PALEMBANG, cimutnews.co.id — Program pertumbuhan ekonomi terus digaungkan pemerintah daerah.
Namun di tengah semangat itu, sebagian generasi muda justru masih merasa belum mendapat arah yang jelas.
Lalu, apakah pertumbuhan tersebut benar-benar dirasakan hingga ke level mahasiswa?
Wakil Gubernur Sumatera Selatan, H. Cik Ujang, memaparkan capaian pertumbuhan ekonomi daerah dalam kuliah umum bertema “Empowering Growth: Young Entrepreneurs for a Better Future” di Universitas Sriwijaya, Kamis (16/4/2026).

Acara yang digelar di Gedung Fasilkom Kampus Bukit Besar itu dihadiri ratusan mahasiswa yang tampak antusias mengikuti materi tentang kewirausahaan dan peluang ekonomi masa depan.
Dalam pemaparannya, Cik Ujang menyebut pertumbuhan ekonomi Sumsel menunjukkan tren positif dan membuka peluang besar bagi generasi muda untuk terjun ke dunia usaha.
Sementara itu, Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri, menekankan pentingnya peran anak muda dalam mendorong ekonomi kreatif dan daya saing nasional.
Pemerintah, menurutnya, terus berupaya membuka akses dan ruang bagi wirausaha muda agar berkembang lebih cepat.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, tidak semua mahasiswa merasa siap menangkap peluang tersebut.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sejumlah peserta yang mengaku masih minim akses terhadap pendampingan usaha maupun informasi konkret untuk memulai bisnis.
Beberapa mahasiswa bahkan menyebut materi yang disampaikan masih bersifat umum dan belum menyentuh kebutuhan teknis di lapangan.
“Semangatnya ada, tapi kami masih bingung harus mulai dari mana,” ujar salah satu mahasiswa yang enggan disebutkan namanya.
Mahasiswa lain mengaku kegiatan seperti ini inspiratif, namun belum cukup menjawab tantangan nyata seperti modal, jaringan, hingga keberlanjutan usaha.
Sejumlah warga kampus juga menyebut, kegiatan serupa sering digelar, tetapi dampaknya belum terasa signifikan dalam mendorong lahirnya wirausaha baru.
Fenomena ini diduga terjadi karena adanya jarak antara kebijakan makro dan implementasi mikro di lapangan.
Program dan narasi pertumbuhan ekonomi kerap disampaikan dalam forum formal, namun belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi langkah praktis yang bisa langsung diakses mahasiswa.
Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah ekosistem kewirausahaan di Sumsel sudah benar-benar siap menampung lonjakan minat generasi muda?
Hingga kini, belum semua mahasiswa merasakan dampak langsung dari pertumbuhan ekonomi yang dipaparkan.
Apakah ke depan akan ada pendekatan yang lebih konkret dan menyentuh kebutuhan nyata generasi muda, atau kondisi ini akan terus berulang di setiap forum serupa? (Timred/CN)


















