Home Palembang Menelusuri Jejak Sejarah Kota Palembang: Dari Sriwijaya Hingga Menjadi Kota Metropolitan Sumatera...

Menelusuri Jejak Sejarah Kota Palembang: Dari Sriwijaya Hingga Menjadi Kota Metropolitan Sumatera Selatan

72
0
Situs bersejarah di Palembang yang menjadi penanda perkembangan kota dari masa Sriwijaya hingga era kolonial. (Foto: Timred/cimutnews.co.id)

Palembang, cimutnews.co.id — Kota Palembang tidak hanya dikenal sebagai kota tertua di Indonesia, tetapi juga sebagai pusat peradaban besar yang pernah berjaya di Asia Tenggara. Dari temuan arkeologis hingga catatan sejarah, Palembang memiliki perjalanan panjang yang membentuk identitasnya hingga kini menjadi kota metropolitan modern. Berdasarkan hasil penelusuran timred/cimutnews.co.id, berikut rangkaian sejarah lengkap yang menggambarkan transformasi kota ini dari abad ke-7 hingga era kemerdekaan.

Awal Berdirinya Palembang: Jejak Sriwijaya yang Mendunia

Sejarah Kota Palembang bermula pada abad ke-7, ketika wilayah ini menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya—sebuah kerajaan maritim besar yang menguasai jalur perdagangan internasional. Pada masa itu, Palembang dikenal sebagai pusat pembelajaran agama Buddha dan menjadi simpul strategis bagi pedagang dari India, Tiongkok, hingga Timur Tengah.

Penanda resmi berdirinya Palembang adalah penemuan Prasasti Kedukan Bukit di tepi Sungai Tatang, yang berisi catatan tanggal 16 Juni 682 Masehi. Prasasti ini menyebutkan tentang pembentukan sebuah permukiman baru atau wanua, yang diyakini sebagai awal mula Kota Palembang.

Dari prasasti inilah Palembang menegaskan statusnya sebagai kota tua yang memiliki peradaban tinggi. Aktivitas perdagangan Sriwijaya yang ramai juga menempatkan Palembang sebagai pusat ekonomi dan kebudayaan Nusantara pada masa itu.

Kejayaan Sriwijaya dan Pengaruhnya di Asia Tenggara

Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai sebagian besar jalur pelayaran di Selat Malaka—arus perdagangan tersibuk di dunia. Kejayaan ini membuat Palembang menjadi pelabuhan internasional yang dikunjungi kapal-kapal asing, membawa rempah-rempah, sutra, keramik, dan berbagai komoditas berharga lainnya.

Sebagai pusat kerajaan, Palembang bukan hanya memiliki peran ekonomi, tetapi juga menjadi pusat pendidikan agama Buddha Mahayana. Banyak pendeta dari Asia datang untuk belajar, seperti pendeta Tiongkok terkenal I-Tsing, yang menulis bahwa Palembang adalah tempat terbaik untuk mempelajari bahasa Sanskerta sebelum melanjutkan perjalanan ke India.

Baca juga  Sidang Tipikor Dana KONI Lahat Terkuak: Saksi Ungkap Dugaan Mark Up Anggaran dan Setoran Tanpa Bukti

Jejak Sriwijaya hingga kini masih dapat ditemukan melalui berbagai situs sejarah, artefak, dan tradisi budaya yang tetap diwariskan.

Masa Kesultanan Palembang Darussalam (1659–1823): Babak Baru Peradaban

Setelah Sriwijaya melemah pada abad ke-13–14, Palembang tidak kehilangan pamornya. Pada tahun 1659, berdirilah Kesultanan Palembang Darussalam dengan Sri Susuhunan Abdurrahman sebagai sultan pertamanya. Kesultanan ini kemudian tumbuh menjadi kekuatan politik dan ekonomi baru di Sumatera bagian selatan.

Kesultanan Palembang terkenal dengan budaya Melayu-Islam yang kuat, peninggalan arsitektur megah, serta pengembangan pelabuhan dan perdagangan. Pada abad ke-18, kesultanan mencapai masa keemasan dengan wilayah kekuasaan yang luas dan hubungan dagang yang sangat aktif, terutama dalam komoditas lada, timah, dan hasil bumi lainnya.

Namun, kejayaan ini berakhir ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda menghapus Kesultanan Palembang pada tahun 1823, menandai berakhirnya pemerintahan tradisional dan dimulainya periode kolonial modern.

Masa Kolonial Belanda: Penataan Kota dan Transformasi Administratif

Dengan dihapuskannya kesultanan, Palembang sepenuhnya berada di bawah kendali pemerintah kolonial Belanda. Pada masa inilah kota mulai diatur dengan sistem administrasi baru, pembangunan infrastruktur pemerintahan, serta pembagian wilayah kota sebagaimana pola urban kolonial pada umumnya.

Palembang kemudian mendapatkan status resmi sebagai kota pada 1 April 1906 berdasarkan kebijakan pemerintah Hindia Belanda. Meski demikian, tanggal tersebut tidak dijadikan sebagai hari jadi kota karena sejarah Palembang jauh lebih tua dan berakar pada berdirinya Sriwijaya.

Pada era kolonial, Belanda memperluas jaringan transportasi air dan darat, membangun kantor pemerintahan, serta mengembangkan kawasan pemukiman baru. Jejak arsitektur kolonial di berbagai sudut kota masih dapat ditemukan hingga saat ini.

Era Kemerdekaan: Palembang Menjadi Ibu Kota Sumatera Selatan

Setelah Indonesia merdeka, Palembang ditetapkan menjadi ibu kota Provinsi Sumatera Selatan. Status ini membuat Palembang menjadi pusat pemerintahan, ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan di wilayah Sumatera bagian selatan.

Baca juga  Buka Puasa Bersama Sumsel United, Cik Ujang Optimistis Klub Sumsel Tembus Liga 1 Musim Ini

Seiring perkembangan zaman, Palembang kini menjelma menjadi salah satu kota metropolitan terbesar di Indonesia. Dengan luas wilayah mencapai 400 km² lebih, kota ini menjadi pusat industri, perdagangan, dan event internasional, termasuk Asian Games 2018 yang semakin memperkenalkan Palembang ke dunia global.

Warisan sejarah panjang, budaya yang kaya, serta perkembangan modern menjadikan Palembang sebagai kota yang tidak hanya penting dalam konteks nasional, tetapi juga memiliki nilai historis yang sangat tinggi bagi perjalanan Nusantara. (Timred/CN)