Beranda Palembang PLTSa Keramasan Palembang Dipercepat, Target Olah 1.000 Ton Sampah per Hari dan...

PLTSa Keramasan Palembang Dipercepat, Target Olah 1.000 Ton Sampah per Hari dan Hasilkan Listrik 20 MW

31
0
2. Aktivitas pengangkutan sampah di Kota Palembang yang akan mendukung operasional PLTSa.(Foto: Poerba/cimutnews.co.id)

PALEMBANG, cimutnews.co.id – Pemerintah Kota Palembang mempercepat realisasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di kawasan Keramasan sebagai solusi strategis pengelolaan sampah sekaligus penguatan energi ramah lingkungan. Proyek ini diproyeksikan mampu mengolah hingga 1.000 ton sampah per hari dan menghasilkan listrik sebesar 20 megawatt (MW).

Komitmen tersebut disampaikan Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, saat menjadi narasumber dalam program Jurnal Nusantara Palembang di Kompas TV, Minggu (22/02/2026). Ia menegaskan bahwa PLTSa akan menjadi bagian penting dalam sistem pengelolaan sampah modern di Kota Palembang.

Sejalan Kebijakan Nasional Pengelolaan Sampah

Pengembangan PLTSa di Palembang sejalan dengan kebijakan nasional dalam pengelolaan sampah berbasis energi terbarukan. Pemerintah pusat mendorong kota-kota besar untuk mengurangi ketergantungan pada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sekaligus memanfaatkan sampah sebagai sumber energi alternatif.

Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya pengurangan emisi gas rumah kaca, khususnya gas metana yang dihasilkan dari timbunan sampah. Dengan teknologi pengolahan modern, PLTSa diharapkan mampu menjadi solusi berkelanjutan dalam mengatasi permasalahan sampah perkotaan.

Data Produksi Sampah dan Kapasitas PLTSa

Saat ini, volume sampah harian di Kota Palembang mencapai sekitar 1.200 ton. Dengan kapasitas pengolahan hingga 1.000 ton per hari, PLTSa Keramasan diharapkan mampu mengurangi beban TPA secara signifikan.

Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, menyebut bahwa fasilitas ini dapat memangkas hingga 80 persen volume sampah yang masuk ke TPA dari total yang diproses.

“Produksi sampah harian Palembang saat ini sekitar 1.200 ton. Kehadiran PLTSa akan sangat membantu mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA,” ujarnya.

Selain itu, fasilitas ini juga diproyeksikan menghasilkan listrik sebesar 20 MW, dengan sekitar 17,7 MW di antaranya akan disalurkan ke jaringan PLN untuk mendukung kebutuhan energi kota.

Baca juga  Reses DPRD Palembang Dapil 1: Warga Keluhkan Lampu Jalan, Parkir Liar, dan Transportasi Publik

Teknologi dan Sistem Operasional

PLTSa Keramasan akan menggunakan teknologi pembakaran (combustion) dengan sistem insinerator. Sampah yang masuk akan ditampung di bunker selama tujuh hari sebelum diproses. Uap panas dari pembakaran kemudian dimanfaatkan untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Palembang, Akhmad Mustain, menjelaskan bahwa sistem ini dilengkapi teknologi filtrasi berlapis serta pemantauan emisi secara kontinu.

Langkah tersebut bertujuan memastikan bahwa emisi yang dihasilkan, termasuk dioksin, tetap berada dalam batas baku mutu lingkungan. Dengan demikian, operasional PLTSa tetap memperhatikan aspek kesehatan dan kelestarian lingkungan.

Tantangan Infrastruktur dan Armada

Dalam operasionalnya, PLTSa direncanakan beroperasi selama 20 hingga 24 jam per hari, dengan distribusi sampah mencapai 40 hingga 50 ton per jam. Namun, salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah kesiapan armada pengangkut sampah.

Saat ini, Kota Palembang memiliki sekitar 160 unit armada yang melayani 18 kecamatan. Untuk mendukung operasional optimal PLTSa, dibutuhkan sedikitnya 220 armada, sehingga terdapat kekurangan sekitar 60 unit.

“Kita ingin manajemen pengelolaan sampah berbasis data yang akurat dan sistem distribusi yang efektif,” tegas Ratu Dewa.

Pemkot berencana melakukan peremajaan dan penambahan armada guna memastikan pasokan sampah ke fasilitas PLTSa tetap stabil.

Peran Masyarakat dan Program 3R

Selain infrastruktur, partisipasi masyarakat juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan pengelolaan sampah. Pemerintah Kota Palembang terus mendorong penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) serta pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga.

Program “Satu Kelurahan Satu Bank Sampah” juga terus diperluas. Saat ini, telah terbentuk 96 bank sampah dari total 107 kelurahan, dengan kontribusi pengurangan sampah mencapai 50 hingga 100 ton per hari atau sekitar 4–8 persen dari total produksi harian.

Baca juga  BKKBN Sumsel Tertarik Kembangkan Aplikasi “Sicantik Keting Musi” sebagai Model Nasional Penanganan Stunting

Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi beban pengolahan di tingkat akhir sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah berkelanjutan.

Imbauan dan Harapan

Pemerintah Kota Palembang mengimbau masyarakat untuk terus mendukung program pengelolaan sampah, baik melalui pemilahan sampah rumah tangga maupun partisipasi dalam bank sampah.

Keberhasilan PLTSa tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kedisiplinan masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya.

Penutup

Pembangunan PLTSa Keramasan menjadi langkah strategis Kota Palembang dalam menjawab tantangan pengelolaan sampah sekaligus memperkuat ketahanan energi daerah. Meski masih menghadapi sejumlah tantangan, pemerintah menegaskan komitmennya untuk memastikan proyek ini berjalan sesuai rencana.

CimutNews mencatat bahwa keberhasilan proyek ini akan sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya, guna menciptakan sistem pengelolaan sampah yang modern, efisien, dan berkelanjutan. (Poerba)