dicegah sejak awal.

Sinergi Pemerintah dan TNI Diuji di Lapangan

Audiensi Pemkab Banyuasin dengan Pasis Seskoad menunjukkan adanya upaya memperkuat komunikasi antara pemerintah daerah dan unsur TNI.

Kolaborasi semacam ini dibutuhkan karena Karhutla bukan persoalan yang dapat diselesaikan oleh satu institusi saja.

Pemerintah daerah memiliki peran dalam kebijakan, fasilitas dan edukasi. Sementara unsur lain memiliki kapasitas dukungan sesuai tugas dan kewenangannya.

Di tingkat masyarakat, kesadaran untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran juga menjadi bagian penting dari rantai pencegahan.

Hingga kini, belum semua tantangan Karhutla dapat dianggap selesai hanya dengan pembentukan posko dan penguatan koordinasi.

Justru periode Agustus-September menjadi momentum untuk melihat apakah strategi yang telah disiapkan mampu menjawab kondisi sebenarnya ketika ancaman kebakaran muncul. (Noto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here