
KOTA PALEMBANG, cimutnews.co.id — Pendidikan anak usia dini kembali menjadi perhatian Pemerintah Kota Palembang. Melalui program Bunda PAUD Mengajar dan Gerakan Literasi Anak Usia Dini yang digelar di TK Keynan, Jalan Macan Lindungan, Palembang, upaya memperkuat fondasi pendidikan generasi masa depan kembali digaungkan.
Namun di tengah berbagai program yang terus diluncurkan, muncul pertanyaan yang tak kalah penting: apakah seluruh anak usia dini di Palembang sudah menikmati layanan pendidikan yang berkualitas dan merata?
Kegiatan yang berlangsung Selasa (26/5/2026) tersebut dihadiri sejumlah pejabat daerah, pengurus TP PKK, serta Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Palembang Ida Royani Aprizal Hasyim.
Dalam kesempatan itu, Bunda PAUD Kota Palembang, Dewi Sastrani Ratu Dewa, menegaskan bahwa masa usia dini merupakan fase paling menentukan dalam pembentukan karakter dan kemampuan anak.
Menurutnya, pada periode tersebut berbagai aspek penting mulai berkembang, mulai dari kecerdasan, kemampuan sosial, rasa percaya diri hingga kebiasaan baik yang akan terbawa hingga dewasa.
Dewi juga menekankan bahwa PAUD bukan hanya tempat anak belajar membaca atau berhitung.
Lebih dari itu, PAUD dinilai menjadi ruang pembentukan karakter, kreativitas, kemandirian, serta penanaman nilai-nilai moral sejak usia dini.
Pemerintah Kota Palembang, lanjutnya, terus mendorong peningkatan kualitas layanan PAUD melalui berbagai program seperti penguatan literasi anak usia dini, peningkatan kompetensi tenaga pendidik, pembinaan kelembagaan hingga kolaborasi lintas sektor.
“Kami ingin anak-anak tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, percaya diri dan berkarakter,” ujar Dewi dalam kegiatan tersebut.
Program Terus Bertambah, Tapi Tantangan Belum Selesai
Meski berbagai program telah dijalankan, persoalan pendidikan anak usia dini masih menjadi pekerjaan rumah yang cukup besar.
Namun fakta di lapangan menunjukkan tidak semua satuan PAUD memiliki kondisi dan fasilitas yang sama. Sejumlah lembaga pendidikan usia dini di kawasan perkotaan relatif lebih mudah mengakses sarana pembelajaran, pelatihan guru, hingga dukungan masyarakat dibandingkan wilayah lain yang masih menghadapi keterbatasan.
Beberapa pemerhati pendidikan anak usia dini menilai kualitas layanan PAUD tidak hanya ditentukan oleh gedung atau fasilitas fisik, tetapi juga kompetensi tenaga pendidik, keterlibatan orang tua, serta budaya literasi yang tumbuh di lingkungan keluarga.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sebagian orang tua yang masih menghadapi tantangan mendampingi anak di rumah akibat kesibukan kerja maupun keterbatasan akses bahan bacaan yang sesuai usia.
Hal ini menimbulkan pertanyaan: sejauh mana gerakan literasi yang digaungkan mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya sekolah-sekolah yang sudah berkembang?
Peran Orang Tua Jadi Penentu
Dalam kegiatan tersebut, Dewi juga mengajak para orang tua untuk lebih aktif membangun kebiasaan membaca dan komunikasi hangat di lingkungan keluarga.
Menurutnya, anak-anak yang terbiasa mendengar cerita, membaca buku, dan berinteraksi positif dengan orang tua cenderung memiliki kemampuan komunikasi dan kepercayaan diri yang lebih baik.
Ajakan tersebut dinilai relevan mengingat budaya literasi tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada sekolah.
Berdasarkan temuan di lapangan, sejumlah guru PAUD mengaku keberhasilan pendidikan usia dini sangat dipengaruhi keterlibatan keluarga dalam proses belajar anak di rumah.
Ketika sekolah dan orang tua berjalan searah, perkembangan anak umumnya berlangsung lebih optimal.
Guru PAUD Masih Jadi Garda Terdepan
Pada kesempatan yang sama, Dewi juga memberikan apresiasi kepada para guru PAUD yang selama ini mendampingi anak-anak pada fase awal pendidikan.
Menurutnya, tugas guru PAUD tidak sekadar mengajarkan materi dasar, tetapi juga membangun karakter dan menanamkan nilai kehidupan sejak dini.
Peran tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang memengaruhi pola tumbuh kembang anak.
Namun hingga kini, belum semua tenaga pendidik PAUD memiliki kesempatan yang sama untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensinya melalui berbagai pelatihan berkelanjutan.
Jika kondisi ini tidak terus diperkuat, kualitas pendidikan anak usia dini dikhawatirkan berkembang tidak merata.
Harapan Besar di Tengah Tantangan Nyata
TK Keynan menjadi salah satu contoh lembaga yang aktif menghadirkan kegiatan edukatif berbasis literasi bagi anak-anak.
Keberadaan sekolah seperti ini tentu memberi harapan bahwa budaya membaca dapat mulai dibangun sejak usia dini.
Namun keberhasilan pendidikan anak tidak hanya bergantung pada satu sekolah atau satu program.
Dibutuhkan sinergi berkelanjutan antara pemerintah, sekolah, guru, keluarga, dan masyarakat agar gerakan literasi benar-benar menjadi budaya, bukan sekadar agenda seremonial.
Hingga kini, penguatan pendidikan anak usia dini masih menjadi tantangan besar di tengah upaya menciptakan generasi emas Indonesia.
Apakah berbagai program yang terus diluncurkan mampu menjawab kesenjangan kualitas pendidikan sejak usia dini, atau justru masih menyisakan pekerjaan rumah yang belum terselesaikan?
Informasi dihimpun dari keterangan resmi Pemerintah Kota Palembang dan hasil penelusuran lapangan. (Poerba)

















