Beranda Prabumulih Pendidikan Karakter Dibuka, Mampukah Lahirkan Pemimpin Lokal yang Dibutuhkan?

Pendidikan Karakter Dibuka, Mampukah Lahirkan Pemimpin Lokal yang Dibutuhkan?

5
0
Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru bersama Wali Kota Prabumulih H. Arlan membuka Pendidikan Karakter dan Pelatihan Pertamina Local Community Leaders Program Tahun 2026 di Komplek Batalyon Zeni Tempur 2 Prabumulih. (Foto: Indra/CimutNews)

PRABUMULIH, cimutnews.co.id — Upaya mencetak pemimpin masyarakat berbasis karakter kembali digulirkan di Kota Prabumulih. Sebanyak 100 peserta dari wilayah sekitar operasi PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 mengikuti Pendidikan Karakter dan Pelatihan Pertamina Local Community Leaders Program Tahun 2026 yang dibuka di Komplek Batalyon Zeni Tempur 2 Prabumulih, Kamis (2/7/2026).

Program tersebut membawa harapan besar untuk melahirkan agen perubahan di tingkat masyarakat. Namun, pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana pelatihan semacam ini benar-benar mampu menghasilkan dampak nyata setelah para peserta kembali ke lingkungan masing-masing.

Pengembangan sumber daya manusia memang menjadi salah satu kebutuhan penting di tengah tantangan pembangunan daerah. Akan tetapi, keberhasilan sebuah pelatihan tidak hanya diukur dari proses pembukaan yang berlangsung meriah, melainkan dari keberlanjutan manfaat yang dirasakan masyarakat.

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru dan dihadiri Wali Kota Prabumulih H. Arlan, Ketua DPRD Kota Prabumulih, Kapolres Prabumulih, Kepala Kejaksaan Negeri Prabumulih, Dandim 0404 Muara Enim, jajaran PT Pertamina Hulu Rokan Zona 4, kepala organisasi perangkat daerah Provinsi Sumatera Selatan maupun Kota Prabumulih, serta sejumlah tamu undangan.

Dalam pelaksanaannya, peserta memperoleh pembinaan karakter, pelatihan kepemimpinan, peningkatan kapasitas, hingga penguatan nilai-nilai kebangsaan. Program tersebut ditujukan untuk membentuk calon pemimpin masyarakat yang diharapkan mampu menjadi motor penggerak pembangunan dan pemberdayaan di lingkungan sekitar.

Pemerintah Kota Prabumulih menyatakan dukungannya terhadap kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Kehadiran Wali Kota Prabumulih dinilai sebagai bentuk komitmen daerah terhadap pengembangan kepemimpinan lokal.

Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa tantangan pembangunan sumber daya manusia tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan. Di sejumlah wilayah, persoalan pemberdayaan masyarakat masih berkaitan dengan terbatasnya kesempatan kerja, akses pengembangan usaha, hingga keberlanjutan pendampingan setelah sebuah program selesai dilaksanakan.

Baca juga  UU HKPD 2027 Ancam Nasib 4.000 PPPK Prabumulih di Tengah Tekanan APBD

Sejumlah warga yang ditemui CimutNews menilai pelatihan kepemimpinan merupakan langkah positif apabila benar-benar diikuti dengan ruang aktualisasi bagi para peserta. Mereka mengaku berbagai pelatihan sebelumnya terkadang belum sepenuhnya berlanjut menjadi program nyata yang berdampak langsung terhadap lingkungan masyarakat.

Di sisi lain, pelibatan masyarakat sekitar wilayah operasi perusahaan juga menjadi perhatian penting. Program tanggung jawab sosial perusahaan dinilai akan memberikan manfaat lebih besar apabila tidak berhenti pada peningkatan kapasitas individu, tetapi juga mampu melahirkan kegiatan ekonomi, sosial, maupun pemberdayaan yang berkesinambungan.

Berdasarkan temuan di lapangan, masyarakat umumnya berharap peserta yang telah mengikuti pelatihan nantinya memperoleh kesempatan untuk mengimplementasikan gagasan di lingkungan masing-masing. Tanpa tindak lanjut yang terukur, semangat yang dibangun selama pelatihan dikhawatirkan hanya menjadi kegiatan seremonial tahunan.

Belum ada penjelasan rinci mengenai mekanisme pendampingan pascapelatihan, indikator keberhasilan jangka panjang, maupun sistem evaluasi terhadap para alumni program. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana efektivitas program akan diukur beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun mendatang.

Pengamat pembangunan daerah menilai kolaborasi pemerintah dan sektor swasta merupakan langkah yang patut diapresiasi. Namun keberhasilan program serupa sangat bergantung pada kesinambungan pembinaan, monitoring, serta keterlibatan aktif masyarakat sebagai penerima manfaat.

Hingga kini, belum semua program pengembangan kapasitas masyarakat mampu menghasilkan perubahan yang merata. Karena itu, keberhasilan Pertamina Local Community Leaders Program Tahun 2026 nantinya tidak hanya dinilai dari jumlah peserta yang dilatih, tetapi juga dari kontribusi nyata yang dapat dirasakan masyarakat di lapangan.

Apakah para peserta benar-benar akan tumbuh menjadi pemimpin lokal yang mampu membawa perubahan bagi lingkungannya, atau justru menghadapi tantangan yang sama setelah pelatihan berakhir? Jawaban atas pertanyaan tersebut akan terlihat dari implementasi program dalam waktu yang akan datang. (Indra)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here