
PALEMBANG, cimutnews.co.id – TP PKK Palembang kembali memperkuat langkah percepatan penurunan angka stunting melalui penyaluran Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kepada ibu hamil dan calon pengantin yang masuk kategori berisiko stunting. Program tersebut digelar di Balai Kecamatan Sukarami, Senin (6/7/2026), sebagai bagian dari strategi pencegahan sejak fase paling awal kehidupan.
Kegiatan dipimpin langsung Ketua TP PKK Kota Palembang, Dewi Sastrani Ratu Dewa, yang menegaskan bahwa pencegahan stunting harus dimulai bahkan sebelum seorang anak lahir. Menurutnya, perhatian terhadap kesehatan calon ibu menjadi fondasi penting dalam menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas.
PMT Jadi Intervensi Awal Menekan Risiko Stunting
Program PMT merupakan kolaborasi TP PKK bersama Pemerintah Kota Palembang dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya ibu hamil. Intervensi ini difokuskan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi selama masa kehamilan yang dikenal sebagai periode paling menentukan bagi tumbuh kembang janin.
Dalam kegiatan tersebut, para penerima memperoleh paket makanan bergizi berupa telur, susu, serta bahan pangan bernilai gizi tinggi lainnya. Bantuan tersebut diharapkan mampu membantu memenuhi kebutuhan protein, kalsium, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan selama kehamilan.
Menurut Dewi Sastrani, pemenuhan gizi yang baik selama masa kehamilan akan berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan organ, perkembangan otak, hingga berat badan bayi saat lahir.
“Program PMT ini merupakan bentuk kepedulian sekaligus komitmen TP PKK Kota Palembang dalam memastikan ibu hamil memperoleh asupan gizi yang cukup dan seimbang. Dengan pemenuhan nutrisi yang baik, kita berharap bayi yang dilahirkan tumbuh sehat, cerdas, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik,” ujarnya.
Pencegahan Dimulai Sebelum Anak Dilahirkan
Fase 1.000 Hari Pertama Kehidupan Menjadi Kunci
Dewi menekankan bahwa stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak, melainkan berkaitan erat dengan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Karena itu, intervensi sejak masa persiapan pernikahan, kehamilan, hingga anak berusia dua tahun atau dikenal sebagai 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi periode yang tidak boleh diabaikan.
Menurutnya, apabila kebutuhan nutrisi ibu terpenuhi sejak awal, risiko bayi lahir dengan gangguan pertumbuhan dapat ditekan secara signifikan.
“Kami berharap bantuan ini benar-benar dimanfaatkan dengan baik sehingga kebutuhan gizi ibu hamil dapat terpenuhi. Dengan demikian, anak-anak yang lahir nantinya menjadi generasi yang sehat, kuat, cerdas, dan terbebas dari stunting,” katanya.
Pemeriksaan Kehamilan Rutin Jadi Bagian Penting Pencegahan
Selain memberikan bantuan pangan bergizi, TP PKK juga mengingatkan pentingnya pemeriksaan kehamilan secara berkala di fasilitas pelayanan kesehatan.
Menurut Dewi, pemeriksaan rutin memungkinkan tenaga kesehatan memantau perkembangan janin, kondisi ibu, serta mendeteksi lebih awal apabila terdapat risiko komplikasi kehamilan maupun potensi gangguan pertumbuhan janin.
Berdasarkan arahan pemerintah melalui berbagai program percepatan penurunan stunting, pemantauan kesehatan ibu hamil menjadi salah satu indikator penting dalam meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak.
Pencegahan Stunting Membutuhkan Kolaborasi Semua Pihak
Tidak Cukup Mengandalkan Bantuan Makanan
Dewi menilai keberhasilan menurunkan angka stunting tidak cukup hanya melalui pemberian bantuan pangan. Edukasi mengenai pola makan bergizi, sanitasi, perilaku hidup bersih dan sehat, serta pendampingan keluarga juga menjadi faktor yang menentukan.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah, TP PKK, tenaga kesehatan, kader posyandu, hingga keluarga merupakan fondasi utama dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.
Program PMT yang dilakukan secara berkelanjutan di berbagai kecamatan di Palembang diharapkan mampu memperluas jangkauan intervensi kepada kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.
Tren Penanganan Stunting di Indonesia
Upaya yang dilakukan TP PKK Palembang sejalan dengan kebijakan nasional dalam percepatan penurunan stunting. Pemerintah terus mendorong daerah memperkuat intervensi spesifik melalui pemenuhan gizi ibu hamil, peningkatan layanan kesehatan, pemberian edukasi, hingga pendampingan keluarga berisiko.
Berbagai daerah kini mulai mengubah pendekatan penanganan stunting. Jika sebelumnya fokus diberikan kepada balita, kini perhatian diperluas kepada calon pengantin dan ibu hamil agar faktor risiko dapat dicegah sejak awal.
Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan penanganan setelah anak mengalami gangguan pertumbuhan.
Investasi Gizi Menentukan Kualitas Generasi Mendatang
Penyaluran PMT memiliki dampak jangka pendek berupa meningkatnya akses ibu hamil terhadap sumber protein dan nutrisi penting. Namun dalam jangka panjang, program seperti ini berpotensi meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat apabila dilakukan secara konsisten disertai edukasi yang berkelanjutan.
Keberhasilan program juga sangat bergantung pada perubahan perilaku masyarakat. Bantuan pangan hanya menjadi salah satu instrumen, sedangkan keberlanjutan pola makan sehat, pemeriksaan kehamilan rutin, serta keterlibatan keluarga akan menentukan efektivitas pencegahan stunting. (Poerba)

















