Home Investigasi Investigasi CimutNews: Jalan Rusak Beruge Ternyata Sudah Lama Dikeluhkan, Perbaikan Diduga Hanya...

Investigasi CimutNews: Jalan Rusak Beruge Ternyata Sudah Lama Dikeluhkan, Perbaikan Diduga Hanya Tambal Sulam

46
0
1. Kemacetan mengular ratusan meter di Desa Beruge akibat truk Fuso terperosok dalam kubangan jalan rusak. (Foto: timred/CN)

Musi Banyuasin, cimutnews.co.id — Kemacetan panjang kembali terjadi di Jalan Lintas Tengah Sekayu–Lubuk Linggau pada Jumat pagi (5/12/2025), tepatnya di Desa Beruge, Kecamatan Babat Toman, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). Insiden bermula ketika sebuah truk Fuso pengangkut logistik terperosok ke dalam kubangan jalan rusak, memicu antrean kendaraan mengular hingga ratusan meter.

Namun, temuan investigasi CimutNews.co.id menunjukkan bahwa masalah ini bukan sekadar akibat hujan atau kecelakaan tunggal. Ada indikasi kuat bahwa kerusakan jalan telah dibiarkan berlarut-larut tanpa penyelesaian permanen, meski keluhan masyarakat sudah berlangsung bertahun-tahun.

Kemacetan Mengular, Jalan Makin Amblas Setelah Diterjang Hujan

Berdasarkan pantauan tim redaksi di lokasi, truk Fuso berwarna oranye tampak miring dengan posisi salah satu ban depan terbenam dalam lubang besar yang dipenuhi lumpur. Arus kendaraan dari dua arah terhenti total. Sopir yang mencoba menerobos kubangan terpaksa memundurkan kendaraan karena permukaan jalan sangat licin.

Hujan yang mengguyur wilayah ini sejak dini hari memperparah kondisi permukaan jalan. Lubang-lubang yang sebelumnya hanya berupa cekungan kini berubah menjadi kolam lumpur dengan kedalaman bervariasi. Para sopir angkutan menyebut kondisi ini sangat membahayakan, terutama bagi kendaraan bertonase besar.

Hasil Penelusuran CimutNews: Kerusakan Jalan Sudah Lama, Perbaikan Minim dan Tidak Bertahan

Hasil penelusuran CimutNews.co.id mengungkapkan bahwa titik kerusakan di Desa Beruge bukan baru terjadi tahun ini. Warga setempat mengaku kerusakan telah berlangsung lama dan terus memburuk setiap musim hujan.

Selain itu, hasil klarifikasi dengan beberapa warga dan sopir menunjukkan adanya praktik perbaikan sementara yang hanya berupa penimbunan batu koral tanpa pengerjaan konstruksi formal. Warga menyebut penanganan tersebut tidak pernah bertahan lama.

Seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan:

Baca juga  Isu Abdiyanto Fikri Merapat ke PSI Menguat, Babak Baru Dinamika Politik OKI

“Sudah lama rusak, tapi perbaikan cuma ditimbun batu. Dua bulan baik, habis itu hancur lagi. Tidak ada pengerasan yang benar.”

Kondisi ini dibenarkan oleh sejumlah sopir truk yang ditemui di lokasi kemacetan. Mereka mengatakan bahwa titik tersebut memang menjadi “langganan” kendaraan besar tersangkut.

“Ini bukan sekali dua kali. Hampir tiap hujan, pasti ada truk nyangkut. Sudah biasa katanya, tapi dampaknya kami yang rugi—waktu habis, bahan bakar boros,” ujar seorang sopir Fuso.

Spanduk Peringatan Diduga Jadi Pengganti Perbaikan

Selama penelusuran, tim cimutnews.co.id menemukan hanya sebuah spanduk besar bertuliskan “Hati-hati Jalan Rusak” yang berdiri di pinggir jalan. Spanduk tersebut terlihat lusuh dan telah terpasang cukup lama.

Warga menilai keberadaan spanduk itu seperti “penanda permanen” kerusakan jalan, namun tidak disertai dengan tindakan nyata dari pihak terkait.

Tim redaksi mencoba menghubungi beberapa pihak terkait untuk klarifikasi lebih lanjut, termasuk pemerintah kecamatan dan dinas teknis di tingkat kabupaten. Namun hingga berita ini disusun, klarifikasi resmi terkait rencana perbaikan permanen belum diterima.

Dampak Ekonomi: Distribusi Logistik Tersendat, Kerugian Diperkirakan Meningkat

Sebagai jalur utama yang menghubungkan Sekayu dengan Lubuk Linggau, ruas jalan ini memiliki peran strategis dalam distribusi barang. Sopir angkutan mengaku keterlambatan pengiriman menjadi hal yang tidak bisa dihindari.

Beberapa pengusaha transportasi bahkan menyatakan ongkos operasional melonjak karena kerusakan jalan menyebabkan:

  • konsumsi bahan bakar meningkat,
  • komponen kendaraan cepat rusak,
  • waktu tempuh menjadi tidak menentu.

Jika kerusakan dibiarkan, dampaknya diperkirakan akan merembet pada biaya logistik dan harga barang kebutuhan pokok di wilayah pedesaan.

Warga Mendesak Perbaikan Permanen: “Cukup Sudah Kami Menunggu”

Masyarakat Beruge dan para sopir dengan tegas meminta pemerintah melakukan perbaikan total, bukan sekadar tambal sulam.

Baca juga  Pemkot Palembang Terbitkan SE Ketertiban Ramadhan 2026, Tempat Hiburan Malam Wajib Tutup Sementara

“Kami harap jalan ini dibangun permanen, bukan ditimbun batu terus. Ini jalur hidup masyarakat Muba dan akses ekonomi,” ujar seorang warga.

Selain titik di Desa Beruge, tim investigasi CimutNews menemukan berbagai titik rusak lain menuju Kecamatan Sanga Desa, termasuk lubang besar, permukaan bergelombang, hingga bahu jalan yang amblas.

Warga berharap pemerintah Kabupaten Muba segera turun langsung dan memastikan proyek perbaikan memenuhi standar konstruksi yang layak agar tidak kembali rusak saat musim hujan. (Timred/CN)