Beranda Banyuasin Tungkal Ilir Expo ke-9 Dorong UMKM Desa Naik Kelas, Jalan Penghubung Jadi...

Tungkal Ilir Expo ke-9 Dorong UMKM Desa Naik Kelas, Jalan Penghubung Jadi Perhatian

3
0
Bupati Banyuasin Askolani meninjau stan UMKM desa dalam rangkaian Tungkal Ilir Expo ke-9 di Kecamatan Tungkal Ilir, Banyuasin, Rabu (5/8/2026). (Foto: Noto/CimutNews)

BANYUASIN, CimutNews.co.id – Tungkal Ilir Expo ke-9 di Kabupaten Banyuasin tidak hanya menjadi ruang promosi produk unggulan desa. Agenda tahunan tersebut juga menjadi momentum untuk melihat kembali dua kebutuhan dasar yang menentukan pergerakan ekonomi masyarakat di wilayah perdesaan, yakni penguatan usaha lokal dan konektivitas antarwilayah.

Bupati Banyuasin Dr. H. Askolani, S.H., M.H. menyoroti dua aspek tersebut saat melakukan kunjungan kerja ke Kecamatan Tungkal Ilir, Rabu (5/8/2026). Selain membuka Tungkal Ilir Expo, Askolani meletakkan batu pertama pembangunan TK Carita Melia di Desa Karang Mulya, meresmikan Gedung Serbaguna Desa Karang Mulya, serta meninjau pembangunan jalan penghubung masyarakat.

Kegiatan yang mengusung tema “Banyuasin Bangkit, Adil, Sejahtera dan Berkelanjutan, UMKM Maju, Rakyat Bersatu, Ekonomi Tumbuh” itu dihadiri jajaran organisasi perangkat daerah, Polsek Tungkal Ilir, Koramil Tungkal Ilir, pemerintah kecamatan, serta pemerintah desa.

Tungkal Ilir Expo Jadi Etalase Produk Desa

Bagi pemerintah daerah, keberadaan expo tingkat kecamatan bukan sekadar agenda seremonial. Forum seperti ini dapat menjadi ruang mempertemukan produsen lokal dengan konsumen sekaligus memperkenalkan potensi ekonomi masing-masing desa.

Askolani meminta agar produk yang ditampilkan dalam Tungkal Ilir Expo benar-benar memiliki keterkaitan dengan potensi lokal. Menurut dia, nilai ekonomi akan semakin besar apabila masyarakat tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi mampu mengolahnya menjadi produk turunan.

“Saya mengapresiasi kegiatan Tungkal Ilir Expo ini, event ini terus dilaksanakan setiap tahunnya dan telah menjadi tempat berkumpulnya desa-desa dalam mempromosikan produk unggulan. Tapi pastinya saya harap produk-produk tersebut memang asli dari daerah kita, kalau bisa produk tersebut kita sendiri yang olah dan dijual sehingga membuat nilai jual,” ujar Askolani.

Pesan tersebut menempatkan hilirisasi sederhana sebagai salah satu tantangan UMKM desa. Produk pertanian, perkebunan, perikanan, maupun kerajinan memiliki peluang menghasilkan nilai tambah lebih besar ketika masuk ke tahap pengolahan, pengemasan, pemasaran, dan distribusi.

Baca juga  Bupati Askolani Dorong DPRD Banyuasin Kawal Aspirasi Warga, Percepatan Tol Jadi Sorotan

Bupati kemudian mengunjungi stan UMKM dari desa-desa di Kecamatan Tungkal Ilir. Peninjauan tersebut menjadi kesempatan bagi pemerintah daerah untuk melihat langsung jenis produk yang dipasarkan sekaligus memastikan potensi ekonomi desa tidak berhenti pada kegiatan pameran.

Ekonomi Banyuasin Masih Bertumpu pada Sektor Primer

Konteks tersebut penting karena struktur ekonomi Banyuasin masih kuat ditopang sektor berbasis sumber daya alam. Data BPS menunjukkan, pada 2024 lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menyumbang 31,25 persen terhadap PDRB Banyuasin.

Pada tahun yang sama, ekonomi Banyuasin tumbuh 5,14 persen. Sementara sektor Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor mencatat pertumbuhan tertinggi dari sisi produksi, yakni 10,89 persen. PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp39,63 triliun.

Angka tersebut menunjukkan adanya ruang untuk memperkuat hubungan antara produksi primer dengan perdagangan dan industri pengolahan. Dengan demikian, pengembangan UMKM desa tidak hanya berorientasi pada jumlah produk yang dijual, tetapi juga pada kemampuan menciptakan rantai nilai yang lebih panjang di dalam daerah.

BPS juga telah menerbitkan publikasi PDRB Banyuasin menurut lapangan usaha untuk periode 2021–2025 pada April 2026. Publikasi tersebut menyediakan data perkembangan struktur dan pertumbuhan ekonomi Banyuasin hingga 2025 yang dapat menjadi dasar evaluasi pembangunan ekonomi daerah.

Jalan Desa Menjadi Penentu Distribusi Produk

Persoalan lain yang muncul dalam kunjungan Askolani adalah pembangunan jalan penghubung desa. Infrastruktur ini memiliki hubungan langsung dengan aktivitas ekonomi masyarakat karena jalan menjadi jalur pergerakan orang, barang, dan jasa.

Di Desa Karang Mulya dan Desa Karang Anyar, pembangunan jalan telah dilakukan secara bertahap. Askolani menyebut pembangunan sebelumnya mencapai enam kilometer, kemudian ditambah dua kilometer pada tahun berikutnya. Pembangunan sempat terhenti akibat pandemi Covid-19 dan kembali dilanjutkan tahun ini.

“Jalan ini di Desa Karang Mulya dan juga Desa Karang Anyar, sudah kita bangun. Di periode pertama kemarin ada 6 kilometer, ditambah 2 kilometer di tahun berikutnya. Setelah itu Covid-19 kita stop dan sekarang tahun ini kita kembali kita lanjutkan,” kata Askolani.

Baca juga  Terungkap! Banyuasin Diminta Gali Sumber PAD Baru, Namun Sejumlah Potensi Dinilai Belum Maksimal

Menurut dia, keterbatasan kemampuan keuangan daerah membuat pembangunan harus dilakukan secara bertahap. Pemerintah Kabupaten Banyuasin, kata Askolani, tetap berupaya mencari solusi agar persoalan jalan di berbagai wilayah dapat diselesaikan.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan konektivitas daerah tidak selalu dapat diselesaikan sekaligus. Penentuan prioritas ruas, kesinambungan anggaran, serta koordinasi antarinstansi menjadi bagian penting agar pembangunan yang telah dimulai tidak berhenti di tengah jalan.

Konektivitas Desa Berkaitan dengan Pemerataan Ekonomi

Persoalan jalan di Tungkal Ilir juga berada dalam konteks kebijakan nasional. Pemerintah pusat dalam Program Instruksi Presiden Jalan Daerah (IJD) menempatkan konektivitas sebagai bagian dari upaya meningkatkan akses masyarakat dan memperlancar distribusi barang serta jasa.

Kementerian Pekerjaan Umum mencatat Program IJD Tahun Anggaran 2025 menangani sekitar 1.151 kilometer jalan di 37 provinsi. Pemerintah mengaitkan peningkatan kualitas jalan daerah dengan mobilitas masyarakat, efisiensi distribusi, dan terbukanya peluang ekonomi baru.

Kerangka pembangunan tersebut sejalan dengan arah RPJMN 2025–2029 yang ditetapkan melalui Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025. Pembangunan infrastruktur tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari upaya memperkuat konektivitas dan pemerataan pembangunan.

Bagi desa-desa di Tungkal Ilir, kualitas jalan pada akhirnya dapat menentukan seberapa mudah produk UMKM mencapai pasar. Jalan yang lebih baik berpotensi menekan waktu tempuh dan biaya distribusi, sementara akses yang terbatas dapat menjadi hambatan ketika pelaku usaha ingin memperluas pasar di luar wilayah kecamatan.

Pembangunan Tidak Berhenti pada Infrastruktur Fisik

Agenda Bupati Banyuasin di Tungkal Ilir memperlihatkan bahwa pembangunan wilayah berjalan melalui beberapa sektor sekaligus. Jalan menyangkut konektivitas, expo menyangkut aktivitas ekonomi, pembangunan TK berkaitan dengan layanan pendidikan dasar, sedangkan gedung serbaguna berkaitan dengan fasilitas sosial masyarakat.

Baca juga  Terungkap! Persiapan Kunjungan Wamendes Dimatangkan, Namun Kondisi Lapangan Masih Jadi Perhatian

Dalam jangka pendek, kegiatan expo dapat meningkatkan aktivitas transaksi dan mempertemukan pelaku UMKM dengan konsumen. Namun manfaat ekonominya akan lebih besar apabila promosi tersebut diikuti pembinaan kualitas produk, pengemasan, pemasaran digital, akses pembiayaan, serta perluasan pasar.

Dalam jangka panjang, tantangannya adalah menjaga agar kegiatan tahunan tidak berhenti sebagai agenda pameran. Produk unggulan desa perlu memiliki kesinambungan produksi dan pasar sehingga aktivitas ekonomi dapat berlangsung setelah expo berakhir.

Di sisi lain, pembangunan jalan membutuhkan kesinambungan anggaran. Ruas yang dikerjakan secara bertahap perlu dipastikan memiliki perencanaan dan prioritas yang jelas agar konektivitas antardesa benar-benar menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.

Pendidikan dan Fasilitas Publik Ikut Masuk Agenda

Selain sektor ekonomi dan infrastruktur jalan, kunjungan tersebut mencakup pembangunan fasilitas pendidikan dan sosial.

Askolani melakukan peletakan batu pertama pembangunan Gedung TK Carita Melia di Desa Karang Mulya. Ia juga meresmikan Gedung Serbaguna Desa Karang Mulya.

Dua agenda tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan desa tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi. Ketersediaan fasilitas pendidikan sejak usia dini dan ruang publik juga menjadi bagian dari pembangunan kualitas sumber daya manusia serta kehidupan sosial masyarakat.

Bila dikaitkan dengan agenda pembangunan jangka panjang, investasi pada pendidikan dasar dan konektivitas memiliki efek yang melampaui satu periode anggaran. Infrastruktur membuka akses, sementara pendidikan memperkuat kapasitas masyarakat untuk memanfaatkan akses tersebut. (Noto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here