Beranda Ogan Komering Ilir Terungkap, Kesederhanaan Pimpinan Ma’had Utsmani Ini Menyentuh Banyak Hati

Terungkap, Kesederhanaan Pimpinan Ma’had Utsmani Ini Menyentuh Banyak Hati

51
0
KH Shoimari Utsman Lc. Al Hafizh saat bersama para santri di lingkungan Ma’had Utsmani Muara Baru Kayuagung. (foto: Asep/cimutnews.co.id)

KAYUAGUNG, cimutnews.co.id — Ucapan mabruk dan doa terus mengalir untuk KH Shoimari Utsman Lc. Al Hafizh, pimpinan Ma’had Utsmani Muara Baru Kayuagung, Ogan Komering Ilir yang ke 49 Tahunnya.
Namun di balik sosok yang dikenal tenang itu, tersimpan perjalanan dakwah yang disebut penuh pengorbanan dan kedekatan dengan masyarakat.

Lalu, mengapa sosok beliau begitu membekas di hati warga?

Hasil menelusuran cimutnews.co.id Nama KH Shoimari Utsman Lc. Al Hafizh belakangan menjadi perhatian masyarakat Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).(9/5/2026)

Kebersamaan cimutnews.co.id bersama KH Shoimari Utsman Lc. Al Hafizh dalam berbagai momen kegiatan dan perkembangan Ma’had Utsmani Muara Baru Kayuagung yang selama ini terus menjadi perhatian. (foto: Asep/cimutnews.co.id)

Ucapan selamat dan doa terus disampaikan sejumlah tokoh masyarakat, santri hingga warga sekitar kepada pimpinan Ma’had Utsmani Muara Baru tersebut.

Bukan tanpa alasan, sosok KH Shoimari disebut dikenal luas karena konsistensinya membina pendidikan agama di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks.

Perjalanan Dakwah yang Tidak Selalu Mudah

Sejumlah warga mengaku, keberadaan Ma’had Utsmani selama ini menjadi tempat pendidikan sekaligus pembinaan akhlak bagi generasi muda di wilayah Kayuagung dan sekitarnya.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, membangun lembaga pendidikan berbasis keagamaan bukan perkara mudah.

Berdasarkan cerita sejumlah masyarakat sekitar, perjuangan mempertahankan kegiatan pendidikan dan pembinaan santri disebut membutuhkan kesabaran panjang, terutama di tengah tantangan ekonomi dan perubahan sosial masyarakat.

Meski demikian, KH Shoimari Utsman tetap dikenal aktif mendampingi para santri secara langsung.

“Beliau orangnya sederhana, dekat dengan masyarakat dan santri,” ujar salah satu warga Muara Baru.

Di Sisi Lain, Sosoknya Dinilai Jarang Tersorot

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sebagian masyarakat yang menilai kiprah tokoh pendidikan agama di daerah sering kali kurang mendapat perhatian luas.

Padahal, menurut sejumlah warga, peran pesantren dan ma’had memiliki pengaruh besar dalam menjaga pendidikan moral di lingkungan masyarakat.

Baca juga  Program Jaga Desa, Kajari OKI: Mendampingi Bukan Melindungi

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah perhatian terhadap lembaga pendidikan berbasis keagamaan selama ini sudah benar-benar maksimal?

Hingga kini, belum semua perjuangan para pengasuh pesantren dan ma’had di daerah banyak diketahui publik.

Kedekatan dengan Santri Disebut Jadi Kunci

Berdasarkan temuan di lapangan dan memantauanya cimutnews.co.id, kedekatan KH Shoimari dengan para santri menjadi salah satu hal yang paling sering disampaikan masyarakat.

Sejumlah santri mengaku sosok beliau dikenal tegas dalam pendidikan, namun tetap lembut dalam membimbing.

Tak sedikit pula warga yang menyebut suasana Ma’had Utsmani terasa hidup karena hubungan kekeluargaan yang dibangun di lingkungan pendidikan tersebut.

“Kalau bicara beliau, kami jadi ingat perjuangan mendidik anak-anak supaya tetap dekat dengan agama,” ungkap seorang wali santri.

Harapan Besar untuk Pendidikan Generasi Muda

Di tengah perkembangan era digital dan tantangan pergaulan anak muda, keberadaan lembaga pendidikan agama dinilai masih menjadi harapan banyak keluarga.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, tantangan dunia pendidikan keagamaan juga semakin besar, mulai dari kebutuhan fasilitas hingga dukungan sosial masyarakat.

Karena itu, sejumlah warga berharap keberadaan Ma’had Utsmani dapat terus berkembang dan menjadi tempat lahirnya generasi yang berakhlak baik.

Hingga kini, sosok KH Shoimari Utsman Lc. Al Hafizh masih terus menjadi pembicaraan hangat di tengah masyarakat Kayuagung.

Bagi sebagian warga, beliau bukan hanya pimpinan ma’had, tetapi juga simbol perjuangan pendidikan agama di daerah.

Apakah ke depan perhatian terhadap lembaga pendidikan seperti ini akan semakin besar, atau justru perlahan terlupakan? (Asep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here