Beranda Palembang Fakta di Lapangan, Digitalisasi Pendidikan Belum Sepenuhnya Dirasakan Sekolah

Fakta di Lapangan, Digitalisasi Pendidikan Belum Sepenuhnya Dirasakan Sekolah

13
0
Sekda Kota Palembang Aprizal Hasyim memimpin upacara Hari Pendidikan Nasional 2026 di halaman Kantor Wali Kota Palembang. (foto:Poerba/cimutnews.co.id)

PALEMBANG, cimutnews.co.id — Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Palembang berlangsung khidmat dengan berbagai pesan besar tentang masa depan pendidikan Indonesia.

Namun di balik semangat seremoni dan pidato penuh harapan, muncul pertanyaan yang masih terus mengemuka: apakah kualitas pendidikan benar-benar sudah merata hingga ke lapangan?

Upacara Hardiknas yang digelar di halaman Kantor Wali Kota Palembang, Sabtu (2/5/2026), dipimpin Sekretaris Daerah Kota Palembang, Aprizal Hasyim.

Dalam amanat yang dibacakannya dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, pemerintah menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan proses membentuk manusia yang berkarakter dan berdaya saing.

Pendidikan Disebut Jadi Kunci Masa Depan Bangsa

Pemerintah pusat melalui momentum Hardiknas kembali menekankan pentingnya transformasi pendidikan nasional.

Konsep pendidikan berbasis karakter yang mengacu pada pemikiran Ki Hajar Dewantara disebut masih relevan di tengah perkembangan zaman digital saat ini.

Selain itu, pemerintah juga mengklaim terus mendorong sejumlah program strategis, mulai dari metode pembelajaran mendalam (deep learning), percepatan digitalisasi pendidikan, hingga peningkatan kualitas tenaga pendidik.

Arah kebijakan tersebut disebut sejalan dengan visi Prabowo Subianto yang menempatkan pendidikan sebagai fondasi menuju Indonesia maju.

Pendidikan Tak Lagi Sekadar Akademik

Dalam pidato yang dibacakan, pendidikan disebut harus mampu membentuk karakter, moral, serta tanggung jawab sosial generasi muda.

Pemerintah juga menegaskan komitmen untuk memperkuat sarana pendidikan melalui revitalisasi sekolah dan distribusi perangkat digital ke berbagai daerah.

“Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia,” demikian salah satu pesan utama dalam amanat tersebut.

Namun, berbagai janji penguatan pendidikan itu kini mulai diuji oleh kondisi nyata di lapangan.

Di tengah dorongan digitalisasi pendidikan, sejumlah sekolah diduga masih menghadapi persoalan mendasar yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Baca juga  Wawako Palembang Beri Ultimatum: Tak Loyal? Silakan Pergi

Berdasarkan temuan di lapangan, masih ada sekolah yang mengalami keterbatasan perangkat belajar, kualitas jaringan internet yang tidak stabil, hingga ketimpangan fasilitas antarwilayah.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, transformasi pendidikan digital belum dirasakan merata oleh seluruh sekolah, terutama di daerah pinggiran dan sekolah dengan keterbatasan anggaran.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan sebagian tenaga pendidik. Sejumlah guru mengaku tuntutan adaptasi teknologi semakin tinggi, sementara pelatihan dan pendampingan dinilai belum maksimal.

“Kadang perangkat ada, tapi pemanfaatannya belum optimal karena guru juga harus beradaptasi cepat,” ujar salah satu guru di Palembang yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.

Pendidikan Karakter Dinilai Mulai Tergeser

Selain soal fasilitas, tantangan lain juga muncul dari perubahan perilaku siswa di era digital.

Sejumlah orang tua mengaku pendidikan karakter menjadi pekerjaan rumah besar yang belum sepenuhnya terjawab.

Menurut mereka, penggunaan gadget yang semakin tinggi membuat interaksi sosial anak berubah drastis dibanding beberapa tahun lalu.

“Anak sekarang cepat menguasai teknologi, tapi kadang nilai sopan santun dan kedisiplinan mulai berkurang,” ungkap seorang wali murid.

Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah pendidikan saat ini terlalu fokus pada aspek teknologi, tetapi belum sepenuhnya berhasil menjaga keseimbangan pembentukan karakter?

Antara Visi Besar dan Tantangan Nyata

Program digitalisasi pendidikan memang menjadi langkah penting menghadapi perkembangan global.

Namun percepatan teknologi tanpa kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia diduga dapat menimbulkan kesenjangan baru dalam dunia pendidikan.

Jika kondisi itu terus terjadi, kualitas pendidikan antarwilayah dikhawatirkan semakin timpang.

Hingga kini, belum semua sekolah mampu bergerak dengan kecepatan yang sama dalam menghadapi transformasi pendidikan modern.

Padahal, pendidikan menjadi sektor utama yang menentukan kualitas generasi masa depan Indonesia.

Baca juga  Baksos Presisi Polres Banyuasin bersama Mahasiswa dan Pemuda Jelang Ramadhan 1446 H / 2025 M

Apakah berbagai program strategis yang terus digaungkan pemerintah mampu benar-benar menjawab persoalan di lapangan?

Atau justru tantangan baru akan terus bermunculan di tengah derasnya perubahan zaman? (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here