Beranda Palembang 8.000 Masker Dibagikan di Palembang, Relawan Bergerak Hadapi Kabut Asap

8.000 Masker Dibagikan di Palembang, Relawan Bergerak Hadapi Kabut Asap

8
0
Relawan bersiap membagikan masker kepada pengguna jalan di sejumlah perempatan Kota Palembang sebagai respons terhadap kabut asap.(Foto:Poerba/cimutnews)

PALEMBANG, cimutnews.co.id — Sebanyak 8.000 masker disiapkan untuk dibagikan kepada masyarakat di sejumlah perempatan lampu merah Kota Palembang sebagai respons terhadap kabut asap yang mengganggu aktivitas warga. Aksi tersebut dilepas Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan Dr. H. Edward Candra dari Halaman Gedung DPRD Sumsel.

Kegiatan yang diinisiasi Asosiasi Perusahaan Perhutanan itu melibatkan komunitas pengemudi ojek online (ojol) dan mahasiswa. Selain membagikan masker, para relawan diminta memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya paparan asap dan pentingnya perlindungan diri.

8.000 Masker Menyasar Pengguna Jalan

Ketua Asosiasi Perusahaan Perhutanan Iwan Setiawan mengatakan, sebanyak 8.000 masker didistribusikan dengan sasaran utama masyarakat yang beraktivitas di persimpangan lampu merah.

Pemilihan lokasi tersebut bukan tanpa alasan. Persimpangan menjadi titik dengan paparan langsung yang cukup tinggi bagi pengendara sepeda motor, pengemudi ojol, pedagang, maupun warga yang harus menunggu dalam kondisi lalu lintas terbuka.

Menurut Iwan, pembagian masker merupakan bentuk kepedulian asosiasi terhadap persoalan kabut asap yang menyelimuti Kota Palembang.

Keterlibatan ojol dan mahasiswa juga membuat distribusi tidak hanya bergantung pada aparat atau organisasi pemerintah. Mereka dapat menjangkau titik-titik keramaian secara langsung dan sekaligus menyampaikan pesan kesehatan kepada pengguna jalan.

Kabut Asap Palembang Berkaitan dengan Karhutla

Persoalan kualitas udara di Palembang pada periode tersebut tidak berdiri sendiri. Pemantauan BMKG menunjukkan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak terhadap kualitas udara kota sejak awal Agustus.

Pada 5 Agustus 2026, konsentrasi PM2.5 yang dipantau melalui Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang mencapai 57,2 mikrogram per meter kubik pada pukul 18.00 WIB dan masuk kategori tidak sehat

Kondisi tersebut kemudian kembali memburuk. Pada 14 Agustus, BMKG menyebut kualitas udara Palembang sempat berada pada kategori sangat tidak sehat akibat kabut asap, terutama pada dini hari hingga pagi.

Baca juga  Lanud SMH Perketat Pengamanan Bandara SMB II Palembang Jelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026

Mengapa PM2.5 Perlu Diwaspadai?

PM2.5 merupakan partikulat berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Karena itu, perlindungan terhadap warga yang banyak beraktivitas di luar ruangan menjadi penting ketika kualitas udara memburuk.

BMKG Sumatera Selatan juga mengingatkan masyarakat untuk membatasi aktivitas luar ruangan dan menggunakan masker, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki riwayat gangguan pernapasan

Bukan Sekadar Membagikan Masker

Sekda Sumsel Edward Candra mendukung aksi tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak kabut asap.

Namun, ia menekankan bahwa relawan tidak cukup hanya menyerahkan masker. Mereka juga diharapkan memberikan edukasi mengenai bahaya asap dan menjadi bagian dari upaya menekan dampaknya terhadap masyarakat.

Pesan ini penting karena masker hanya merupakan salah satu bentuk perlindungan. Persoalan utama tetap berada pada sumber asap dan kondisi lingkungan yang memungkinkan karhutla berkembang.

Dampak Kesehatan Mulai Menjadi Perhatian

Dinas Kesehatan Kota Palembang sebelumnya mengimbau warga menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah karena kualitas udara berada pada level tidak sehat.

Data yang disampaikan Dinkes Palembang menunjukkan terdapat 94.964 kasus ISPA selama Januari-Juli 2026 yang ditangani di wilayah tersebut. Tidak ada pasien yang dilaporkan meninggal akibat ISPA dalam periode itu.

Angka tersebut memberikan konteks bahwa persoalan asap bukan hanya mengenai jarak pandang atau kenyamanan berkendara. Paparan udara yang buruk juga berkaitan dengan risiko kesehatan masyarakat, terutama ketika berlangsung berulang dan dalam periode panjang.

Pola Asap Mengikuti Kondisi Musim Kemarau

Persoalan kabut asap di Palembang juga berkaitan dengan kondisi meteorologis Sumatera Selatan.

BMKG mencatat sebagian besar wilayah Sumatera Selatan mengalami curah hujan rendah pada dasarian kedua Agustus 2026, dengan sifat hujan di banyak wilayah berada di bawah normal.

Baca juga  Peringatan HKG PKK Sumsel 2026 Dimatangkan, Rakon dan Rakerda Dekranasda Disiapkan Serius

Evaluasi BMKG bahkan menunjukkan pada Agustus 2026 kondisi indeks bahan bakar halus dan indeks kekeringan di Kota Palembang berada pada level ekstrem. Indeks cuaca kebakaran juga didominasi kondisi ekstrem.)

Artinya, pembagian masker merupakan respons pada sisi hilir—melindungi masyarakat dari paparan asap—sementara pengendalian karhutla tetap menjadi kunci untuk menyelesaikan persoalan dari sumbernya.

Analisis: Perlindungan Warga Harus Berjalan Bersamaan dengan Pencegahan

Dalam jangka pendek, distribusi masker memiliki manfaat praktis bagi masyarakat yang tidak dapat menghindari aktivitas luar ruangan. Pengendara ojol, misalnya, menghabiskan waktu cukup panjang di jalan sehingga perlindungan terhadap paparan asap menjadi kebutuhan yang lebih nyata dibanding warga yang sebagian besar beraktivitas di dalam ruangan.

Namun, dalam jangka panjang, pembagian masker tidak dapat menjadi satu-satunya strategi. Jika sumber asap terus muncul, distribusi alat pelindung hanya akan menjadi respons berulang setiap kali kualitas udara memburuk.

Karena itu, aksi 8.000 masker seharusnya dilihat sebagai bagian dari respons masyarakat terhadap krisis kualitas udara, bukan sebagai pengganti pengendalian kebakaran hutan dan lahan.

Micro-insight: Titik Lampu Merah Menjadi Ruang Intervensi Kesehatan

Ada satu aspek menarik dari pola distribusi masker tersebut. Persimpangan lampu merah bukan hanya tempat berkumpulnya kendaraan, tetapi juga titik strategis untuk menyampaikan informasi kesehatan secara langsung kepada masyarakat dalam jumlah besar.

Pendekatan ini membuat relawan memiliki dua fungsi sekaligus: memberikan perlindungan sementara melalui masker dan membangun kesadaran mengenai risiko kabut asap. Jika dilakukan konsisten, model edukasi di ruang publik seperti ini dapat memperkuat pesan pemerintah mengenai pencegahan karhutla dan perilaku hidup sehat.

Respons terhadap Kabut Asap Perlu Terintegrasi

Persoalan kabut asap di Palembang menunjukkan bahwa perlindungan kesehatan, pengendalian karhutla, pemantauan kualitas udara, serta edukasi masyarakat harus berjalan secara bersamaan.

Baca juga  Perkuat Kesiapsiagaan Bencana, Pemkot Palembang Bentuk Tim Linmas Darurat Bencana

BMKG sebelumnya juga mengingatkan musim kemarau masih berlangsung hingga September dan asap yang terbawa angin berpotensi menekan kualitas udara serta jarak pandang. Penanganan karhutla dilakukan melalui patroli, pemadaman, water bombing, hingga operasi modifikasi cuaca ketika kondisi memungkinkan

Dengan kondisi tersebut, masyarakat tetap perlu mengikuti informasi kualitas udara dan mengurangi aktivitas luar ruangan ketika kondisi memburuk. Penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan, sementara pencegahan kebakaran lahan tetap menjadi pekerjaan utama untuk mengatasi sumber masalah. (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here