Beranda Nusantara Terungkap, 24 Calon Pimpinan BAZNAS Garut Berebut 20 Kursi

Terungkap, 24 Calon Pimpinan BAZNAS Garut Berebut 20 Kursi

6
0
Bupati Garut Abdusy Syakur Amin saat membuka seleksi kompetensi calon pimpinan BAZNAS Kabupaten Garut periode 2026–2031 di MAN 1 Garut, Kamis (20/8/2026). (Foto: Holil/cimutnews.co.id)

GARUT, cimutnews.co.id — Sebanyak 24 peserta mengikuti seleksi kompetensi calon pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Garut periode 2026–2031. Seleksi ini menjadi tahapan penting karena mereka nantinya akan berada di balik pengelolaan dana zakat yang bersumber dari amanah masyarakat.

Seleksi berlangsung di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Garut, Kecamatan Karangpawitan, Kamis, 20 Agustus 2026. Kegiatan tersebut dibuka langsung Bupati Garut Abdusy Syakur Amin.

Namun, seleksi ini bukan sekadar soal siapa yang memperoleh nilai tertinggi.

Di balik proses Computer Assisted Test (CAT) dan penulisan makalah, ada pertanyaan yang lebih besar: seberapa jauh proses seleksi tersebut mampu menghasilkan pimpinan BAZNAS yang benar-benar siap menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan zakat?

24 Peserta, Hanya 20 yang Melaju

Sebanyak 24 peserta yang telah dinyatakan lulus administrasi mengikuti tahapan ujian berbasis komputer atau CAT serta penulisan makalah.

Berdasarkan ketentuan yang disampaikan panitia, nantinya hanya 20 peserta dengan nilai tertinggi yang akan ditetapkan berdasarkan hasil konsultasi dengan Kementerian Agama Republik Indonesia.

Artinya, empat peserta akan tersisih dari tahapan tersebut.

Persaingan ini membuat mekanisme penilaian menjadi bagian penting yang patut diperhatikan, terlebih posisi pimpinan BAZNAS berkaitan langsung dengan tata kelola zakat dan pelayanan kepada masyarakat.

Bupati Garut Abdusy Syakur Amin menegaskan bahwa calon pimpinan BAZNAS harus memiliki kemampuan mengelola lembaga secara profesional, transparan, akuntabel, dan bertanggung jawab.

“BAZNAZ itu lembaga-lembaga yang harus dilaksanakan profesional, transparan, akuntable dan responsible,” kata Abdusy Syakur.

Menurutnya, kemampuan tersebut dibutuhkan untuk membangun tata kelola BAZNAS yang baik ke depan.

Ia juga menekankan agar seluruh proses seleksi dilaksanakan secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sistem CAT Disebut Menutup Celah Kebocoran Soal

Baca juga  Polres Blitar, TNI, dan BPBD Kabupaten Blitar Berhasil Evakuasi Korban Tenggelam di Dam Sungai Berut Jatinom

Salah satu aspek yang mendapat perhatian dalam seleksi kali ini adalah penggunaan sistem CAT yang terintegrasi melalui Sistem Informasi Zakat (Simzak) Kementerian Agama RI.

Dengan sistem tersebut, peserta mengerjakan soal secara langsung melalui sistem yang telah disiapkan.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Garut Bambang Hafidz mengatakan panitia tidak mengetahui maupun memiliki akses terhadap bank soal yang digunakan dalam ujian.

“Jadi perlu kami laporkan juga, sampai detik inipun kami dari tim panitia tidak mengetahui, mengakses dan membuka bank data soal,” ujarnya.

Menurut Bambang, akses terhadap soal hanya dapat dilakukan peserta ketika pelaksanaan ujian berlangsung. Karena itu, ia menilai peluang kebocoran soal dapat ditekan.

“Jadi bahwa indikasi kebocoran insyaallah 100% tidak ada,” katanya.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu jaminan panitia mengenai integritas proses seleksi.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, memastikan seleksi berlangsung bersih bukan hanya bergantung pada keamanan soal.

Transparansi Tak Berhenti Saat Ujian Selesai

Keamanan bank soal memang penting. Tetapi bagi lembaga yang mengelola dana zakat masyarakat, transparansi memiliki ruang yang jauh lebih luas.

Masyarakat bukan hanya berkepentingan mengetahui bahwa soal ujian tidak bocor. Mereka juga memiliki kepentingan terhadap siapa yang akhirnya terpilih, bagaimana rekam kompetensinya, bagaimana proses penilaiannya, dan bagaimana kinerja pimpinan terpilih nantinya dapat dipantau.

Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan pada tahap berikutnya karena hasil seleksi dan mekanisme penentuan akhir menjadi bagian yang tidak kalah penting.

Hingga kini, belum semua rincian mengenai proses penilaian dan profil kompetensi masing-masing peserta disampaikan secara terbuka dalam informasi yang tersedia.

Hal ini menimbulkan pertanyaan: setelah CAT selesai, seberapa terbuka publik akan mengetahui alasan di balik terpilihnya para calon pimpinan BAZNAS tersebut?

Baca juga  Polres Blitar Kota Launching SPPG YKB Cik Ditiro, Siap Layani 1.500 Paket MBG

Pertanyaan itu menjadi relevan karena BAZNAS bukan sekadar lembaga administratif. Dana yang dikelola berasal dari zakat masyarakat yang memiliki dimensi sosial dan keagamaan sekaligus.

Bukan Sekadar Mencari Nilai Tertinggi

Seleksi berbasis CAT memang dapat membantu memberikan ukuran objektif terhadap kemampuan peserta dalam menjawab soal.

Namun, kemampuan mengerjakan ujian belum otomatis menggambarkan keseluruhan kapasitas seseorang dalam memimpin lembaga pengelola zakat.

Pimpinan BAZNAS juga dituntut memahami tata kelola, akuntabilitas, pelayanan masyarakat, pengumpulan dan pendistribusian zakat, serta kemampuan membangun kepercayaan publik.

Karena itu, penulisan makalah dan tahapan seleksi lainnya menjadi penting untuk melihat kemampuan peserta dari sisi yang lebih luas.

Berdasarkan informasi panitia, 20 peserta dengan nilai tertinggi akan ditetapkan setelah melalui konsultasi dengan Kementerian Agama RI.

Namun, rincian lebih lanjut mengenai bagaimana seluruh aspek kompetensi dibandingkan dan dipertimbangkan dalam menentukan calon terbaik belum dijelaskan secara rinci dalam informasi yang disampaikan.

Ada Pekerjaan Rumah Setelah Seleksi

Terlepas dari hasil seleksi, pekerjaan terbesar justru berada setelah para pimpinan terpilih menjalankan tugasnya.

Pengelolaan zakat membutuhkan kepercayaan. Ketika masyarakat menunaikan zakat, mereka berharap dana tersebut dikelola dengan amanah dan disalurkan kepada mereka yang berhak.

Karena itu, transparansi semestinya tidak berhenti di ruang ujian.

Laporan pengelolaan dana, mekanisme penyaluran, capaian penghimpunan zakat, hingga dampak program terhadap penerima manfaat menjadi bagian yang pada akhirnya akan menentukan apakah janji profesionalitas benar-benar terlihat dalam praktik.

Seleksi 24 calon pimpinan BAZNAS Garut periode 2026–2031 kini memasuki tahapan penting. Dua puluh peserta dengan nilai tertinggi akan menjadi bagian dari proses berikutnya.

Tetapi pertanyaan publik tidak berhenti pada siapa yang lolos.

Pertanyaan yang lebih besar adalah apakah proses seleksi ini benar-benar mampu melahirkan kepemimpinan BAZNAS yang transparan, akuntabel, profesional, sekaligus mampu menjaga kepercayaan masyarakat dalam mengelola zakat.

Baca juga  Terungkap, Fasilitas Limbah Jadi Sorotan Program Makan Gratis

Jawabannya baru akan terlihat setelah proses seleksi berakhir dan para calon terpilih mulai menjalankan amanahnya. (Holil)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here