Beranda Ogan Komering Ilir Terungkap, FGD HIMA PAI Bukan Sekadar Belajar Public Speaking, tetapi Menjawab Krisis...

Terungkap, FGD HIMA PAI Bukan Sekadar Belajar Public Speaking, tetapi Menjawab Krisis Keberanian Mahasiswa Menyampaikan Gagasan

22
0
Suasana Focus Group Discussion bertema "Membangun Narasi, Menginspirasi Aksi" yang digelar HIMA Prodi PAI IAI Nusantara Ash-Shiddiqiyah di Lempuing Jaya, Minggu (12/7/2026). Kegiatan ini menjadi ruang belajar mahasiswa untuk memperkuat kemampuan komunikasi dan berpikir kritis.(Foto:Asep/cimutnews.co.id)

LEMPUING JAYA, cimutnews.co.id — Membangun kemampuan berbicara ternyata bukan lagi sekadar soal tampil percaya diri di depan umum. Di tengah derasnya arus informasi digital, mahasiswa justru dituntut mampu menyampaikan gagasan secara kritis, santun, dan berdampak.

Semangat itulah yang menjadi fokus Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Membangun Narasi, Menginspirasi Aksi” yang digelar Divisi Kaderisasi dan Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa (PSDM) Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (HIMA PAI) IAI Nusantara Ash-Shiddiqiyah, Minggu (12/7/2026), di ruang kelas PGMI 6 kampus setempat.

Koordinator Divisi Kaderisasi dan PSDM HIMA Prodi PAI, Yuyun Hariyanti, memaparkan konsep retorika Aristoteles kepada peserta FGD sebagai bekal membangun narasi yang mampu menginspirasi aksi nyata di lingkungan kampus.(Foto:Asep/cimutnews.co.id)

Namun, di balik antusiasme peserta, muncul pertanyaan yang juga menjadi tantangan banyak perguruan tinggi: apakah budaya berdiskusi dan menyampaikan gagasan kritis sudah benar-benar tumbuh di kalangan mahasiswa?

Sekitar 20 mahasiswa lintas semester, mulai semester II, IV hingga VI mengikuti forum tersebut. Mereka tidak hanya mempelajari teknik berbicara, tetapi juga diajak memahami bagaimana sebuah narasi dapat memengaruhi cara berpikir, membangun kolaborasi, hingga mendorong lahirnya aksi nyata di lingkungan kampus.

FGD turut dihadiri Ketua HIMA Prodi PAI Sofia Arifatus Shofa, Ketua HIMA Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Dini Nur Anjani, serta pengurus HIMA Prodi Ekonomi Syariah Dona Haviza. Diskusi dipandu Koordinator Divisi Kaderisasi dan PSDM HIMA Prodi PAI, Yuyun Hariyanti.

Dalam paparannya, Yuyun menjelaskan bahwa retorika merupakan seni menyampaikan gagasan secara efektif sehingga pesan tidak hanya dipahami, tetapi juga mampu memberikan pengaruh positif kepada pendengar.

Ia mengulas konsep retorika Aristoteles yang terdiri atas tiga unsur utama, yakni ethos sebagai kredibilitas pembicara, pathos sebagai kemampuan membangun kedekatan emosional, dan logos sebagai kekuatan logika dalam menyampaikan argumentasi.

“Dari sini kita mengetahui bahwa berbicara ternyata memiliki seninya. Ketika ingin menjadi seorang pembicara, kita harus berpegang pada tiga unsur penting yang dijelaskan Aristoteles, yaitu ethos, pathos, dan logos,” ujar Yuyun.

Baca juga  Pimpinan CimutNews Ucapkan Idul Fitri 1447 H, Tekankan Silaturahmi dan Profesionalisme Media

Selain teori komunikasi, peserta juga diajak memahami pentingnya membangun kapasitas diri secara terarah. Yuyun mengutip sebuah hadis yang bermakna bahwa kebenaran yang tidak terorganisasi dapat dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisasi.

Menurutnya, mahasiswa seharusnya tidak membatasi potensi dirinya hanya karena rasa takut atau hambatan yang sebenarnya masih bisa diatasi.

“Jangan membatasi diri agar kita dapat berkembang lebih dari apa yang kita bayangkan. Jangan jadikan kendala-kendala kecil yang sebenarnya bisa kita lewati sebagai penghalang besar untuk berkembang,” katanya.

Namun Tantangan Budaya Diskusi Masih Ada

Meski forum berlangsung aktif, namun fakta di lapangan menunjukkan budaya diskusi ilmiah di lingkungan mahasiswa masih menghadapi berbagai tantangan.

Berdasarkan pengamatan selama kegiatan berlangsung, tidak semua peserta langsung berani menyampaikan pandangan. Sebagian mahasiswa masih memilih menjadi pendengar dibanding mengemukakan opini secara terbuka.

Fenomena tersebut sebenarnya bukan hanya terjadi di satu kampus. Di berbagai perguruan tinggi, rendahnya keberanian berbicara dalam forum akademik masih kerap menjadi perhatian dosen maupun organisasi kemahasiswaan.

Di sisi lain, perkembangan media sosial membuat mahasiswa lebih mudah menyampaikan pendapat di ruang digital dibandingkan forum akademik secara langsung.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, apakah kemampuan komunikasi lisan dan budaya diskusi mulai bergeser akibat perubahan pola interaksi generasi muda?

FGD tersebut mencoba menjawab tantangan tersebut melalui pembahasan berbagai studi kasus yang dekat dengan kehidupan mahasiswa. Peserta diajak menganalisis bagaimana komunikasi yang baik dapat menjadi solusi dalam menyampaikan kritik, membangun kerja sama organisasi, hingga menghindari konflik akibat kesalahpahaman.

Ketua HIMA Prodi PAI, Sofia Arifatus Shofa, mengatakan kemampuan berbicara yang baik tidak muncul secara instan, melainkan harus dibangun melalui proses belajar dan latihan yang berkelanjutan.

Baca juga  Kejari OKI Dampingi Disdag Revitalisasi Pasar Rakyat

“Seseorang harus memiliki prinsip sehingga kehidupan yang dijalani tetap berjalan sesuai tujuan yang ingin dicapai. Jangan takut untuk memulai, karena pembicara hebat tidak lahir begitu saja. Mereka melalui proses belajar, berlatih, dan berbagai tahapan hingga akhirnya mampu menjadi pembicara yang baik,” ujarnya.

Ruang Belajar yang Perlu Dijaga

Sejumlah peserta yang mengikuti diskusi mengaku forum seperti ini memberi kesempatan untuk berlatih mengemukakan pendapat tanpa rasa takut dinilai salah. Mereka menilai kegiatan semacam ini masih perlu diperbanyak agar mahasiswa lebih terbiasa berpikir kritis sekaligus menyampaikan ide secara terstruktur.

Meski demikian, hingga kini, belum semua mahasiswa memiliki akses maupun keberanian yang sama untuk aktif dalam forum akademik. Faktor pengalaman, rasa percaya diri, hingga lingkungan organisasi diduga masih menjadi tantangan yang memengaruhi partisipasi mahasiswa dalam berdiskusi.

Sebagai tindak lanjut, HIMA Prodi PAI berencana menjadikan Focus Group Discussion sebagai agenda rutin setiap bulan dengan tema dan bahan bacaan yang berbeda.

Langkah tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan komunikasi mahasiswa, tetapi juga memperkuat budaya literasi, berpikir kritis, serta kolaborasi di lingkungan kampus.

Apakah forum-forum seperti ini nantinya mampu melahirkan lebih banyak mahasiswa yang berani menyampaikan gagasan dan menjadi agen perubahan di masyarakat? Jawabannya tentu akan bergantung pada konsistensi ruang diskusi yang terus dibangun serta partisipasi aktif mahasiswa itu sendiri. (Asep)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here