
PALI, cimutnews.co.id — UMKM jamur tiram Banyuasin menjadi perhatian dalam upaya penguatan ekonomi daerah berbasis potensi lokal. Wakil Bupati Banyuasin, Netta Indian, S.P, meninjau langsung kegiatan produksi di Koperasi BMT Trans Mekar Sari Mandiri, Desa Mulya Sari, KTM Telang, Kamis (26/02/2026), sebagai bagian dari agenda kerja usai memantau Operasi Pasar Murah dan Pelayanan Terpadu di Kecamatan Tanjung Lago.
Dalam konteks nasional, pengembangan UMKM berbasis hilirisasi pangan menjadi salah satu fokus pemerintah pusat dalam mendorong ketahanan ekonomi masyarakat. Program ini sejalan dengan kebijakan penguatan ekonomi kerakyatan, peningkatan nilai tambah produk lokal, serta pengendalian inflasi daerah melalui stabilisasi pasokan pangan. Pemerintah daerah didorong untuk memperkuat sektor UMKM sebagai tulang punggung ekonomi, terutama di wilayah pedesaan.
Data di lapangan menunjukkan bahwa Koperasi BMT Trans Mekar Sari Mandiri telah mengembangkan berbagai produk olahan jamur tiram dengan nilai tambah tinggi. Produk tersebut meliputi lauk siap saji seperti rendang jamur, abon jamur, dan dimsum jamur, hingga camilan seperti stik jamur, jamur crispy, peyek kacang, serta produk turunan lain seperti kaldu jamur, bipang crispy, dan keripik pisang kepok. Seluruh proses produksi dilakukan secara higienis di rumah produksi setempat.
Dalam kunjungannya, Wakil Bupati Netta Indian melihat langsung proses hilirisasi jamur tiram, mulai dari bahan baku hingga menjadi produk siap konsumsi. Ia menilai langkah tersebut sebagai bentuk inovasi ekonomi kreatif yang mampu meningkatkan daya saing produk lokal.
“Pemanfaatan bahan baku lokal seperti jamur tiram menjadi produk siap saji tidak hanya memperpanjang masa simpan pangan, tetapi juga meningkatkan taraf ekonomi masyarakat,” ujar Netta.
Ia juga mengapresiasi peran koperasi dalam menggerakkan ekonomi warga desa serta membuka peluang usaha baru. Menurutnya, penguatan kelembagaan seperti koperasi menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan UMKM.
Secara investigatif, pengembangan UMKM berbasis jamur tiram di kawasan KTM Telang menunjukkan adanya potensi besar yang masih perlu didukung secara maksimal. Beberapa tantangan yang teridentifikasi antara lain akses pasar yang masih terbatas, kebutuhan peningkatan kapasitas produksi, serta penguatan branding dan pemasaran digital.
Selain itu, keberlanjutan pasokan bahan baku juga menjadi perhatian, mengingat produksi jamur tiram sangat bergantung pada manajemen budidaya yang konsisten. Tanpa dukungan pelatihan dan pendampingan teknis yang berkelanjutan, pelaku UMKM berpotensi mengalami kendala dalam menjaga kualitas dan kuantitas produksi.
Di sisi lain, sinergi antara pemerintah daerah, koperasi, dan pelaku usaha menjadi kunci dalam memperluas jangkauan produk UMKM. Dukungan berupa akses permodalan, fasilitasi sertifikasi produk, hingga promosi melalui platform digital dinilai penting untuk meningkatkan daya saing di pasar yang lebih luas.
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk mendukung produk lokal sebagai bagian dari penguatan ekonomi daerah. Konsumsi produk UMKM dinilai tidak hanya membantu pelaku usaha, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi di tingkat desa.
“Bangga dan cintai produk lokal, karena dari situlah ekonomi masyarakat bisa tumbuh dan berkembang,” imbuh Netta.
Ke depan, diharapkan pengembangan UMKM berbasis hilirisasi pangan seperti ini dapat menjadi model bagi desa-desa lain di Kabupaten Banyuasin. Pendekatan berbasis potensi lokal dinilai lebih adaptif terhadap kondisi daerah serta mampu menciptakan lapangan kerja baru.
Sebagai penutup, upaya penguatan UMKM jamur tiram di Banyuasin mencerminkan komitmen pemerintah daerah dalam mendorong ekonomi berbasis masyarakat. Meski berbagai potensi telah terlihat, pengembangan sektor ini tetap memerlukan dukungan berkelanjutan, pengawasan yang akuntabel, serta kolaborasi lintas sektor agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata dan berkelanjutan, sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (Edi)

















