
Terungkap, Diskusi Pemuda OKI Ini Sentil Minimnya Respons Soal Pekerjaan
OGAN KOMERING ILIR, cimutnews.co.id — Persoalan sulitnya mencari pekerjaan kembali menjadi sorotan di Kabupaten Ogan Komering Ilir.
Di tengah perubahan ekonomi dan meningkatnya jumlah lulusan muda, ruang kerja dinilai belum sepenuhnya mampu menampung harapan generasi baru.
Lalu, mengapa keresahan itu kini mulai disuarakan lebih terbuka?

Aspirasi Soal Kerja Mulai Dibahas Terbuka
Minggu, 10 Mei 2026, DPD Perkumpulan Gerakan Kebangsaan OKI menggelar kegiatan bertajuk “SAKTI OKI” atau Suara Keadilan dan Aspirasi Masyarakat OKI.
Kegiatan tersebut mengangkat tema “Perjuangan Pekerja di Tengah Tantangan Ekonomi dan Perubahan Zaman”.
Forum itu dihadiri mahasiswa, organisasi kepemudaan, hingga kader internal organisasi yang membahas persoalan lapangan kerja dan kondisi ekonomi masyarakat OKI.
Ketua DPD PGK OKI, Rivaldy Setiawan, mengatakan kegiatan itu muncul dari keresahan masyarakat terkait sulitnya mendapatkan pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan.
“Kegiatan ini merupakan aspirasi dari masyarakat OKI yang susah mencari pekerjaan, yang mana berdampak pada ekonomi dan perubahan zaman,” ujarnya.
Aspirasi Akan Ditindaklanjuti
Dalam sambutannya, Rivaldy menegaskan diskusi tersebut bukan sekadar forum seremonial.
Ia menyebut hasil pembahasan nantinya akan disampaikan kepada pihak terkait agar ada solusi konkret terhadap persoalan tenaga kerja di OKI.
Turut hadir sebagai pemateri, Feri Wijaya yang memberikan materi terkait kondisi sosial dan tantangan ketenagakerjaan.
“Kami mengapresiasi mahasiswa dan pemuda OKI yang mempunyai ide dan gagasan positif agar dapat tersampaikan kepada pemerintah,” katanya.
Kegiatan itu juga dihadiri BEM FKIP UNISKI, HMPS Bahasa Indonesia UNISKI, PMII Komisariat UNISKI, hingga HMI Bende Seguguk OKI.
Meski diskusi berjalan aktif dan penuh semangat, persoalan utama yang diangkat justru menggambarkan keresahan nyata yang selama ini dirasakan sebagian pemuda di OKI.
Namun fakta di lapangan menunjukkan masih banyak lulusan muda yang mengaku kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap, terutama di tengah perubahan kebutuhan industri dan keterbatasan peluang kerja lokal.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan masyarakat yang berharap ada keterlibatan lebih besar dari instansi terkait dalam mendengar aspirasi secara langsung.
Hal ini semakin menjadi sorotan setelah pihak penyelenggara menyebut telah mengundang Dinas Tenaga Kerja OKI, namun disebut belum mendapat respons hingga kegiatan berlangsung.
“Dalam hal ini sebenarnya kami juga mengundang Disnaker OKI, yang mana sudah saya hubungi namun tidak ada respons,” kata Rivaldy.
Pemuda Mulai Merasa Resah
Berdasarkan temuan di lapangan, isu lapangan pekerjaan menjadi salah satu pembahasan paling dominan di kalangan mahasiswa dan pemuda OKI.
Sejumlah peserta mengaku tantangan mencari kerja kini tidak hanya soal minim lowongan, tetapi juga soal persaingan yang semakin ketat serta tuntutan kemampuan baru di era digital.
Sebagian lainnya menilai forum seperti ini penting karena keresahan anak muda selama ini sering hanya dibahas di media sosial tanpa tindak lanjut nyata.
Namun hingga kini, belum semua aspirasi tersebut mendapat jawaban konkret dari pihak yang dianggap berwenang.
Ketika Aspirasi Mulai Dicari Jalannya
Fenomena meningkatnya diskusi soal lapangan kerja di daerah bukan hanya terjadi di OKI.
Perubahan ekonomi, perkembangan teknologi, hingga ketidakpastian pasar kerja membuat banyak lulusan muda mulai mempertanyakan kesiapan daerah dalam menyediakan peluang kerja yang memadai.
Di sisi lain, forum-forum aspirasi seperti ini menunjukkan adanya dorongan agar pemerintah lebih aktif hadir mendengar persoalan generasi muda secara langsung.
Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah aspirasi tersebut nantinya benar-benar akan ditindaklanjuti atau hanya berhenti pada ruang diskusi?
Rivaldy sendiri memastikan hasil kegiatan akan kembali dibahas dan disurati kepada pihak terkait agar ada langkah nyata terhadap persoalan masyarakat.
Ia bahkan optimistis pemerintah daerah nantinya akan ikut membersamai aspirasi tersebut.
Hingga kini, persoalan lapangan kerja masih menjadi perhatian banyak kalangan di OKI.
Apakah suara pemuda kali ini akan benar-benar menghasilkan perubahan, atau justru kembali menjadi diskusi yang perlahan dilupakan? (Asep)

















