Beranda OKU Gerakan Indonesia Asri Diluncurkan, Namun Tantangan Kebersihan OKU Belum Selesai

Gerakan Indonesia Asri Diluncurkan, Namun Tantangan Kebersihan OKU Belum Selesai

10
0
Bupati OKU H. Teddy Meilwansyah memimpin aksi gotong royong saat peluncuran Gerakan Indonesia Asri di kawasan Taman Kota Baturaja, Jumat (24/7/2026).(Foto:Agus/cimutnews.co.id)

BATURAJA, cimutnews.co.id — Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) resmi meluncurkan Gerakan Indonesia Asri yang dilaksanakan secara serentak di seluruh wilayah kabupaten pada Jumat (24/7/2026). Program yang diprakarsai Dinas Lingkungan Hidup (DLH) itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten OKU ke-116.

Kick-off kegiatan dipusatkan di kawasan Taman Kota Baturaja hingga area bantaran Sungai Ogan di bawah Jembatan Ogan. Bupati OKU H. Teddy Meilwansyah memimpin langsung aksi gotong royong bersama jajaran pemerintah, petugas kebersihan, dan berbagai unsur masyarakat.

Peluncuran gerakan tersebut membawa harapan baru agar budaya menjaga lingkungan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Namun, muncul pertanyaan yang juga menjadi perhatian publik: apakah gerakan massal ini mampu menghadirkan perubahan perilaku masyarakat dalam jangka panjang?

Menurut Bupati Teddy Meilwansyah, Gerakan Indonesia Asri merupakan upaya membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga kebersihan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi menjadi kewajiban seluruh masyarakat.

“Melalui Gerakan Indonesia Asri ini, kami ingin menumbuhkan kesadaran kolektif. Kebersihan daerah bukan sekadar tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh warga Bumi Sebimbing Sekundang,” ujar Teddy saat memberikan arahan di lokasi kegiatan.

Ia juga mengaitkan gerakan tersebut dengan tema HUT Kabupaten OKU ke-116, “Serentak Bergerak, Berdampak Nyata Wujudkan Sayangi OKU.”

Menurutnya, usia daerah yang terus bertambah harus dibarengi perubahan pola pikir masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan agar tetap sehat, nyaman, dan layak dihuni.

Di sisi lain, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten OKU Brigman menjelaskan bahwa kegiatan tidak hanya dilakukan di pusat kota, tetapi berlangsung serentak di 13 kecamatan serta seluruh kantor pemerintahan di wilayah OKU.

Petugas kebersihan diterjunkan untuk membersihkan fasilitas umum, drainase, kawasan permukiman, hingga sejumlah titik di aliran Sungai Ogan yang dinilai rawan menjadi lokasi penumpukan sampah.

Baca juga  Siring Dibangun di Simpang KPR, Akankah Genangan Bertahun-Tahun Benar-Benar Berakhir?

“Tim kami bersinergi turun langsung ke lapangan membersihkan lingkungan termasuk beberapa titik di aliran Sungai Ogan,” katanya.

Persoalan kebersihan lingkungan masih menjadi pekerjaan yang tidak mudah diselesaikan hanya melalui aksi gotong royong sesaat.

Di sejumlah kawasan permukiman maupun bantaran sungai, sampah rumah tangga masih kerap ditemukan, terutama setelah aktivitas pasar maupun permukiman padat penduduk. Kondisi drainase yang dipenuhi endapan sampah juga masih dijumpai di beberapa titik ketika musim hujan datang.

Berdasarkan temuan di lapangan, persoalan tersebut diduga tidak hanya dipengaruhi oleh rendahnya kesadaran masyarakat, tetapi juga berkaitan dengan kebiasaan membuang sampah sembarangan, pengelolaan sampah rumah tangga, hingga konsistensi menjaga kebersihan setelah kegiatan gotong royong selesai.

Hingga kini, belum semua kawasan memiliki kondisi lingkungan yang benar-benar bebas dari persoalan sampah. Belum ada penjelasan rinci mengenai indikator keberhasilan Gerakan Indonesia Asri dalam jangka panjang maupun mekanisme evaluasi yang akan dilakukan setelah aksi serentak tersebut berakhir.

Suara masyarakat

Sejumlah warga menyambut baik pelaksanaan Gerakan Indonesia Asri karena dinilai mampu membangkitkan semangat gotong royong yang mulai berkurang.

Namun, sejumlah warga mengaku kegiatan seperti ini akan lebih berdampak apabila dilakukan secara rutin dan dibarengi edukasi berkelanjutan, bukan hanya saat momentum peringatan hari jadi daerah.

Sebagian warga juga berharap penataan tempat pembuangan sampah, peningkatan fasilitas pengelolaan sampah, hingga pengawasan terhadap pembuangan sampah liar dapat terus diperkuat sehingga hasil kegiatan benar-benar dirasakan masyarakat.

Tantangan berikutnya

Gerakan Indonesia Asri menjadi langkah awal yang positif untuk membangun budaya peduli lingkungan di Kabupaten OKU.

Meski demikian, perubahan perilaku masyarakat merupakan proses yang membutuhkan waktu, konsistensi kebijakan, serta kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat.

Baca juga  Bupati OKU H. Teddy Meilwansyah Tinjau Lokasi Kebakaran di Batukuning dan Serahkan Bantuan untuk Korban

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah semangat gotong royong yang terlihat dalam peluncuran Gerakan Indonesia Asri akan terus terjaga setelah peringatan HUT Kabupaten OKU usai, atau justru kembali menjadi agenda tahunan tanpa perubahan signifikan terhadap kondisi lingkungan?

Jawaban atas pertanyaan tersebut akan sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan program, pengawasan di lapangan, dan partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan setiap hari. (Agus)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here