
MUARA ENIM, cimutnews.co.id — Kasus hilangnya ratusan aset Pasar Inpres Muara Enim akhirnya terungkap setelah polisi menangkap sejumlah pelaku.
Namun di balik pengungkapan tersebut, muncul pertanyaan yang mengundang perhatian publik. Bagaimana ratusan rolling door dan pintu aluminium bisa hilang secara bertahap tanpa cepat terdeteksi?
Kasus ini pun mulai memunculkan sorotan terhadap sistem pengawasan aset daerah.
Polres Muara Enim menggelar konferensi pers pengungkapan kasus pencurian aset Pasar Inpres Muara Enim di Ruang Lobby Polres Muara Enim, Selasa (28/4/2026).
Kapolres Muara Enim AKBP Hendri Syaputra memimpin langsung kegiatan tersebut bersama Kasat Reskrim AKP M Andrian dan Kasi Humas AKP RTM Situmorang.
Turut hadir Bupati Muara Enim H Edison.
Dalam keterangannya, Kapolres menjelaskan pencurian terjadi terhadap 163 rolling door dan 24 pintu aluminium toilet milik Pasar Inpres Muara Enim.
Menurutnya, aksi tersebut dilakukan secara bertahap.
“Kasus pencurian 163 rolling door dan 24 pintu aluminium toilet ini dilakukan secara bertahap. Saat ini lima pelaku dan satu penadah sudah kami amankan, sedangkan dua lainnya masih dalam pengejaran,” ujar Kapolres.
Pihak kepolisian menyebut hingga kini sudah lima pelaku utama dan satu penadah diamankan, sementara dua orang lainnya masih masuk daftar pencarian orang (DPO).
Bupati Muara Enim H Edison mengapresiasi langkah cepat aparat kepolisian dalam mengungkap kasus tersebut.
Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar agar kejadian serupa tidak terulang.
“Saya merasa bangga dan puas atas kinerja Polres Muara Enim yang dengan cepat berhasil mengungkap kasus ini,” katanya.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, besarnya jumlah aset yang hilang justru memunculkan tanda tanya baru di tengah masyarakat.
Berdasarkan temuan di lapangan, sejumlah warga mengaku terkejut mengetahui jumlah rolling door yang hilang mencapai ratusan unit.
Warga menilai pencurian dalam jumlah besar seperti itu diduga sulit terjadi apabila pengawasan berjalan ketat.
“Kalau jumlahnya sedikit mungkin tidak terlalu terlihat. Tapi ini ratusan rolling door, jadi warga juga heran kok bisa lama tidak diketahui,” ujar salah seorang warga di sekitar kawasan pasar.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan pedagang sekitar yang mengaku selama ini kawasan pasar memang terlihat sepi di beberapa bagian tertentu, terutama saat malam hari.
Mereka menyebut minimnya aktivitas di area tertentu diduga membuat aksi pencurian berlangsung tanpa cepat terpantau.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah ada celah pengawasan aset daerah yang selama ini belum berjalan maksimal?
Pengamat kebijakan publik menilai, kasus hilangnya aset dalam jumlah besar seharusnya menjadi evaluasi serius bagi sistem pengamanan fasilitas milik pemerintah.
Menurutnya, selain penindakan hukum terhadap pelaku, pengawasan internal terhadap aset daerah juga perlu diperkuat.
Sebab, kasus pencurian bertahap dalam waktu lama diduga tidak hanya berkaitan dengan faktor keamanan lapangan, tetapi juga lemahnya monitoring aset.
Hingga kini, belum ada penjelasan rinci mengenai berapa total kerugian daerah akibat kasus tersebut maupun sejak kapan pencurian mulai berlangsung.
Selain itu, masyarakat juga menunggu langkah konkret pemerintah daerah dalam memperbaiki sistem pengawasan aset publik agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Apakah pengungkapan kasus ini akan menjadi titik awal pembenahan pengamanan aset daerah di Muara Enim, atau justru hanya berhenti pada penangkapan pelaku semata? (Eko)

















