Beranda Ogan Komering Ilir Normalisasi Sungai Belanti OKI: PUPR Turunkan Alat Berat Atasi Eceng Gondok, Cegah...

Normalisasi Sungai Belanti OKI: PUPR Turunkan Alat Berat Atasi Eceng Gondok, Cegah Ancaman Banjir

21
0
1. Alat berat milik Dinas PUPR OKI saat mengangkat tumpukan eceng gondok di Sungai Belanti, Desa Belanti, Kecamatan Sirah Pulau Padang.(Foto: Asep/cimutnews.co.id)

OKI, cimutnews.co.idnormalisasi Sungai Belanti OKI dilakukan Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) dengan membersihkan tumpukan gulma yang menutup aliran sungai di kawasan Jembatan Desa Belanti, Kecamatan Sirah Pulau Padang. Langkah ini diambil sebagai respons atas kondisi eceng gondok yang semakin masif dan berpotensi memicu banjir saat intensitas hujan meningkat.

Dalam konteks nasional, upaya normalisasi sungai merupakan bagian dari strategi pengendalian banjir yang didorong pemerintah pusat melalui penguatan pengelolaan sumber daya air. Program ini sejalan dengan kebijakan pengendalian daerah aliran sungai (DAS), pengurangan risiko bencana, serta peningkatan kualitas lingkungan hidup. Kolaborasi antara pemerintah daerah dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) menjadi kunci dalam memastikan penanganan berjalan efektif dan berkelanjutan.

Data di lapangan menunjukkan, hamparan eceng gondok yang menutupi aliran Sungai Belanti diperkirakan mencapai luas sekitar satu hektare dengan ketebalan hingga satu meter. Kondisi ini dinilai cukup mengkhawatirkan karena berpotensi menghambat aliran air secara signifikan, terutama saat debit air meningkat akibat curah hujan tinggi.

Kepala Dinas PUPR OKI, Man Winardi, didampingi Kepala Bidang Sumber Daya Air Amir Muhyidin, menjelaskan bahwa pembersihan dilakukan secara bertahap dengan kombinasi metode manual dan penggunaan alat berat.

“Untuk gulma kecil kita biarkan hanyut mengikuti arus air. Sedangkan yang sudah padat dan bercampur sampah kita angkut ke pinggir sungai, kemudian dimasukkan ke dump truk untuk dibuang ke tempat pembuangan,” jelas Man Winardi, Sabtu (28/2).

Ia menambahkan, upaya pembersihan sebenarnya telah dilakukan sejak beberapa bulan terakhir melalui kegiatan gotong royong bersama masyarakat. Namun, pertumbuhan eceng gondok yang sangat cepat membuat metode manual tidak lagi efektif, sehingga diperlukan intervensi alat berat untuk mempercepat proses normalisasi.

Baca juga  Ramadan, Inflasi di OKI Terjaga dalam Kisaran Sasaran

Secara investigatif, fenomena ledakan eceng gondok di sejumlah wilayah sungai di Indonesia kerap dikaitkan dengan tingginya kandungan nutrien di perairan akibat limbah domestik maupun aktivitas pertanian. Selain itu, minimnya pengelolaan sampah di bantaran sungai juga memperparah kondisi, karena gulma mudah bercampur dengan sampah dan membentuk endapan padat yang menyumbat aliran air.

Di Sungai Belanti, kondisi serupa mulai teridentifikasi. Selain gulma, petugas juga menemukan campuran sampah rumah tangga yang mempercepat penumpukan. Hal ini menandakan bahwa penanganan tidak cukup hanya melalui pembersihan fisik, tetapi juga memerlukan pendekatan preventif berbasis kesadaran masyarakat dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik.

PUPR OKI memastikan bahwa proses normalisasi akan terus dilakukan hingga aliran sungai benar-benar kembali lancar. Material gulma yang telah diangkat diangkut menggunakan dump truk ke lokasi pembuangan, sementara gulma kecil dibiarkan terbawa arus agar tidak kembali menumpuk di titik yang sama.

“Pekerjaan ini masih terus berjalan sampai sungai benar-benar bersih,” tegasnya.

Untuk penanganan jangka panjang, Pemerintah Kabupaten OKI juga berencana berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera VII guna mendapatkan dukungan teknis serta solusi komprehensif, termasuk kemungkinan pengendalian pertumbuhan gulma secara berkelanjutan.

Selain itu, pemerintah desa bersama masyarakat setempat akan tetap dilibatkan dalam pengawasan lingkungan, terutama dalam menjaga kebersihan sungai dan mencegah pembuangan sampah sembarangan.

Pemerintah daerah mengimbau masyarakat agar ikut berperan aktif menjaga ekosistem sungai. Edukasi terkait dampak pembuangan sampah dan pentingnya menjaga aliran air menjadi bagian penting dalam mencegah terulangnya kondisi serupa di masa mendatang.

Sebagai penutup, langkah normalisasi Sungai Belanti menjadi bagian dari upaya mitigasi risiko banjir yang perlu didukung semua pihak. Pemerintah daerah menegaskan komitmennya untuk terus melakukan penanganan secara bertahap dan berkelanjutan, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, transparansi, serta sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku. Upaya ini diharapkan mampu menjaga fungsi sungai sebagai infrastruktur vital sekaligus melindungi masyarakat dari potensi bencana. (Asep)