Beranda Nusantara Budaya Jadi Pemersatu di APEKSI, Namun Dampaknya untuk Daerah Masih Jadi Pertanyaan

Budaya Jadi Pemersatu di APEKSI, Namun Dampaknya untuk Daerah Masih Jadi Pertanyaan

2
0
Asisten III Setda Kota Prabumulih Drs. Amilton mewakili Wali Kota Prabumulih menghadiri Gala Dinner dan Closing Gelar Melayu Serumpun (GEMES) dalam rangkaian APEKSI di Lapangan Merdeka, Medan. (Foto: Timreed/CimutNews

MEDAN, cimutnews.co.id — Gelaran Gelar Melayu Serumpun (GEMES) yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) di Kota Medan resmi ditutup melalui acara Gala Dinner di Lapangan Merdeka, Medan. Sejumlah kepala daerah dari berbagai kota di Indonesia hadir untuk memperkuat komitmen kolaborasi antardaerah melalui jalur budaya.

Dari Kota Prabumulih, kehadiran pemerintah daerah diwakili oleh Asisten III Setda Kota Prabumulih, Drs. Amilton, yang hadir mewakili Wali Kota Prabumulih dalam agenda penutupan tersebut.

Pertemuan para pemimpin kota ini kembali menegaskan pentingnya budaya sebagai perekat persatuan sekaligus modal pembangunan. Namun, di balik semarak acara dan berbagai komitmen yang disampaikan, muncul pertanyaan yang juga menjadi perhatian publik: sejauh mana hasil forum seperti ini benar-benar berdampak bagi masyarakat di daerah?

Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Kota Medan yang tumbuh dalam keberagaman terus berkomitmen menjadikan budaya sebagai kekuatan pemersatu sekaligus penggerak pembangunan, terutama di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Menurutnya, sinergi antarkota melalui wadah APEKSI menjadi langkah strategis untuk saling berbagi pengalaman, memperkuat kolaborasi, sekaligus mendorong percepatan pembangunan di berbagai daerah.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh wali kota se-Indonesia ataupun yang mewakili yang telah hadir dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan APEKSI di Kota Medan. Kehadiran Bapak dan Ibu sekalian menjadi energi positif dalam memperkuat sinergi dan kolaborasi demi kemajuan kota-kota di Indonesia,” ujarnya.

Forum tersebut juga dihadiri para wali kota, wakil wali kota beserta pasangan, unsur Forkopimda Kota Medan, serta tamu undangan dari berbagai daerah.

Budaya Jadi Diplomasi Daerah

Tidak hanya menjadi ajang seremonial, kegiatan GEMES juga memperlihatkan bagaimana budaya mulai ditempatkan sebagai instrumen diplomasi antardaerah.

Baca juga  Polres Blitar Bersinergi, Gelar Bakti Sosial Polri Presisi Sambut Bulan Suci Ramadhan 1446 H di Masjid As-Salam Wlingi

Melalui pertunjukan seni dan kebudayaan Melayu yang melibatkan berbagai daerah, pemerintah berharap muncul peluang kerja sama baru, baik di bidang pariwisata, ekonomi kreatif maupun promosi investasi.

Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa keberhasilan forum seperti ini masih sangat bergantung pada tindak lanjut setelah kegiatan berakhir.

Sejumlah pengamat pemerintahan daerah menilai, forum nasional sering menghasilkan komitmen kerja sama yang positif. Akan tetapi, implementasi di masing-masing daerah kerap menghadapi tantangan, mulai dari keterbatasan anggaran, sinkronisasi program hingga prioritas pembangunan yang berbeda.

Harapan Daerah Tidak Berhenti pada Seremoni

Bagi daerah peserta, termasuk Prabumulih, keikutsertaan dalam forum nasional menjadi kesempatan memperluas jejaring antarpemerintah kota.

Di sisi lain, masyarakat tentu berharap hasil pertemuan tersebut tidak berhenti sebagai dokumentasi kegiatan atau seremoni tahunan semata.

Sejumlah warga yang ditemui CimutNews di Prabumulih mengaku mendukung pemerintah aktif membangun jejaring dengan daerah lain. Namun mereka berharap kolaborasi tersebut benar-benar melahirkan program yang dapat dirasakan masyarakat, seperti peningkatan investasi, terbukanya lapangan kerja, promosi produk UMKM, hingga pengembangan sektor wisata daerah.

Menurut mereka, keberhasilan sebuah forum nasional akan lebih mudah diukur apabila terdapat program nyata yang dapat dinikmati masyarakat setelah para kepala daerah kembali ke wilayah masing-masing.

Tantangan Berikutnya

APEKSI selama ini menjadi ruang strategis bagi pemerintah kota untuk bertukar pengalaman dan mencari solusi atas berbagai persoalan perkotaan.

Namun hingga kini, belum semua hasil kerja sama antardaerah terdokumentasi secara terbuka kepada masyarakat. Belum ada penjelasan rinci mengenai bentuk kolaborasi lanjutan yang akan dijalankan masing-masing pemerintah daerah pasca kegiatan di Medan.

Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana komitmen yang telah dibangun dalam forum tersebut akan diterjemahkan menjadi kebijakan dan program yang benar-benar berdampak bagi masyarakat.

Baca juga  Babinsa Koramil 03/Pegasing Ajak Warga Gotong Royong Bangun Kolam Ikan Nila: Wujud Nyata Sinergi TNI dan Masyarakat di Aceh Tengah

Ke depan, publik tentu menantikan langkah konkret yang lahir dari berbagai kesepakatan tersebut.

Apakah sinergi antarkota melalui APEKSI kali ini akan menghasilkan inovasi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, atau masih menyisakan pekerjaan rumah yang menunggu realisasi? (timred/CN)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here