
BANDUNG, CimutNews.co.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mulai melakukan penataan kawasan Simpang Lima sebagai langkah awal mempercantik salah satu ruang publik sekaligus kawasan bersejarah Kota Bandung menjelang penyelenggaraan Festival Asia Afrika pada 10 Juli 2026.
Penataan tersebut difokuskan pada peningkatan kenyamanan pejalan kaki, penataan bangunan cagar budaya, kebersihan lingkungan, hingga pengendalian parkir liar agar kawasan pusat kota lebih representatif bagi masyarakat maupun wisatawan.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan penataan yang dilakukan saat ini bersifat sementara karena revitalisasi menyeluruh koridor Jalan Ahmad Yani hingga Jalan Asia Afrika masih menunggu penyelesaian proyek Bus Rapid Transit (BRT) yang ditargetkan berlangsung hingga 2027.
“Keinginan kami sebenarnya sejak tahun lalu kawasan ini dibereskan secara menyeluruh. Namun karena ruas Ahmad Yani sampai Asia Afrika merupakan koridor BRT maka penataannya harus berjalan bersamaan dengan proyek tersebut,” kata Farhan.
Menurutnya, pembangunan sistem transportasi massal tersebut masih memasuki tahap pembangunan halte serta sosialisasi kepada masyarakat sebelum memasuki pekerjaan penataan kawasan secara terpadu.
Farhan meminta masyarakat bersabar karena setelah proyek transportasi selesai, koridor Jalan Ahmad Yani, Jalan Asia Afrika, Jalan Jenderal Sudirman hingga Jalan Otto Iskandardinata akan ditata menjadi satu kesatuan kawasan perkotaan yang lebih modern tanpa menghilangkan nilai sejarahnya.
Kawasan Cagar Budaya Menjadi Prioritas Penataan
Sebagai kota yang memiliki sejarah panjang sejak era kolonial hingga Konferensi Asia Afrika 1955, Bandung memiliki sejumlah bangunan cagar budaya yang tersebar di pusat kota.
Karena itu, Pemkot Bandung memprioritaskan penataan bangunan-bangunan bersejarah yang berada di sekitar Simpang Lima, termasuk Gedung Pensil dan Gedung Vigano, agar tampil lebih bersih, tertata, dan menarik sebagai bagian dari wajah kota.
Selain merapikan bagian depan bangunan, pemerintah juga membersihkan kawasan dari sampah serta menertibkan aktivitas yang mengganggu fungsi ruang publik.
“Sekarang bagian depannya rapi dulu. Simpang Lima ini dikelilingi banyak bangunan cagar budaya jadi harus kita jaga dan percantik,” ujar Farhan.
Pemkot juga akan memasang bangku taman, lampu dekoratif, memperbaiki estetika trotoar, serta membongkar tiang reklame yang menempel pada bangunan cagar budaya secara hati-hati agar tidak merusak struktur bangunan bersejarah.
Rekayasa Lalu Lintas Selama Festival Asia Afrika
Untuk mendukung kelancaran Festival Asia Afrika 2026, Pemkot Bandung menyiapkan rekayasa lalu lintas di sejumlah ruas jalan utama, antara lain:
- Jalan Naripan;
- Jalan Sunda;
- Jalan Asia Afrika;
- Jalan Sukarno;
- Jalan Braga.
Sementara itu, lokasi parkir kendaraan dipusatkan di kawasan sekitar Cikapundung dan Naripan guna mengurangi kepadatan lalu lintas di pusat kegiatan festival.
Rangkaian Festival Asia Afrika dijadwalkan dimulai pukul 08.00 WIB melalui pawai budaya hingga sekitar pukul 11.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan berbagai kegiatan di kawasan Braga dan Jalan Sukarno.
Pemkot Bandung juga menegaskan akan menindak tegas praktik parkir liar maupun pungutan liar yang berpotensi merugikan pengunjung.
“Kalau ada parkir liar langsung kita tindak. Kalau ada yang melakukan pungutan liar atau mengetok parkir kendaraan juga langsung kita tindak,” tegas Farhan.
Penataan Sejalan dengan Pengembangan Transportasi Berkelanjutan
Pengembangan koridor Simpang Lima tidak berdiri sendiri. Penataan tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang Kota Bandung dalam membangun sistem transportasi publik yang lebih terintegrasi melalui pengembangan Bus Rapid Transit (BRT).
Pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan selama beberapa tahun terakhir mendorong pengembangan angkutan massal berbasis jalan di berbagai kota besar sebagai bagian dari upaya mengurangi kemacetan, meningkatkan mobilitas masyarakat, sekaligus menekan emisi karbon dari sektor transportasi.
Integrasi antara pembangunan transportasi publik dengan revitalisasi kawasan perkotaan juga menjadi salah satu pendekatan yang banyak diterapkan di berbagai kota besar dunia karena mampu meningkatkan kualitas ruang publik sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Kawasan Asia Afrika Memiliki Nilai Sejarah Nasional
Koridor Jalan Asia Afrika merupakan salah satu kawasan paling bersejarah di Indonesia.
Di kawasan inilah berlangsung Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955, yang menjadi tonggak penting diplomasi internasional dan melahirkan semangat kerja sama negara-negara Asia dan Afrika.
Karena nilai sejarah tersebut, pemerintah daerah bersama pemerintah pusat terus mendorong pelestarian kawasan heritage Bandung melalui berbagai program revitalisasi agar tetap menjadi destinasi wisata sejarah sekaligus ruang publik yang nyaman.
Pelestarian bangunan cagar budaya juga sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, yang menegaskan pentingnya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan bangunan bersejarah secara berkelanjutan.
Revitalisasi Bukan Sekadar Mempercantik Kota
Penataan Simpang Lima memiliki arti yang lebih luas dibanding sekadar memperbaiki tampilan kawasan menjelang festival.
Perbaikan ruang publik yang terintegrasi dengan transportasi massal berpotensi meningkatkan kenyamanan mobilitas warga, memperbesar aktivitas ekonomi kawasan, serta memperkuat citra Bandung sebagai kota wisata berbasis sejarah dan budaya.
Di sisi lain, keberhasilan revitalisasi sangat bergantung pada konsistensi penegakan aturan di lapangan, terutama terhadap parkir liar, reklame yang tidak sesuai ketentuan, serta pemanfaatan trotoar yang kerap mengganggu pejalan kaki.
Apabila penataan fisik tidak diikuti pengelolaan kawasan secara berkelanjutan, maka kualitas ruang publik berisiko kembali menurun setelah kegiatan berskala besar selesai.
Sebaliknya, apabila revitalisasi koridor heritage berjalan sesuai rencana hingga 2027, kawasan Simpang Lima dan Asia Afrika berpeluang menjadi contoh pengembangan kota yang mengintegrasikan transportasi publik, pelestarian sejarah, pariwisata, dan aktivitas ekonomi masyarakat dalam satu kawasan terpadu. (Siti)

















