
KOTA BANDUNG, cimutnews.co.id — Malam Grand Final Mojang Jajaka Jawa Barat 2026 akhirnya melahirkan dua nama baru. Tresna Winesa dari Kabupaten Majalengka terpilih sebagai Mojang Jawa Barat 2026, sementara Alden Hugo dari Kota Cimahi dinobatkan sebagai Jajaka Jawa Barat 2026.
Penobatan berlangsung di Gedung GSG PA Suryadi Universitas Kristen Maranatha, Kota Bandung, Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Sekitar 1.500 orang disebut hadir, dengan mayoritas pengunjung datang dari luar Kota Bandung untuk memberikan dukungan kepada para finalis.
Namun, di balik kemeriahan panggung dan penobatan tersebut, ada pekerjaan yang jauh lebih besar menanti. Gelar Mojang dan Jajaka bukan hanya soal kemenangan dalam sebuah ajang, tetapi juga tuntutan untuk membawa nama pariwisata, budaya dan ekonomi kreatif Jawa Barat ke ruang publik.
Pertanyaannya, seberapa besar dampak gelar tersebut nantinya benar-benar dirasakan masyarakat dan daerah yang mereka wakili?
Bukan Sekadar Penampilan di Atas Panggung
Sebelum mencapai malam final, para peserta harus melewati sejumlah tahapan penilaian. Rangkaian tersebut mencakup karantina, Sawala, Presentasi Social Project, Deep Interview hingga Unjuk Kabisa.
Tahapan itu menunjukkan bahwa kompetisi tidak hanya menempatkan penampilan sebagai ukuran utama. Kemampuan komunikasi, gagasan sosial, wawasan serta kemampuan memperkenalkan potensi daerah juga menjadi bagian dari proses penilaian.
Tresna dan Alden kemudian keluar sebagai pasangan terpilih pada ajang Mojang Jajaka Jawa Barat 2026.
Kemenangan itu sekaligus membawa ekspektasi baru. Mereka diharapkan tidak berhenti pada status sebagai pemenang, tetapi mampu menjalankan peran sebagai duta pariwisata dan budaya Jawa Barat.
Pemprov Jabar Minta Mereka Jadi Agen Perubahan
Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan menegaskan, Mojang Jajaka Jawa Barat harus mampu mengambil peran lebih luas di tengah masyarakat.
Menurutnya, para duta tersebut perlu ikut mempromosikan berbagai destinasi unggulan Jawa Barat, termasuk desa-desa wisata.
Mereka juga didorong untuk menggaungkan ekonomi kreatif, wastra dan kuliner sekaligus menjaga nilai-nilai luhur daerah agar tetap relevan bagi generasi muda hingga dikenal di tingkat internasional.
“Mojang Jajaka Jawa Barat harus mampu mempromosikan destinasi unggulan, termasuk desa-desa wisatanya,” ujar Erwan.
Pesan tersebut menjadi penting karena Jawa Barat memiliki potensi wisata dan budaya yang tersebar di banyak daerah. Tantangannya bukan sekadar memperkenalkan destinasi yang sudah populer, tetapi juga membawa potensi yang belum banyak diketahui ke hadapan publik.
Erwan juga meminta para finalis mengangkat potensi daerah masing-masing.
Artinya, mahkota yang diberikan di atas panggung diharapkan berubah menjadi kerja nyata setelah acara berakhir.
Di Sisi Lain, Tantangan Besarnya Ada Setelah Penobatan
Malam final dapat berakhir ketika lampu panggung dipadamkan. Namun tugas sebagai duta pariwisata dan budaya justru baru dimulai.
Di sinilah tantangan sebenarnya muncul.
Mojang dan Jajaka Jawa Barat harus mampu mengubah popularitas ajang menjadi promosi yang berdampak. Tidak hanya melalui unggahan media sosial, tetapi juga dengan mengenalkan destinasi, produk ekonomi kreatif, kuliner, wastra dan budaya lokal secara berkelanjutan.
Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah seluruh potensi daerah yang begitu luas mampu benar-benar terangkat hanya melalui figur duta pariwisata?
Jawabannya tentu membutuhkan waktu dan kerja lanjutan.
Terlebih, keberhasilan promosi wisata tidak hanya bergantung pada figur yang memperkenalkannya. Akses menuju destinasi, fasilitas, kebersihan, kenyamanan, kualitas pelayanan serta kesiapan pelaku usaha lokal juga ikut menentukan apakah wisatawan akan datang dan kembali lagi.
Delapan Orang Mendapat Beasiswa S2
Ajang Mojang Jajaka Jawa Barat 2026 juga membawa kabar lain di luar kompetisi gelar.
Sebanyak delapan penerima memperoleh beasiswa studi lanjut jenjang strata dua atau S2 dengan total nilai Rp500 juta.
Beasiswa tersebut diberikan kepada pasangan Juara Satu atau Pinilih, Juara Dua atau Wakil I, Juara Tiga atau Wakil II, serta Harapan Satu.
Dukungan pendidikan ini menjadi salah satu sisi penting dari ajang tersebut. Sebab, kompetisi tidak hanya menghasilkan figur yang membawa gelar, tetapi juga membuka kesempatan bagi sejumlah finalis untuk melanjutkan pendidikan.
Namun, manfaat jangka panjang dari program tersebut baru dapat terlihat setelah para penerima menyelesaikan pendidikan dan mampu mengembangkan kapasitasnya di masyarakat.
Pemerintah Ingin Alumni Tetap Bergerak
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat Iendra Sofyan berharap seluruh alumni Mojang Jajaka 2026 tetap berkontribusi dalam memperkenalkan potensi pariwisata dan budaya daerah.
Ia menyebut seluruh peserta sebagai pemenang dan berharap rangkaian kegiatan tersebut menempa mereka menjadi pribadi yang lebih tangguh sebagai duta pariwisata dan budaya.
Harapan itu sekaligus memperluas makna ajang Mojang Jajaka.
Jika peran mereka berhenti setelah malam penobatan, maka dampak terhadap masyarakat tentu akan terbatas. Sebaliknya, jika para pemenang dan alumni benar-benar aktif turun ke daerah, mengenalkan produk lokal, membantu promosi destinasi dan mengangkat budaya setempat, maka gelar tersebut berpotensi memiliki nilai yang lebih panjang.
Fakta yang Masih Harus Dibuktikan
Berdasarkan informasi penyelenggaraan, sekitar 1.500 pengunjung hadir dalam malam grand final dan mayoritas disebut berasal dari luar Kota Bandung.
Antusiasme tersebut menunjukkan daya tarik ajang Mojang Jajaka masih cukup kuat.
Namun fakta di lapangan menunjukkan, keberhasilan sebuah ajang duta wisata pada akhirnya tidak hanya dapat diukur dari jumlah penonton atau kemeriahan acara.
Ukuran yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah acara selesai.
Apakah kunjungan wisata ke daerah yang diperkenalkan ikut meningkat? Apakah pelaku UMKM dan ekonomi kreatif memperoleh manfaat? Apakah destinasi yang selama ini kurang dikenal menjadi lebih ramai? Dan apakah generasi muda benar-benar semakin dekat dengan budaya daerahnya?
Hingga kini, belum semua pertanyaan tersebut memiliki jawaban yang dapat diukur dari malam penobatan saja.
Dari Mahkota Menuju Kerja Nyata
Tresna Winesa dan Alden Hugo kini membawa gelar Mojang dan Jajaka Jawa Barat 2026.
Kemenangan tersebut tentu menjadi pencapaian penting bagi keduanya. Bagi Kabupaten Majalengka dan Kota Cimahi, gelar itu juga menjadi kebanggaan tersendiri.
Tetapi setelah sorotan kamera berakhir, tantangan baru menunggu.
Mereka dituntut membuktikan bahwa seorang duta pariwisata bukan sekadar wajah di panggung, melainkan komunikator yang mampu membawa cerita daerah kepada masyarakat yang lebih luas.
Terungkapnya potensi wisata, budaya, wastra dan ekonomi kreatif Jawa Barat pada akhirnya akan sangat bergantung pada bagaimana para duta tersebut menjalankan perannya.
Pertanyaan besarnya kini bukan lagi siapa yang memenangkan mahkota.
Melainkan, seberapa jauh mahkota itu mampu berubah menjadi manfaat nyata bagi masyarakat Jawa Barat? (Siti)

















