Beranda Ogan Komering Ilir Penyuluh KB SP Padang Perkuat Edukasi Pencegahan Stunting di Posyandu, Dorong Target...

Penyuluh KB SP Padang Perkuat Edukasi Pencegahan Stunting di Posyandu, Dorong Target Generasi Sehat di OKI

11
0
Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Kecamatan SP Padang memberikan sosialisasi pencegahan stunting kepada ibu hamil, ibu balita, dan keluarga saat kegiatan Posyandu di Desa Batu Ampar, Kabupaten Ogan Komering Ilir. Edukasi dilakukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan gizi dan pemantauan tumbuh kembang anak sejak dini. (Foto: Asep/CimutNews).

OGAN KOMERING ILIR, CimutNews.co.id – Upaya percepatan penurunan stunting di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Salah satunya dilakukan Balai Penyuluh Keluarga Berencana (KB) Kecamatan Sirah Pulau Padang (SP Padang) yang mengintegrasikan sosialisasi pencegahan stunting dengan pelayanan rutin Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di berbagai desa, termasuk Desa Batu Ampar.

Strategi tersebut dipilih agar edukasi dapat menjangkau langsung kelompok sasaran utama, yakni ibu hamil, ibu menyusui, orang tua balita, serta keluarga yang memiliki anak usia 0–59 bulan. Dengan memanfaatkan momentum pelaksanaan Posyandu, penyuluh dapat menyampaikan informasi kesehatan sekaligus mendampingi masyarakat yang sedang mengikuti pemeriksaan tumbuh kembang anak dan imunisasi.

Langkah ini menjadi bagian dari pendekatan promotif dan preventif yang kini menjadi fokus pemerintah dalam mempercepat penurunan prevalensi stunting melalui peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dasar dan edukasi keluarga.

Edukasi Menjangkau Sasaran Utama Keluarga

Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Kecamatan SP Padang, Nuril Komari, S.Sos, mengatakan stunting masih menjadi salah satu persoalan prioritas pembangunan sumber daya manusia karena dampaknya berlangsung hingga jangka panjang.

Menurutnya, anak yang mengalami stunting tidak hanya mengalami hambatan pertumbuhan fisik, tetapi juga berpotensi mengalami gangguan perkembangan otak, penurunan kemampuan belajar, hingga meningkatnya risiko penyakit ketika dewasa.

“Kami sengaja melaksanakan sosialisasi ini tepat saat berlangsungnya Posyandu, karena di saat itulah banyak ibu dan keluarga berkumpul. Dengan begitu pesan-pesan penting yang kami sampaikan bisa diterima langsung oleh sasaran tanpa harus mengumpulkan mereka secara terpisah,” ujar Nuril, Selasa (14/7/2026).

Dalam penyuluhan tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai penyebab stunting, mulai dari kurangnya asupan gizi selama kehamilan, pemberian makan yang tidak sesuai kebutuhan anak, rendahnya pengetahuan mengenai pola asuh, hingga faktor sanitasi dan kebersihan lingkungan.

Baca juga  SMKIT Bina Bangsa Kayuagung Kembangkan Inovasi “Hollow LED”, Bukti Kreativitas dan Kemandirian Siswa di Era Teknologi

Selain teori, para peserta juga mendapatkan edukasi mengenai cara memantau pertumbuhan anak melalui pengukuran tinggi dan berat badan secara berkala, pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin, serta deteksi dini apabila ditemukan gangguan pertumbuhan.

Pentingnya Peran Keluarga dalam Mencegah Stunting

Nuril menjelaskan, pencegahan stunting harus dimulai sejak masa kehamilan melalui pemenuhan gizi ibu, pemeriksaan kehamilan secara rutin, serta konsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Setelah bayi lahir, upaya pencegahan dilanjutkan dengan pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan, pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) bergizi seimbang, imunisasi lengkap, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.

Ia juga menekankan pentingnya pengaturan jarak kelahiran sebagai bagian dari pembangunan keluarga berkualitas.

“Selain itu, perlu kami sampaikan juga dan kami ingatkan akan pentingnya menjaga jarak kelahiran anak agar kesehatan ibu dan anak tetap terjaga, serta keterlibatan seluruh anggota keluarga khususnya suami dalam mendukung pemenuhan kebutuhan gizi dan kesehatan istri maupun anak-anak,” jelasnya.

TP PKK: Sinergi Desa dan Penyuluh KB Sangat Dibutuhkan

Ketua TP PKK Desa Batu Ampar, Sri Melati, mengapresiasi langkah Balai Penyuluh KB Kecamatan SP Padang yang terus melakukan edukasi secara berkelanjutan kepada masyarakat.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah desa, kader Posyandu, bidan desa, dan penyuluh KB akan memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pentingnya membangun keluarga sehat sejak dini.

“Kehadiran penyuluh KB melengkapi informasi yang telah diberikan oleh para petugas kesehatan di desa seperti kader Posyandu dan bidan desa. Sehingga para ibu tidak hanya mengetahui kondisi kesehatan anaknya hari ini, tetapi juga memahami bagaimana merencanakan keluarga yang lebih sehat agar terhindar dari masalah gizi buruk dan stunting,” kata Sri Melati.

Baca juga  Pj Bupati OKI Ajak ASN Serap Beras Petani Lokal

Ia berharap kegiatan edukasi tersebut terus dilakukan secara berkesinambungan sehingga mampu meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Sejalan dengan Target Nasional Penurunan Stunting

Pemerintah Indonesia menjadikan percepatan penurunan stunting sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional. Program ini menjadi bagian dari penguatan kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045 dan mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya penghapusan kelaparan serta peningkatan kesehatan masyarakat.

Melalui Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting, pemerintah menekankan pentingnya intervensi spesifik di bidang kesehatan yang dipadukan dengan intervensi sensitif seperti sanitasi, air bersih, pendidikan keluarga, perlindungan sosial, hingga pembangunan ketahanan pangan rumah tangga.

Pendekatan tersebut juga sejalan dengan arah kebijakan pembangunan keluarga yang dijalankan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN melalui penguatan edukasi kepada calon pengantin, ibu hamil, keluarga berisiko stunting, serta optimalisasi peran penyuluh keluarga berencana di daerah.

Data Nasional Menunjukkan Tren Perbaikan

Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dan hasil pemantauan pemerintah, prevalensi stunting nasional dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren penurunan. Meski demikian, pemerintah menilai percepatan tetap diperlukan karena masih terdapat sejumlah daerah yang menghadapi tantangan akses layanan kesehatan, pemenuhan gizi, sanitasi, dan perubahan perilaku masyarakat.

Karena itu, edukasi yang dilakukan secara langsung melalui Posyandu dinilai menjadi salah satu pendekatan paling efektif. Posyandu merupakan layanan kesehatan berbasis masyarakat yang secara rutin mempertemukan tenaga kesehatan dengan ibu hamil dan keluarga balita sehingga penyampaian informasi menjadi lebih tepat sasaran.

Di Kabupaten OKI sendiri, Posyandu menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan ibu dan anak di tingkat desa, termasuk dalam pemantauan pertumbuhan balita, pemberian imunisasi, penyuluhan gizi, serta deteksi dini risiko stunting.

Baca juga  OKI Perkuat Forum Kemitraan Untuk Eliminasi AIDS, TBC dan Malaria di 2030

Edukasi Berkelanjutan Menjadi Faktor Penentu

Pakar kesehatan masyarakat selama ini menilai bahwa penanganan stunting tidak cukup hanya melalui pemberian bantuan makanan tambahan. Faktor perilaku keluarga, pola pengasuhan, sanitasi lingkungan, akses air bersih, serta pemahaman mengenai gizi memiliki pengaruh yang sama pentingnya dalam mencegah stunting.

Karena itu, pendekatan yang menggabungkan pelayanan kesehatan dengan edukasi seperti yang dilakukan Balai Penyuluh KB Kecamatan SP Padang berpotensi meningkatkan efektivitas program. Masyarakat tidak hanya menerima layanan kesehatan, tetapi juga memahami alasan di balik setiap intervensi yang diberikan.

Dalam jangka pendek, peningkatan pengetahuan orang tua dapat mendorong perubahan perilaku terkait pemberian makanan bergizi, pemeriksaan kesehatan rutin, serta pemanfaatan layanan Posyandu. Sementara dalam jangka panjang, perubahan perilaku tersebut diharapkan mampu menurunkan risiko stunting sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah.

Keberhasilan program ini juga bergantung pada keberlanjutan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader Posyandu, penyuluh KB, hingga partisipasi aktif masyarakat. Semakin konsisten edukasi dilakukan, semakin besar peluang terbentuknya budaya keluarga yang sadar gizi dan kesehatan. (Asep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here