
MUSI RAWAS UTARA, cimutnews.co.id — Jembatan Sungai Menang di Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara, kembali menjadi sorotan.
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan memastikan pembangunan ulang jembatan permanen akan dilakukan pada 2027 mendatang. Namun di lapangan, warga hingga kini masih mengandalkan jembatan sementara yang dibangun setelah jembatan utama roboh diterjang banjir besar pada 2024 lalu.
Situasi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat: mengapa akses vital penghubung antar desa itu baru akan dibangun kembali beberapa tahun setelah ambruk?
Jembatan Sungai Menang diketahui menjadi jalur penting penghubung Desa Sukamenang menuju Desa Rantau Telang, Desa Tanjung Agung, hingga Desa Muara Tiku.
Saat roboh akibat derasnya arus Sungai Rawas, aktivitas masyarakat sempat lumpuh. Distribusi hasil pertanian, akses sekolah, hingga mobilitas harian warga ikut terdampak.
Kini, sisa konstruksi beton jembatan lama masih tampak di sekitar aliran sungai. Kondisi tersebut menjadi penanda bahwa infrastruktur permanen yang dulu menjadi urat nadi warga belum sepenuhnya pulih.
Wakil Gubernur Sumatera Selatan, Cik Ujang, saat meninjau lokasi pada Jumat (8/5/2026), memastikan pemerintah akan membangun kembali jembatan tersebut melalui anggaran 2027.
“Kita survei di lapangan, kita melihat langsung, jadi kita akan bangun kembali pada anggaran 2027 nanti,” ujar Cik Ujang.
Pernyataan itu memberi harapan baru bagi masyarakat yang selama ini menunggu kepastian pembangunan.
Namun fakta di lapangan menunjukkan kondisi akses warga masih jauh dari ideal.
Jembatan sementara yang digunakan saat ini disebut hanya cukup menopang kendaraan tertentu dan membuat sebagian warga harus ekstra hati-hati saat melintas, terutama ketika debit Sungai Rawas meningkat.
Sejumlah warga mengaku khawatir jika hujan deras kembali terjadi seperti banjir besar 2024 lalu. Mereka berharap pembangunan permanen tidak kembali molor karena jalur tersebut menjadi akses utama aktivitas ekonomi masyarakat.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan para pengangkut hasil kebun dan pedagang desa. Mereka mengaku perjalanan distribusi menjadi lebih lambat dibanding sebelum jembatan roboh.
“Kalau musim hujan kami waswas juga. Takut akses terganggu lagi,” ungkap seorang warga sekitar yang ditemui di kawasan Karang Jaya.
Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai ketahanan infrastruktur di wilayah rawan banjir di Musi Rawas Utara.
Berdasarkan temuan di lapangan, posisi jembatan memang berada di jalur yang cukup dekat dengan aliran deras Sungai Rawas. Diduga, derasnya arus banjir beberapa tahun lalu menjadi faktor utama runtuhnya konstruksi lama.
Selain faktor alam, perhatian terhadap pengawasan kendaraan bertonase berat juga kembali mencuat.
Dalam kunjungannya, Cik Ujang meminta kendaraan bertonase tinggi nantinya diarahkan melalui jalur lain agar usia jembatan baru bisa lebih panjang dan tidak cepat mengalami kerusakan.
Pernyataan itu sekaligus mengindikasikan bahwa beban kendaraan berat menjadi perhatian penting dalam pembangunan ulang jembatan permanen nanti.
Hingga kini, belum semua warga merasa tenang meski kepastian pembangunan sudah disampaikan pemerintah.
Masyarakat berharap proyek tersebut benar-benar terealisasi tepat waktu dan tidak hanya berhenti pada janji peninjauan lapangan semata.
Apakah pembangunan 2027 nantinya mampu menjawab kekhawatiran warga, atau justru kembali menyisakan persoalan baru di kawasan rawan banjir tersebut? (Noto)

















