Beranda Ogan Komering Ilir Terungkap, Perahu Kayu Tradisional OKI Bertahan di Tengah Modernisasi

Terungkap, Perahu Kayu Tradisional OKI Bertahan di Tengah Modernisasi

7
0
Pengrajin ketek di Desa Simpang Tiga, Tulung Selapan, saat merakit badan perahu kayu.(Foto:Asep/cimutnews.co.id)

Perahu kayu atau ketek masih menjadi urat nadi transportasi masyarakat di wilayah perairan Ogan Komering Ilir (OKI).

Di tengah masuknya modernisasi dan perubahan pola transportasi, para pengrajin tradisional di Desa Simpang Tiga, Kecamatan Tulung Selapan, justru mengaku pesanan terus berdatangan hingga harus antre berbulan-bulan.

Namun di balik tingginya permintaan itu, muncul pertanyaan yang mulai menjadi perhatian warga: sampai kapan tradisi pembuatan ketek kayu ini mampu bertahan?

Bagi masyarakat di Tulung Selapan, Air Sugihan, Sungai Menang, hingga Cengal, ketek bukan sekadar alat transportasi biasa.

Perahu kayu bermesin itu menjadi sarana utama untuk mencari nafkah, mengangkut hasil laut, hingga menjalin silaturahmi antarwilayah perairan.

Di aliran sungai Desa Simpang Tiga, keterampilan membuat ketek masih diwariskan secara turun-temurun.

Salah satu pengrajin lokal, Suherman, mengatakan proses pembuatan satu unit ketek membutuhkan ketelitian dan waktu cukup panjang.

“Untuk satu ketek bisa sekitar 10 hari pengerjaan, belum termasuk proses pengeringan kayu,” ujarnya.

Menurutnya, pemilihan bahan menjadi faktor penting agar ketek tahan lama saat digunakan di sungai maupun wilayah pesisir.

Kayu yang digunakan umumnya jenis meranti merah yang sudah melalui proses pengeringan sekitar satu minggu.

Dalam satu badan ketek, sedikitnya dibutuhkan sekitar 60 keping kayu dengan panjang rata-rata 4 hingga 5 meter.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, keberlangsungan pengrajin ketek tradisional diduga mulai menghadapi tantangan yang tidak ringan.

Berdasarkan temuan di lapangan, harga bahan baku kayu disebut terus mengalami kenaikan dalam beberapa tahun terakhir.

Di sisi lain, sebagian pengrajin juga mengaku semakin sulit mendapatkan kayu berkualitas yang sesuai untuk badan perahu.

Selain itu, regenerasi pengrajin disebut belum sepenuhnya berjalan mulus karena sebagian anak muda mulai memilih pekerjaan lain di luar sektor kerajinan tradisional.

Baca juga  Khataman Ratusan Santri, Cetak Generasi Qurani Sejak Dini

Meski begitu, permintaan ketek ternyata masih tinggi.

“Sekarang kalau mau pesan harus menunggu sampai satu tahun karena antrean sudah banyak,” kata Suherman.

Harga satu unit ketek sendiri bervariasi, mulai dari Rp8 juta hingga Rp40 juta tergantung ukuran dan spesifikasi mesin yang digunakan.

Mesin yang dipasang pun beragam, mulai dari mesin diesel engkol hingga tipe berkekuatan lebih besar untuk kebutuhan laut dan sungai jarak jauh.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, keberadaan ketek bukan hanya soal bisnis atau alat transportasi semata.

Di sejumlah wilayah perairan OKI, ketek masih menjadi simbol identitas budaya masyarakat sungai yang kehidupannya sangat bergantung pada jalur air.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan masyarakat yang mulai melihat masuknya transportasi modern dan perubahan infrastruktur jalan darat ke beberapa wilayah.

Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah budaya ketek tradisional nantinya tetap bertahan kuat, atau perlahan tergeser perkembangan zaman?

Berdasarkan pengamatan di lapangan, sebagian warga masih memilih menggunakan ketek karena dinilai lebih efektif menjangkau jalur sungai sempit yang belum bisa dilalui kendaraan darat.

Namun tantangan ke depan dinilai bukan hanya soal permintaan pasar, tetapi juga bagaimana menjaga keberlanjutan pengrajin lokal dan ketersediaan bahan baku.

Apalagi, keterampilan membuat ketek membutuhkan ketelitian tinggi yang tidak bisa dipelajari secara instan.

Di sisi lain, sebagian warga berharap pemerintah daerah ikut mendorong pelestarian budaya ketek sebagai potensi ekonomi sekaligus identitas masyarakat pesisir OKI.

Sebab, jika tidak dijaga sejak sekarang, warisan budaya sungai yang sudah bertahan puluhan tahun itu dikhawatirkan perlahan mulai ditinggalkan generasi muda.

Hingga kini, ketek kayu masih terus dibuat di tepian sungai Desa Simpang Tiga.

Baca juga  Syakbanudin, S.I.KOM Terpilih menjadi Ketua PCM Kota Kayuagung OKI Periode 2023-2028

Namun apakah tradisi ini akan terus hidup sebagai kebanggaan masyarakat sungai OKI, atau justru semakin terdesak modernisasi? Pertanyaan itu kini mulai menjadi perhatian banyak pihak. (Asep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here