
JENEWA, cimutnews.co.id — Perempuan dan transformasi dunia kerja menjadi sorotan dalam Konferensi Perburuhan Internasional (International Labour Conference/ILC) ke-114 di Jenewa, Swiss. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan perempuan harus berada di garis depan menghadapi perubahan besar yang dipicu digitalisasi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), transisi ekonomi hijau, dan perubahan demografi global.
Pernyataan tersebut disampaikan Yassierli di sela-sela agenda ILC ke-114 pada Kamis (11/6/2026). Menurutnya, kesetaraan gender tidak cukup hanya diukur dari terbukanya kesempatan kerja, tetapi juga dari akses perempuan terhadap keterampilan masa depan, perlindungan kerja, hingga peluang pengembangan karier.
Kesetaraan Gender Jadi Kunci Transformasi Dunia Kerja
Yassierli menilai transformasi dunia kerja yang sedang berlangsung akan menciptakan peluang sekaligus tantangan baru bagi tenaga kerja perempuan.
Menurut dia, perempuan harus memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan, pelatihan vokasi, literasi digital, dan berbagai program peningkatan kompetensi agar tidak tertinggal dalam persaingan tenaga kerja modern.
“Kesetaraan gender di dunia kerja bukan hanya soal memberi kesempatan yang sama, tetapi memastikan perempuan benar-benar memiliki akses terhadap keterampilan, pekerjaan yang aman, perlindungan yang memadai, dan ruang untuk berkembang,” kata Yassierli.
Tantangan Gender Masih Bersifat Kultural
Meski berbagai kebijakan telah diterapkan, ketimpangan gender di dunia kerja masih ditemukan di banyak negara, termasuk Indonesia.
Menurut Kementerian Ketenagakerjaan, sejumlah faktor yang masih menjadi hambatan antara lain:
- Stereotip gender dalam pemilihan profesi.
- Pandangan bahwa pekerjaan tertentu hanya cocok untuk laki-laki atau perempuan.
- Beban pekerjaan domestik dan pengasuhan yang lebih banyak ditanggung perempuan.
- Kesenjangan upah antara pekerja laki-laki dan perempuan.
- Terbatasnya akses perempuan menuju posisi kepemimpinan.
- Kasus kekerasan dan pelecehan di tempat kerja.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesetaraan gender tidak hanya berkaitan dengan regulasi, tetapi juga perubahan budaya dan pola pikir yang berkembang di masyarakat.
Era AI Membuka Peluang Sekaligus Risiko Baru
Perkembangan teknologi digital dan AI dinilai mampu membuka peluang kerja yang lebih fleksibel bagi perempuan. Sistem kerja jarak jauh, ekonomi digital, hingga profesi berbasis teknologi memberi kesempatan lebih luas bagi perempuan untuk tetap produktif tanpa terbatas lokasi.
Namun di sisi lain, kemajuan teknologi juga berpotensi memperlebar kesenjangan apabila perempuan tidak memiliki akses yang memadai terhadap keterampilan digital.
Literasi Digital Jadi Faktor Penentu
Yassierli menegaskan perempuan perlu memperoleh akses yang lebih luas terhadap:
- Literasi digital.
- Literasi keuangan.
- Pendidikan sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).
- Pelatihan vokasi.
- Program reskilling dan upskilling.
- Pembelajaran sepanjang hayat.
Dengan bekal tersebut, perempuan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga dapat berperan sebagai pengembang inovasi, pelaku usaha, pencipta lapangan kerja, hingga penggerak ekonomi keluarga dan komunitas.
Pemerintah Perkuat Perlindungan Perempuan Pekerja
Dalam forum internasional tersebut, pemerintah juga menegaskan komitmennya terhadap perlindungan perempuan di dunia kerja.
Berdasarkan keterangan Kementerian Ketenagakerjaan, Indonesia telah meratifikasi sejumlah instrumen internasional penting, di antaranya Konvensi ILO Nomor 100 tentang Pengupahan yang Sama serta Konvensi ILO Nomor 111 mengenai Diskriminasi dalam Pekerjaan dan Jabatan.
Selain itu, pemerintah telah menerbitkan Keputusan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 88 Tahun 2023 tentang Pedoman Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Tempat Kerja.
Perlindungan terhadap pekerja perempuan juga diperkuat melalui implementasi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2024 tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak pada Fase Seribu Hari Pertama Kehidupan.
Hubungan Industrial Harus Ramah Perempuan
Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja, Indah Anggoro Putri, menegaskan kesetaraan gender harus diterapkan secara nyata dalam hubungan industrial sehari-hari.
Menurut Indah, lingkungan kerja yang aman dan bermartabat hanya dapat diwujudkan apabila pemerintah, pengusaha, dan pekerja membangun dialog sosial yang kuat serta berkelanjutan.
“Perempuan harus memiliki ruang yang aman, setara, dan bermartabat di tempat kerja,” ujar Indah.
Dibanding Tren Global, Tantangan Indonesia Masih Besar
Sejumlah laporan organisasi ketenagakerjaan internasional menunjukkan partisipasi perempuan dalam sektor teknologi dan kepemimpinan perusahaan secara global masih berada di bawah laki-laki.
Di Indonesia, tren serupa juga masih terlihat pada sektor digital, manufaktur teknologi tinggi, dan jabatan strategis perusahaan. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri mengingat ekonomi masa depan diperkirakan semakin bergantung pada penguasaan teknologi dan kecerdasan buatan.
Jika kesenjangan akses pendidikan dan keterampilan tidak segera diatasi, perempuan berpotensi kehilangan peluang dalam sektor pekerjaan baru yang tumbuh akibat revolusi digital.
AI Bisa Menjadi Alat Kesetaraan atau Sumber Ketimpangan Baru
Transformasi dunia kerja saat ini berbeda dibanding gelombang perubahan industri sebelumnya. Jika dahulu akses terhadap pekerjaan lebih banyak dipengaruhi pendidikan formal, kini kemampuan beradaptasi terhadap teknologi menjadi faktor utama.
Dalam konteks tersebut, perempuan menghadapi persimpangan penting. AI dapat membuka kesempatan kerja yang lebih fleksibel dan inklusif, tetapi sekaligus menciptakan kesenjangan baru apabila akses pelatihan dan literasi digital tidak merata.
Dalam jangka pendek, investasi pada pelatihan digital bagi perempuan akan meningkatkan daya saing tenaga kerja nasional. Dalam jangka panjang, langkah tersebut berpotensi memperbesar kontribusi perempuan terhadap produktivitas ekonomi dan pertumbuhan sektor berbasis inovasi.
Persoalan Utamanya Bukan Lagi Akses Kerja, Tetapi Akses Keterampilan
Selama bertahun-tahun, isu ketenagakerjaan perempuan sering berfokus pada kesempatan memperoleh pekerjaan. Namun memasuki era AI, tantangan yang lebih krusial justru terletak pada akses terhadap keterampilan masa depan.
Perempuan yang mampu menguasai teknologi tidak hanya menjadi pekerja, tetapi juga berpotensi menjadi pencipta solusi digital, pemimpin bisnis baru, hingga penggerak transformasi ekonomi berbasis pengetahuan. Inilah alasan mengapa isu kesetaraan gender kini tidak bisa dipisahkan dari agenda pengembangan keterampilan digital nasional.
Pernyataan Menaker Yassierli di ILC ke-114 menegaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam menentukan arah transformasi dunia kerja di masa depan. Dukungan kebijakan, perlindungan yang kuat, serta akses terhadap keterampilan digital menjadi fondasi utama untuk memastikan perempuan tidak hanya menjadi bagian dari perubahan, tetapi juga pemimpinnya.
Ke depan, keberhasilan Indonesia menghadapi era AI dan ekonomi hijau tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi, melainkan juga oleh kemampuan menciptakan dunia kerja yang lebih inklusif, aman, dan setara bagi seluruh pekerja. (Timred/CN)

















