Beranda Banyuasin HIPMI Banyuasin Bidik Peluang Pelabuhan, Peran Nyata Dipertanyakan

HIPMI Banyuasin Bidik Peluang Pelabuhan, Peran Nyata Dipertanyakan

10
0
Progres pembangunan Pelabuhan Tanjung Carat di wilayah pesisir Banyuasin (Foto:Noto/cimutnews.co.id)

Terungkap: Peluang Besar Tanjung Carat, Tapi Pengusaha Lokal Siapkah?

BANYUASIN, cimutnews.co.id — Program strategis dan arah baru organisasi sudah mulai dirumuskan.
Namun, di tengah optimisme itu, muncul pertanyaan: apakah pelaku usaha lokal benar-benar siap memanfaatkan peluang besar yang ada?

Pertemuan perdana Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPC HIPMI) Banyuasin digelar di sebuah kafe di wilayah Banyuasin, Minggu (26/04).
Agenda ini disebut sebagai langkah awal menentukan arah organisasi di tengah pembangunan Pelabuhan Tanjung Carat yang digadang-gadang menjadi motor ekonomi baru.

Pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan penting.
Mulai dari penguatan komunikasi internal hingga rencana pembentukan sekretariat permanen dan pengisian struktur organisasi.

Ketua Umum BPC HIPMI Banyuasin, Ade Pramanja, menekankan pentingnya soliditas organisasi sebagai fondasi utama.

Ade menyebut peluang besar tengah terbuka seiring pembangunan Pelabuhan Tanjung Carat.

“Peluang HIPMI Banyuasin ke depan sangat besar. Kita tidak boleh hanya menjadi penonton di rumah sendiri,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya hilirisasi komoditas lokal, seperti kelapa, agar mampu menembus pasar ekspor.

Dukungan juga datang dari Cece Riri yang menilai langkah cepat HIPMI Banyuasin sebagai sinyal positif bagi pengusaha muda.

 

Namun fakta di lapangan menunjukkan tantangan tidak sesederhana yang dibayangkan.

Sejumlah pelaku usaha lokal mengaku masih menghadapi keterbatasan akses, baik dari sisi modal, jaringan distribusi, hingga kesiapan menghadapi pasar global.

Di sisi lain, proyek besar seperti pelabuhan justru kerap didominasi oleh pemain besar dari luar daerah.

Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah pengusaha lokal benar-benar akan menjadi pelaku utama, atau hanya penonton seperti yang dikhawatirkan?

Sejumlah warga dan pelaku usaha kecil di Banyuasin mengaku peluang besar memang terlihat, namun belum sepenuhnya terasa.

Baca juga  Pengecoran Jalan Margo Mulyo di Desa Sungai Pinang Resmi Dimulai, Warga Sambut Antusias

“Katanya nanti ekonomi meningkat, tapi kami belum tahu bagaimana bisa ikut terlibat,” ujar salah satu pelaku usaha yang enggan disebutkan namanya.

Ada juga yang menyebut perlunya pendampingan nyata, bukan sekadar wacana.

Secara konsep, keberadaan pelabuhan memang dapat menjadi katalis pertumbuhan ekonomi daerah.

Namun tanpa kesiapan sumber daya manusia, akses pembiayaan, dan ekosistem usaha yang kuat, peluang tersebut berpotensi tidak merata.

Hilirisasi yang digaungkan juga membutuhkan rantai industri yang matang, bukan hanya dorongan semangat organisasi.

Hingga kini, belum semua pelaku usaha lokal memiliki kapasitas untuk masuk ke rantai besar tersebut.

Pertemuan HIPMI Banyuasin menjadi langkah awal yang menjanjikan.

Namun di balik optimisme itu, masih ada pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan.

Apakah momentum pembangunan Pelabuhan Tanjung Carat benar-benar akan dimanfaatkan oleh pengusaha lokal, atau justru kembali didominasi pihak luar?

Hingga kini, jawabannya masih belum sepenuhnya jelas. (Noto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here