Beranda Palembang Terungkap, Kebutuhan Darah di Palembang Melonjak Namun Stok Masih Belum Mencukupi

Terungkap, Kebutuhan Darah di Palembang Melonjak Namun Stok Masih Belum Mencukupi

7
0
Ketua PMI Kota Palembang saat menandatangani kerja sama donor darah rutin bersama Kecamatan IT I Palembang. (foto: Poerba/cimutnews.co.id)

PALEMBANG, cimutnews.co.id — Kebutuhan darah di Kota Palembang terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun di tengah tingginya permintaan, stok darah yang tersedia disebut masih belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara penuh.

Kondisi ini memicu PMI Kota Palembang mengambil langkah jemput bola dengan menggandeng Kecamatan Ilir Timur (IT) I untuk menggelar donor darah rutin. Langkah tersebut ditandai melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di Kantor Camat IT I Palembang, Jumat (22/5/2026).

Namun fakta di lapangan menunjukkan, persoalan ketersediaan darah bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Kesenjangan antara kebutuhan dan pasokan darah masih menjadi pekerjaan rumah serius.

Ketua PMI Kota Palembang, Dewi Sastrani, mengungkapkan kebutuhan darah di Palembang kini mencapai sekitar 7.000 kantong per bulan. Sementara kemampuan suplai PMI baru berada di angka 5.000 kantong.

“Artinya kita masih kekurangan sekitar 2.000 kantong darah setiap bulannya. Kebutuhan ini terus meningkat setiap tahun,” ujar Dewi.

Menurutnya, PMI tidak bisa bekerja sendiri untuk menjaga ketersediaan darah yang aman dan tepat waktu bagi pasien yang membutuhkan.

Karena itu, PMI menyambut positif keterlibatan Kecamatan IT I yang siap menjadi pelopor donor darah berkala di tingkat kecamatan.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sejumlah keluarga pasien yang selama ini kerap kesulitan mencari pendonor saat kebutuhan darah mendadak meningkat, terutama untuk pasien operasi, ibu melahirkan, hingga penderita penyakit tertentu.

Berdasarkan temuan di lapangan, tidak sedikit masyarakat yang masih mengandalkan pencarian donor secara mandiri melalui media sosial maupun grup percakapan ketika stok darah tertentu kosong atau terbatas.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah sistem donor darah rutin di tingkat wilayah sudah berjalan maksimal, atau justru masih bersifat momentum sesaat?

Baca juga  Aturan PPKM Dicabut, Harnojoyo Imbau Masyarakat Tetap Vaksin

PMI sendiri menegaskan kerja sama dengan Kecamatan IT I bukan hanya bagian dari perayaan Hari Jadi Kota Palembang, tetapi diarahkan menjadi gerakan kemanusiaan berkelanjutan.

Pada aksi donor perdana pasca-MoU tersebut, tercatat sekitar 100 calon pendonor ikut antre dengan target minimal 100 kantong darah terkumpul.

“Di balik setiap kantong darah, tersimpan harapan hidup, doa, dan masa depan seseorang,” kata Dewi.

PMI berharap pola kolaborasi ini dapat diperluas hingga ke tingkat kelurahan agar edukasi donor darah semakin dekat dengan masyarakat.

Namun hingga kini, belum semua wilayah di Palembang memiliki agenda donor darah rutin yang berjalan konsisten.

Jika kebutuhan darah terus meningkat sementara partisipasi donor belum merata, kondisi kekurangan stok dikhawatirkan masih akan terus terjadi.

Apakah gerakan donor darah berbasis wilayah ini mampu menjadi solusi jangka panjang, atau hanya ramai saat momentum tertentu saja? Hingga kini, pertanyaan itu masih menjadi perhatian banyak pihak. (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here