Beranda Nasional Green Jobs Class Digelar di Bandung, Kemnaker Dorong Solusi Sampah Sekaligus Peluang...

Green Jobs Class Digelar di Bandung, Kemnaker Dorong Solusi Sampah Sekaligus Peluang Kerja Ramah Lingkungan

55
0
Wakil Menteri Ketenagakerjaan memberikan sambutan dalam kegiatan Green Jobs Class di BBPVP Bandung.(foto: Kemenaker RI/CN)

KOTA BANDUNG, cimutnews.co.id — Persoalan sampah harian di Kota Bandung kembali menjadi sorotan seiring tingginya volume limbah yang dihasilkan masyarakat. Data menunjukkan kota ini memproduksi sekitar 1.500 ton sampah per hari, dengan 44,51 persen di antaranya berupa sampah organik seperti sisa makanan dan dedaunan. Kondisi tersebut menuntut penanganan terpadu agar tidak menambah beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) maupun menimbulkan dampak lingkungan yang lebih luas.

Merespons tantangan tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan melalui Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bandung berkolaborasi dengan sejumlah komunitas lingkungan menggelar program Green Jobs Class Chapter Bandung pada Sabtu (14/2/2026). Kegiatan ini melibatkan Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan, Green Future Guardian Chapter, serta Inovasi Muda sebagai mitra pelaksana.

Peserta pelatihan mempraktikkan pengolahan sampah organik menjadi kompos sebagai bagian dari program green jobs.(foto: Kemenaker RI/CN)

Secara nasional, pengembangan green jobs atau pekerjaan ramah lingkungan menjadi bagian dari agenda transformasi ketenagakerjaan yang selaras dengan upaya pembangunan berkelanjutan. Pemerintah mendorong peningkatan keterampilan tenaga kerja di sektor hijau, termasuk pengelolaan sampah, energi terbarukan, serta ekonomi sirkular. Pendekatan ini dinilai mampu menjawab dua tantangan sekaligus, yakni persoalan lingkungan dan kebutuhan lapangan kerja produktif.

Di tingkat daerah, Kota Bandung menghadapi tekanan serius akibat dominasi sampah organik yang belum seluruhnya terkelola optimal. Tanpa pengolahan di sumber, limbah organik berpotensi mempercepat penumpukan di TPA, memicu emisi gas rumah kaca, serta menimbulkan persoalan kesehatan lingkungan. Karena itu, edukasi dan praktik langsung pengolahan sampah menjadi langkah penting untuk memperkuat partisipasi masyarakat.

Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Afriansyah Noor, yang hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa program Green Jobs Class dirancang tidak hanya sebagai sosialisasi, tetapi juga pelatihan praktis pengolahan sampah organik.
“Melalui pengelolaan sampah yang baik, beban TPA dapat dikurangi, dampak lingkungan dapat ditekan, serta dihasilkan kompos yang memiliki nilai guna. Inilah contoh bagaimana persoalan lingkungan dapat diubah menjadi peluang kerja yang produktif,” ujarnya.

Baca juga  Pemakaman Alex Noerdin di Palembang Dihadiri Ratusan Pelayat, Wali Kota Ratu Dewa Beri Penghormatan Terakhir

Ia menambahkan, pengembangan keterampilan berbasis lingkungan merupakan investasi jangka panjang bagi ketahanan ekonomi masyarakat. Dengan kemampuan mengolah sampah menjadi produk bernilai, masyarakat tidak hanya berkontribusi pada pelestarian lingkungan, tetapi juga membuka peluang usaha baru di tingkat lokal.

Program ini diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari kalangan mahasiswa serta komunitas lingkungan, antara lain Gorong-gorong Bersih (GOBER) dan Gerakan Olah Sampah (GASLAH). Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi mengenai pemilahan sampah, teknik pengomposan, hingga pemanfaatan hasil olahan sebagai produk yang memiliki nilai ekonomi.

Pendekatan berbasis komunitas dipilih karena dinilai efektif dalam mendorong perubahan perilaku di masyarakat. Ketika keterampilan pengolahan sampah dimiliki oleh individu di lingkungan terkecil, dampaknya dapat meluas secara berkelanjutan tanpa sepenuhnya bergantung pada sistem pengelolaan akhir.

Selain itu, keterlibatan generasi muda menjadi fokus penting dalam pengembangan green jobs. Mahasiswa dan komunitas diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang mengedukasi masyarakat sekaligus menciptakan inovasi pengelolaan lingkungan berbasis teknologi sederhana maupun kewirausahaan sosial.

Kementerian Ketenagakerjaan menilai bahwa kolaborasi multipihak—antara pemerintah, komunitas, dan lembaga pelatihan—merupakan kunci keberhasilan transisi menuju ekonomi hijau. Sinergi tersebut memungkinkan program pelatihan tidak berhenti pada tataran teori, tetapi berlanjut menjadi praktik nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh di lingkungan masing-masing, baik di kampus, komunitas, maupun kawasan permukiman. Implementasi skala kecil tersebut diyakini mampu berkontribusi signifikan dalam mengurangi timbulan sampah organik kota secara bertahap.

Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan pemilahan sampah dari sumber serta memanfaatkan limbah organik menjadi kompos atau produk lain yang bermanfaat. Langkah sederhana tersebut dinilai sebagai bagian penting dari tanggung jawab bersama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan perkotaan.

Baca juga  KDM: Munas ADPSI Cerminan Demokrasi yang Sehat

Ke depan, program serupa diharapkan dapat diperluas ke berbagai daerah dengan karakteristik persoalan lingkungan yang berbeda. Penguatan kapasitas tenaga kerja di sektor hijau diyakini menjadi strategi penting menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus membuka peluang ekonomi baru yang inklusif.

Dengan terselenggaranya Green Jobs Class di Bandung, pemerintah menegaskan komitmennya mendorong solusi lingkungan yang sejalan dengan penciptaan lapangan kerja produktif. Pendekatan berimbang antara aspek ekologi dan ekonomi diharapkan mampu menghadirkan manfaat jangka panjang bagi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan pembangunan. (Timred/CN)

Sumber: Kementerian Ketenagakerjaan RI, BBPVP Bandung, Biro Humas Kemnaker.