
KOTA PALEMBANG, cimutnews.co.id — Kejuaraan Padel Eksekutif Aparatur Sipil Negara (ASN) Kota Palembang menjadi salah satu rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Palembang ke-1343. Sebanyak 32 tim dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) turun bertanding di Lapangan Padel Riverbank, Sabtu (20/6/2026).
Ajang olahraga yang tengah naik daun itu tidak hanya menjadi kompetisi antarpeserta. Pemerintah Kota Palembang juga menjadikannya sebagai simbol semangat membangun budaya hidup sehat sekaligus memperkuat kekompakan aparatur sipil negara.
Namun, di balik semarak pertandingan, muncul pertanyaan yang juga menarik untuk dicermati. Apakah kegiatan olahraga semacam ini mampu membentuk budaya hidup sehat secara berkelanjutan di lingkungan birokrasi, atau hanya menjadi agenda seremonial tahunan?
Kejuaraan tersebut dibuka oleh Asisten III Bidang Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kota Palembang, Akhmad Bastari, yang hadir mewakili Wali Kota Palembang, Ratu Dewa.
Dalam sambutan Wali Kota yang dibacakannya, Bastari menyampaikan apresiasi kepada panitia serta seluruh pihak yang telah menyukseskan penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Menurutnya, olahraga bukan hanya menjaga kebugaran fisik, tetapi juga menjadi media membangun karakter ASN, mulai dari disiplin, sportivitas, hingga kemampuan bekerja sama.
“Kejuaraan ini bukan sekadar ajang kompetisi olahraga, tetapi juga menjadi sarana membangun sportivitas, kerja sama, disiplin, dan solidaritas antar ASN. Nilai-nilai tersebut sangat penting untuk mendukung pelayanan publik yang profesional dan berintegritas,” ujarnya.
Ia menilai olahraga padel yang kini semakin populer di berbagai daerah menjadi bagian dari wajah Kota Palembang yang terus mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan identitas budayanya.
Pemerintah Kota Palembang, lanjutnya, ingin mendorong lebih banyak aktivitas positif yang berdampak pada peningkatan kualitas hidup masyarakat sekaligus memperkuat citra kota sebagai daerah modern dan dinamis.
Olahraga padel sendiri masih tergolong baru bagi sebagian besar masyarakat. Sarana bermainnya juga belum sebanyak cabang olahraga lain sehingga akses masyarakat umum masih relatif terbatas dibanding olahraga konvensional seperti sepak bola, bulu tangkis, atau voli.
Di sisi lain, meningkatnya minat terhadap olahraga baru ini memperlihatkan adanya perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan, termasuk di kalangan ASN. Beberapa komunitas padel bahkan mulai bermunculan dalam beberapa waktu terakhir di Palembang.
Sejumlah peserta yang ditemui usai pertandingan mengaku kegiatan semacam ini memberikan ruang untuk membangun komunikasi lintas OPD yang selama ini lebih banyak berlangsung dalam forum kedinasan.
Menurut mereka, suasana pertandingan menghadirkan interaksi yang lebih cair sehingga mampu mempererat hubungan kerja sekaligus menjadi pelepas kejenuhan dari rutinitas birokrasi.
Meski demikian, sejumlah pengamat olahraga menilai pembudayaan hidup sehat tidak cukup hanya melalui turnamen atau kompetisi sesekali. Konsistensi penyediaan fasilitas olahraga, pembiasaan aktivitas fisik di lingkungan kerja, hingga dukungan kebijakan internal menjadi faktor yang menentukan keberlanjutan program tersebut.
Momentum Hari Jadi Kota Palembang ke-1343, menurut Pemerintah Kota, diharapkan menjadi refleksi untuk terus meningkatkan dedikasi aparatur dalam melayani masyarakat.
Sebagai salah satu kota tertua di Indonesia dengan sejarah panjang peradaban, Palembang dinilai memiliki tantangan untuk terus membangun sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan mampu mengikuti perkembangan zaman.
Bastari juga berharap olahraga dapat menjadi bagian dari gaya hidup ASN sehingga mampu meningkatkan produktivitas kerja serta kualitas pelayanan kepada masyarakat.
“Kemenangan sejati adalah ketika kita mampu membangun kekompakan, menjaga kesehatan, dan memperkuat semangat pengabdian kepada Kota Palembang,” katanya.
Kejuaraan kemudian resmi dibuka dan pertandingan berlangsung dengan melibatkan puluhan peserta dari berbagai OPD.
Hingga kini, belum semua instansi pemerintahan secara rutin menjadikan olahraga sebagai budaya kerja yang terintegrasi. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah kejuaraan seperti ini akan menjadi awal perubahan pola hidup sehat di lingkungan ASN secara berkelanjutan, atau justru berhenti sebagai agenda peringatan hari jadi semata. Jawaban atas pertanyaan itu akan terlihat dari konsistensi program setelah kompetisi usai. (Poerba)

















