Beranda Pagar Alam Majelis Maulid Digelar di Pagar Alam, Pesantren Kembali Disorot sebagai Benteng Moral

Majelis Maulid Digelar di Pagar Alam, Pesantren Kembali Disorot sebagai Benteng Moral

34
0
Wakil Wali Kota Pagar Alam Hj. Bertha saat membuka Majelis Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Daarul Kutub El-Gontori, Airlaga, Kamis malam (13/08/2026). (Foto: Hafis/cimutnews.co.id)

PAGAR ALAM, cimutnews.co.id — Majelis Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Daarul Kutub El-Gontori, Airlaga, Kecamatan Pagar Alam Utara, bukan hanya menjadi agenda keagamaan pada Kamis malam, 13 Agustus 2026.

Di tengah suasana religius tersebut, muncul kembali pesan bahwa pembangunan daerah tidak cukup hanya berbicara soal jalan, ekonomi, dan infrastruktur. Ada sisi lain yang juga dianggap penting: pembentukan karakter dan kehidupan spiritual masyarakat.

Majelis itu secara resmi dibuka Wakil Wali Kota Pagar Alam, Hj. Bertha. Dalam kesempatan tersebut, ia menempatkan pesantren sebagai salah satu ruang penting dalam membentuk generasi muda yang berakhlak, berilmu, dan memiliki integritas.

Namun, pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut sekaligus membuka pertanyaan yang lebih luas: sejauh mana pembangunan spiritual benar-benar berjalan berdampingan dengan pembangunan fisik di tengah masyarakat?

Pesantren dan Peran yang Lebih Besar

Dalam sambutannya, Hj. Bertha mengapresiasi konsistensi Pondok Pesantren Daarul Kutub El-Gontori dalam menjalankan fungsi keagamaan dan pendidikan.

Menurutnya, pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga dapat berperan sebagai benteng moral sekaligus pusat syiar Islam di Kota Pagar Alam.

Pandangan tersebut menjadi penting karena tantangan pembinaan generasi muda tidak berhenti pada persoalan pendidikan formal.

Lingkungan sosial, perkembangan teknologi, perubahan pola pergaulan, hingga derasnya arus informasi ikut membentuk karakter anak-anak dan remaja.

Karena itu, keberadaan lembaga pendidikan keagamaan seperti pesantren dinilai memiliki posisi strategis.

Maulid Bukan Hanya Agenda Seremonial

Hj. Bertha juga menegaskan bahwa Majelis Maulid Nabi Muhammad SAW seharusnya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.

Momentum tersebut diharapkan menjadi ruang untuk kembali meneladani akhlak dan kehidupan Rasulullah SAW sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah antara pemerintah, ulama, santri, dan masyarakat.

Baca juga  Terungkap, 70 Paskibraka Pagar Alam Siap Bertugas 17 Agustus

“Melalui majelis ini, mari kita bersama-sama memohon keberkahan dan kedamaian untuk Kota Pagar Alam,” ujar Hj. Bertha.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan keagamaan juga ditempatkan sebagai bagian dari upaya membangun hubungan sosial antara berbagai unsur masyarakat.

Di sisi lain, tantangannya adalah memastikan pesan moral yang disampaikan dalam sebuah majelis tidak berhenti ketika acara berakhir.

Di Sini Letak Tantangannya

Pembangunan spiritual memang tidak mudah diukur dengan angka seperti pembangunan jalan, gedung, atau capaian ekonomi.

Dampaknya lebih banyak terlihat dalam perilaku masyarakat, kualitas hubungan sosial, kepedulian terhadap lingkungan, serta cara generasi muda menghadapi perubahan zaman.

Namun fakta di lapangan menunjukkan, informasi yang tersedia terkait kegiatan ini belum memuat penjelasan rinci mengenai bagaimana pembinaan spiritual tersebut diukur hasilnya atau program lanjutan apa yang akan dilakukan setelah kegiatan.

Hal ini bukan berarti kegiatan tersebut tidak memberikan manfaat.

Sebaliknya, justru terdapat ruang yang masih terbuka untuk melihat bagaimana pesan tentang pembangunan mental dan spiritual diterjemahkan menjadi program yang berkelanjutan.

Pemerintah, Pesantren, dan Masyarakat

Hj. Bertha menekankan bahwa pembangunan Kota Pagar Alam tidak semestinya hanya berorientasi pada infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi.

Pembangunan mental dan spiritual masyarakat juga disebut perlu mendapat perhatian.

Gagasan itu menempatkan pemerintah bukan hanya sebagai pengelola pembangunan fisik, tetapi juga sebagai pihak yang perlu membangun ekosistem sosial yang mendukung pendidikan karakter.

Di sisi lain, pesantren memiliki peran tersendiri dalam menjalankan pendidikan dan pembinaan keagamaan.

Keduanya dapat berjalan beriringan apabila terdapat kesinambungan antara kegiatan keagamaan, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, serta pembinaan generasi muda.

Hingga kini, belum semua aspek tersebut terlihat dalam informasi mengenai kegiatan Majelis Maulid yang digelar di Pondok Pesantren Daarul Kutub El-Gontori.

Baca juga  Hari Koperasi dan HANI Diperingati Bersamaan, Sejauh Mana Dampaknya Benar-Benar Dirasakan Masyarakat?

Sejumlah Tokoh Hadir

Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh dan unsur pemerintahan.

Di antaranya Habib Abdur Rahman Al Habsyi, Habib Mustofa Kamal Alhabsy, Ustaz Muhaemin Ahmad Zaeni, Wakil Ketua I DPRD Kota Pagar Alam Hj. Desy Siska, serta Kabag Kesra Dadang Kurnia Jaya.

Habib Abdur Rahman Al Habsyi juga menyampaikan tausiah dan nasihat keagamaan kepada jamaah dan para santri yang hadir.

Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan dapat menjadi titik temu antara pemerintah, ulama, lembaga pendidikan keagamaan, dan masyarakat.

Pertanyaan yang Masih Terbuka

Majelis Maulid Nabi akhirnya bukan hanya berbicara tentang sebuah acara yang berlangsung satu malam.

Lebih jauh, kegiatan tersebut membawa pesan mengenai pentingnya pembangunan manusia di tengah agenda pembangunan daerah yang terus berjalan.

Pertanyaannya kemudian bukan semata-mata seberapa meriah sebuah majelis digelar.

Tetapi, seberapa jauh nilai-nilai yang disampaikan dalam majelis itu dapat diterjemahkan menjadi perilaku, pendidikan karakter, dan pembinaan generasi muda secara berkelanjutan?

Apakah pembangunan spiritual di Kota Pagar Alam nantinya akan memiliki program yang lebih terukur dan berkesinambungan, atau kegiatan semacam ini akan tetap menjadi momentum yang datang dan berlalu?

Jawabannya masih menjadi pekerjaan bersama pemerintah, pesantren, ulama, dan masyarakat. (Hafis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here