Beranda Nusantara FFB ke-39 Digelar Meriah, Tapi Masa Depan Perfilman Bandung Belum Usai

FFB ke-39 Digelar Meriah, Tapi Masa Depan Perfilman Bandung Belum Usai

7
0
Malam puncak Festival Film Bandung (FFB) ke-39 berlangsung di Ballroom Hotel Horison Ultima Bandung, Sabtu, 22 Agustus 2026. (Foto: Siti/cimutnews.co.id)

KOTA BANDUNG, cimutnews.co.id — Malam puncak Festival Film Bandung (FFB) ke-39 berlangsung meriah di Ballroom Hotel Horison Ultima Bandung, Sabtu, 22 Agustus 2026. Puluhan selebriti, sineas, produser, tokoh perfilman hingga pejabat pemerintah hadir dalam salah satu ajang apresiasi film yang telah bertahan hampir empat dekade tersebut.

Di atas panggung, penghargaan diberikan kepada sejumlah nama dan karya yang dinilai menonjol. Namun di balik gemerlap malam penghargaan itu, ada persoalan yang jauh lebih besar: bagaimana memastikan ekosistem perfilman tidak berhenti pada seremoni penghargaan?

Pertanyaan tersebut menjadi relevan karena keberlangsungan industri film tidak hanya ditentukan oleh banyaknya karya yang diproduksi atau penghargaan yang diberikan, tetapi juga oleh keberadaan orang-orang yang bekerja di belakang seluruh proses produksi.

FFB ke-39 dan 344 Karya yang Diamati

FFB tahun ini mengusung tema “Sinema Rona Keluarga”.

Penghargaan Terpuji diberikan berdasarkan pengamatan independen terhadap 344 karya yang terdiri dari 144 film Indonesia, 151 film impor, 26 serial televisi dan 23 serial web.

FFB sendiri telah hadir di Bandung sejak 1987 sebagai organisasi independen yang mengamati sekaligus memberikan apresiasi terhadap perkembangan film Indonesia.

Selama 39 tahun, keberadaan FFB menjadi bagian dari perjalanan perfilman nasional. Bandung pun memiliki jejak panjang dalam sejarah sinema Indonesia, antara lain melalui karya seperti Lutung Kasarung, Lewat Tengah Malam hingga Gadis Marathon.

Bagi Pemerintah Kota Bandung, sejarah tersebut menjadi modal penting untuk terus menempatkan kota ini sebagai salah satu ruang tumbuh perfilman nasional.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan bahwa industri film tidak akan berjalan tanpa manusia yang menjadi penggeraknya.

“Ekosistem perfilman harus punya satu syarat utama, yaitu pelaku. Tanpa pelaku, ekosistem ini akan ambruk.”

Farhan juga mengingatkan bahwa keberadaan investor dan penonton saja belum cukup jika tidak dibarengi dengan pelaku industri yang mampu menghasilkan karya.

Baca juga  Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Terpilih, Polres Aceh Tengah Kerahkan Ratusan Personil Pengamanan

Menurut dia, penghargaan FFB merupakan bentuk apresiasi terhadap insan perfilman yang terus menghasilkan karya dan konsisten berkarya.

Namun Fakta di Lapangan Menunjukkan, Penghargaan Bukan Akhir Perjalanan

Pernyataan tersebut sekaligus membuka persoalan yang lebih luas.

Jika pelaku menjadi fondasi utama ekosistem perfilman, maka pertanyaan berikutnya adalah bagaimana memastikan mereka memiliki ruang untuk terus berkarya, mendapatkan kesempatan produksi, memperoleh akses pembiayaan, sekaligus membangun karier secara berkelanjutan?

Di sisi lain, kondisi industri film tidak hanya berkaitan dengan aktor dan sutradara. Ada penulis skenario, penata kamera, editor, penata artistik, penata musik, kru produksi, pekerja kreatif, hingga pelaku ekonomi pendukung yang ikut menentukan lahirnya sebuah film.

Artinya, sebuah penghargaan memang dapat menjadi pengakuan atas kualitas karya. Tetapi penghargaan belum otomatis menjawab seluruh persoalan ekosistem.

Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah geliat perfilman di Bandung sudah diikuti dengan ruang yang cukup bagi pelaku baru untuk tumbuh?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika pemerintah daerah menyatakan ingin memperkuat posisi Bandung dalam perkembangan perfilman nasional.

Film Bukan Sekadar Hiburan

Farhan menyebut film sebagai jendela bagi sebuah bangsa.

Menurutnya, film juga menjadi titik pertemuan berbagai cabang seni, mulai dari desain, seni rupa, musik, teater, tari hingga teknologi.

“Film hadir menjadi jendela bagi sebuah bangsa.”

Pernyataan itu menunjukkan bahwa perfilman sebenarnya memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar industri hiburan.

Sebuah produksi film dapat melibatkan banyak profesi dan membuka ruang bagi ekonomi kreatif. Pada saat yang sama, film dapat membawa cerita lokal ke ruang yang lebih luas.

Karena itu, ketika Bandung berbicara tentang ekosistem perfilman, persoalannya bukan hanya bagaimana membuat film menjadi lebih banyak, tetapi bagaimana memastikan rantai industrinya ikut tumbuh.

Baca juga  SIBADAK Diluncurkan, Mampukah Data Digital Benar-Benar Ubah Pelayanan Warga?

Hingga kini, belum semua persoalan tersebut terjawab hanya melalui sebuah malam penghargaan.

Pangku Menjadi Salah Satu Film yang Paling Menonjol

Dalam malam penganugerahan FFB ke-39, film Pangku menjadi salah satu karya dengan raihan penghargaan terbanyak.

Film tersebut memperoleh tiga penghargaan Terpuji, yakni Film Indonesia Terpuji, Pemeran Utama Wanita Terpuji melalui Claresta Taufan, serta Sutradara Terpuji melalui Reza Rahadian.

Selain itu, sejumlah nama lain juga menerima penghargaan dari berbagai kategori.

Berikut daftar penerima penghargaan Terpuji FFB ke-39 Tahun 2026:

  1. Film Indonesia Terpuji: Pangku
  2. Pemeran Utama Wanita Terpuji Film Indonesia: Claresta Taufan — Pangku
  3. Pemeran Utama Pria Terpuji Film Indonesia: Jared Ali — Children of Heaven dan Reza Rahadian — Semua Akan Baik-Baik Saja
  4. Sutradara Terpuji Film Indonesia: Reza Rahadian — Pangku
  5. Lifetime Achievement: Christine Hakim
  6. Pemeran Pembantu Wanita Terpuji Film Indonesia: Meriam Bellina — Senin Harga Naik
  7. Penulis Skenario Terpuji Film Indonesia: Johanna Wattimena dan Bernardus Raka — Nobody Loves Kay
  8. Penata Kamera Terpuji: Vera Lestafa — Dopamin
  9. Penata Editing Terpuji: Aline Jusria — Dopamin
  10. Penata Artistik Terpuji: Rini Sri Handayani — Na Willa
  11. Penata Musik Terpuji: Ofel Obaja Setiawan — Na Willa
  12. Pemeran Pembantu Pria Terpuji Film Indonesia: Aming — Ghost in the Cell
  13. Pemeran Wanita Terpuji Serial Televisi: Adhisty Zara — Beri Cinta Waktu
  14. Pemeran Pria Terpuji Serial Televisi: Fendy Chow — Terikat Janji
  15. Serial Web Terpuji: Ganteng-Ganteng Genteng: Kontes Otot Paling Viral
  16. Pemeran Utama Wanita Terpuji Serial Web: Wulan Guritno — Mama-Mama Pengejar Cinta
  17. Pemeran Utama Pria Terpuji Serial Web: Yesaya Abraham — Secret High School
  18. Sutradara Terpuji Serial Web: Lucky Kuswandi — Ratu Ratu Queens: The Series
  19. Pemeran Pembantu Pria Terpuji Serial Web: Randy Martin — Generasi D’Bijis
  20. Pemeran Pembantu Wanita Terpuji Serial Web: Alexandra Gottardo — Balas Dendam Istri yang Tak Dianggap

Jejak Panjang Bandung dan Pekerjaan Rumah yang Tersisa

Baca juga  IPHI Ciamis Bangkit Setelah Vakum Dua Tahun, 60 Pengurus Disiapkan Perkuat Peran Sosial Keagamaan

FFB ke-39 kembali memperlihatkan bahwa Bandung bukan sekadar lokasi penyelenggaraan sebuah malam penghargaan.

Kota ini memiliki hubungan historis dengan perkembangan sinema Indonesia. Namun sejarah panjang tidak dengan sendirinya menjamin masa depan industri.

Dibutuhkan keberlanjutan ruang kreatif, regenerasi pelaku, kesempatan produksi, akses terhadap teknologi, serta dukungan terhadap berbagai profesi yang bekerja di balik layar.

Bagi pemerintah daerah, tantangannya juga bukan sekadar mempertahankan citra Bandung sebagai kota kreatif. Yang lebih penting adalah memastikan ekosistem tersebut benar-benar memberi ruang kepada pelaku perfilman untuk tumbuh.

Terlebih, perkembangan platform digital dan serial web telah membuat pola konsumsi masyarakat berubah. Persaingan mendapatkan perhatian penonton semakin luas dan tidak lagi terbatas pada bioskop atau televisi.

Karena itu, penghargaan tetap penting sebagai bentuk apresiasi. Tetapi setelah lampu panggung padam, pekerjaan yang lebih panjang justru dimulai.

Hingga kini, belum semua pertanyaan mengenai masa depan ekosistem perfilman Bandung terjawab.

Apakah sejarah panjang Bandung dalam perfilman nasional akan mampu diteruskan oleh generasi baru, atau berbagai penghargaan yang diberikan setiap tahun masih akan menjadi simbol tanpa diikuti penguatan ekosistem secara menyeluruh?

Jawabannya akan terlihat bukan hanya di atas panggung penghargaan, tetapi dari seberapa besar ruang yang tersedia bagi para pelaku film untuk terus berkarya. (Siti)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here