
JAKARTA, cimutnews.co.id — Program Listrik Desa yang dijalankan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama PT PLN (persero) terus diperluas hingga ke wilayah terpencil dan kawasan tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Salah satu wilayah yang baru menikmati akses listrik adalah Desa Sungai Jeruju, Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.
Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Dewi Yustisiana, menilai penyalaan listrik di desa tersebut menjadi bukti bahwa pemerataan energi mulai menjangkau daerah yang selama ini terisolasi akibat keterbatasan akses geografis.
Desa Sungai Jeruju Baru Nikmati Listrik Setelah Bertahun-Tahun
Peresmian penyalaan listrik dilakukan dalam rangka kegiatan reses DPR RI pada Senin (4/5/2026). Dalam kesempatan itu, Dewi menyampaikan bahwa masyarakat Desa Sungai Jeruju selama bertahun-tahun hidup dengan keterbatasan akses energi karena kondisi wilayah yang sulit dijangkau.
Menurutnya, hadirnya listrik bukan hanya soal penerangan rumah warga, tetapi juga menjadi pintu masuk perubahan sosial dan ekonomi masyarakat desa.
“Ini menjadi bukti nyata bahwa negara hadir hingga ke wilayah yang selama ini sulit dijangkau,” ujar Dewi.
Akses Geografis Jadi Tantangan Utama
Wilayah Kecamatan Cengal dikenal memiliki karakter geografis rawa dan jalur transportasi terbatas yang membuat pembangunan infrastruktur membutuhkan biaya serta waktu lebih besar dibanding wilayah perkotaan.
Kondisi tersebut selama ini menyebabkan sebagian masyarakat mengalami keterbatasan akses terhadap:
- Energi listrik
- Informasi digital
- Fasilitas pendidikan
- Aktivitas ekonomi produktif
- Layanan publik dasar
Karena itu, realisasi program listrik desa di Sungai Jeruju dinilai menjadi capaian penting dalam pemerataan pembangunan energi nasional.
Listrik Dinilai Jadi Penggerak Ekonomi Baru
Aktivitas Warga Diperkirakan Meningkat
Dewi menegaskan kehadiran listrik akan berdampak langsung terhadap peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat, terutama bagi pelaku usaha kecil dan sektor rumah tangga.
Sebelum adanya listrik, sebagian warga masih bergantung pada genset dengan biaya operasional yang relatif tinggi dan pasokan terbatas.
Dengan masuknya jaringan listrik permanen, masyarakat kini memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan usaha produktif seperti:
- Pengolahan hasil perikanan
- Usaha pendingin makanan
- Industri rumah tangga
- Akses internet dan komunikasi
- Kegiatan belajar malam hari
Menurut Dewi, perubahan tersebut berpotensi mempercepat peningkatan kualitas hidup masyarakat desa secara bertahap.
Pendidikan dan Layanan Sosial Ikut Terdorong
Selain dampak ekonomi, kehadiran listrik juga diperkirakan memperbaiki akses pendidikan di wilayah tersebut. Aktivitas belajar anak-anak yang sebelumnya terbatas pada siang hari kini dapat berlangsung lebih optimal pada malam hari.
Fasilitas umum seperti sekolah, layanan kesehatan, dan kantor pemerintahan desa juga diproyeksikan lebih mudah menjalankan aktivitas pelayanan masyarakat.
Pemerataan Energi Jadi Agenda Strategis Pemerintah
Wilayah 3T Masih Jadi Tantangan Nasional
Program listrik desa merupakan bagian dari kebijakan pemerintah dalam memperluas rasio elektrifikasi nasional hingga menjangkau wilayah-wilayah yang belum tersentuh jaringan listrik permanen.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah terus mempercepat pembangunan infrastruktur energi di kawasan 3T yang selama ini menghadapi hambatan geografis dan keterbatasan investasi.
Menurut Dewi, pemerataan energi menjadi fondasi penting untuk memastikan pembangunan nasional berlangsung lebih berkeadilan.
“Komisi XII DPR RI akan terus mengawal agar program ini berjalan konsisten dan menjangkau lebih banyak daerah terpencil,” katanya.
Listrik Kini Menjadi Simbol Kehadiran Negara
Di banyak wilayah terpencil Indonesia, masuknya listrik tidak lagi dipandang sekadar pembangunan infrastruktur teknis. Kehadiran jaringan listrik mulai menjadi simbol konkret hadirnya negara di tengah masyarakat yang selama ini hidup dalam keterisolasian.
Fenomena ini terlihat di berbagai daerah terpencil yang mengalami perubahan sosial cukup cepat setelah akses energi tersedia. Aktivitas ekonomi meningkat, akses informasi terbuka, dan pola pendidikan masyarakat mulai berubah mengikuti perkembangan teknologi.
Di sisi lain, keberhasilan program listrik desa juga menjadi indikator penting keberhasilan pemerataan pembangunan nasional di luar kota-kota besar.
Tantangan Pemerataan Energi Masih Besar
Meski program elektrifikasi terus berjalan, tantangan distribusi energi nasional masih cukup besar, terutama di wilayah rawa, kepulauan, dan kawasan dengan akses transportasi terbatas.
Biaya pembangunan jaringan, kondisi geografis ekstrem, serta kebutuhan infrastruktur pendukung menjadi faktor yang membuat proses elektrifikasi di sejumlah daerah membutuhkan waktu lebih panjang.
Karena itu, sinergi antara pemerintah pusat, PLN, pemerintah daerah, dan DPR dinilai penting agar perluasan akses listrik tidak berhenti pada wilayah tertentu saja.
Dalam jangka panjang, pemerataan listrik desa diproyeksikan menjadi salah satu faktor utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus mengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah di Indonesia.
Artikel terkait pembangunan infrastruktur desa dan pemerataan energi nasional juga dapat menjadi referensi untuk melihat dampak transformasi pembangunan di kawasan terpencil. (Timred/CN)

















