
EMPAT LAWANG, cimutnews.co.id — Perayaan Hari Ulang Tahun Kabupaten Empat Lawang ke-19 yang semestinya dipenuhi euforia justru berubah menjadi ruang luapan keresahan publik.
Di tengah ucapan selamat dan berbagai seremoni daerah, muncul sebuah video viral dari seorang pemuda bernama Ifan Francisco yang mengusung tagar #RESETEmpatLawang.
Unggahan tersebut mendadak ramai dibagikan warganet karena dinilai mewakili keresahan masyarakat yang selama ini jarang disuarakan secara terbuka.
Lalu, apa sebenarnya yang terjadi di balik viralnya tagar tersebut?
Kritik Viral di Momentum Hari Jadi Daerah
Ifan Francisco, yang mengaku lahir dan besar di Kabupaten Empat Lawang, menyampaikan kritik terbuka terhadap kondisi daerahnya.
Dalam video yang beredar di media sosial pada Senin (27/4/2026), ia menyoroti sejumlah persoalan mendasar yang dinilai belum terselesaikan hingga kini.
Mulai dari infrastruktur jalan yang rusak, persoalan keamanan, hingga minimnya lapangan pekerjaan menjadi inti kritik yang ia sampaikan.
Video tersebut dengan cepat memancing reaksi publik dan memunculkan diskusi luas di berbagai platform media sosial.
Pernyataan dan Narasi Kemajuan Daerah
Di berbagai momentum pembangunan sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Empat Lawang diketahui terus mendorong narasi percepatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Berbagai program infrastruktur, pelayanan publik, hingga penguatan ekonomi daerah kerap disampaikan sebagai bagian dari progres pembangunan daerah.
Namun fakta di lapangan menunjukkan masih adanya keluhan masyarakat yang merasa belum sepenuhnya merasakan dampak pembangunan tersebut.
Hal inilah yang kemudian memunculkan kritik terbuka dari sejumlah warga, termasuk melalui media sosial.
Infrastruktur Jadi Sorotan Paling Tajam
Dalam testimoninya, Ifan mengaku pernah mengalami kecelakaan akibat kondisi jalan rusak.
Ia menyebut kendaraan miliknya mengalami kerusakan cukup parah setelah melintas di salah satu ruas jalan yang disebut belum mendapatkan perbaikan maksimal.
Kondisi ini menjadi perhatian karena infrastruktur jalan merupakan kebutuhan dasar masyarakat, terutama untuk aktivitas ekonomi dan mobilitas harian.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sejumlah warga yang mengaku masih harus melewati jalan berlubang dan minim penerangan di beberapa wilayah.
“Kalau malam cukup rawan. Apalagi kalau hujan, lubang jalan sulit terlihat,” ungkap salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Krisis Keamanan Ikut Dipertanyakan
Selain soal jalan, persoalan keamanan juga ikut menjadi sorotan.
Ifan mengaku pernah kehilangan sepeda motor di kediamannya sendiri. Pengalaman itu kemudian ia kaitkan dengan rasa tidak aman yang menurutnya mulai dirasakan sebagian masyarakat.
Meski belum ada penjelasan rinci terkait data kriminalitas terbaru di wilayah tersebut, isu keamanan kini menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat.
Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas pengawasan keamanan lingkungan dan langkah antisipasi yang dilakukan.
Lapangan Kerja Dinilai Belum Menjawab Harapan
Poin yang paling menyita perhatian publik dalam video tersebut adalah soal lapangan pekerjaan.
Ifan menceritakan ibunya harus bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri demi membantu biaya pendidikan keluarga.
Kisah tersebut dinilai menyentuh karena dianggap mewakili realita sebagian warga daerah yang masih mencari penghidupan di luar kampung halaman.
Sejumlah warga mengaku peluang kerja di daerah masih terbatas, terutama bagi anak muda lulusan sekolah maupun perguruan tinggi.
“Banyak yang akhirnya merantau karena kerja di sini belum banyak pilihan,” ujar seorang pemuda di Empat Lawang.
Gelombang Dukungan Terus Bermunculan
Sejak video itu viral, tagar #RESETEmpatLawang terus ramai digunakan warganet.
Sebagian mendukung kritik tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap daerah. Namun ada pula yang meminta agar kritik disampaikan secara objektif dan tetap mengedepankan solusi.
Berdasarkan temuan di lapangan dan respons di media sosial, muncul keinginan publik agar pemerintah lebih terbuka mendengar aspirasi masyarakat, khususnya terkait kebutuhan dasar.
Hingga kini, belum semua persoalan yang disorot dalam video tersebut mendapatkan penjelasan detail dari pihak terkait.
Apakah kritik viral ini akan menjadi momentum evaluasi pembangunan, atau justru hanya berlalu sebagai perdebatan sesaat di media sosial? (

















