Beranda Palembang Penghargaan Ratu Dewa dan Dewi Sastrani Tegaskan Dua Arah Penguatan Palembang

Penghargaan Ratu Dewa dan Dewi Sastrani Tegaskan Dua Arah Penguatan Palembang

26
0
Wali Kota Palembang Ratu Dewa menerima penghargaan 9.9 Awarding Ketik.com kategori Inovator Kemandirian Fiskal Daerah di Surabaya.(Timred/CN)

SURABAYA, cimutnews.co.id — Penghargaan Ratu Dewa dan Dewi Sastrani dalam 9.9 Awarding Ketik.com di Hotel Mercure Surabaya Grand Mirama, Rabu (9/9/2026), membawa dua isu strategis Kota Palembang ke panggung nasional: penguatan kemandirian fiskal daerah dan kemitraan pelayanan kemanusiaan.

Wali Kota Palembang Ratu Dewa menerima penghargaan kategori Inovator Kemandirian Fiskal Daerah, sedangkan Ketua PMI Kota Palembang Dewi Sastrani Ratu Dewa meraih penghargaan Penggerak Kemitraan Strategis Kemanusiaan Daerah Terbaik Nasional. Dua penghargaan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan daerah tidak hanya diukur dari kapasitas anggaran, tetapi juga kemampuan menghadirkan layanan sosial yang menyentuh kebutuhan masyarakat.

Dua Penghargaan, Dua Agenda Strategis Palembang

Penghargaan untuk Ratu Dewa berkaitan dengan upaya pemerintah daerah memperkuat kapasitas fiskal. Bagi sebuah kota besar, kemampuan meningkatkan pendapatan daerah sekaligus menjaga kualitas belanja menjadi faktor penting agar pembangunan tidak sepenuhnya bergantung pada sumber pembiayaan dari pemerintah pusat.

Dokumen perencanaan Pemerintah Kota Palembang sendiri mencatat persoalan kapasitas fiskal sebagai salah satu isu strategis pembangunan. Dalam RPJPD Kota Palembang 2025–2045, Palembang disebut sebagai satu-satunya dari 17 kabupaten/kota di Sumatera Selatan yang masuk kategori menuju mandiri dalam indeks kemandirian fiskal.

Artinya, penghargaan tersebut memiliki konteks yang lebih luas daripada sekadar capaian seremonial. Kemandirian fiskal berkaitan langsung dengan ruang pemerintah daerah dalam membiayai pelayanan publik, infrastruktur, serta program pembangunan secara berkelanjutan.

Tantangan Kemandirian Fiskal Tidak Sederhana

Pemerintah Kota Palembang masih menghadapi tantangan untuk memperbesar kapasitas pendapatan sekaligus meningkatkan efisiensi belanja. Dokumen RPJMD 2025–2029 mencatat bahwa ketergantungan daerah terhadap transfer pemerintah pusat masih menjadi persoalan umum, sementara proporsi belanja operasi yang relatif tinggi dapat mempersempit ruang fiskal untuk belanja Pembangunan

Karena itu, label Inovator Kemandirian Fiskal Daerah seharusnya dibaca sebagai dorongan agar inovasi pengelolaan keuangan daerah menghasilkan dampak yang terukur. Ukurannya bukan hanya meningkatnya pendapatan, tetapi juga seberapa efektif tambahan kapasitas fiskal diterjemahkan menjadi pelayanan publik yang lebih baik.

Baca juga  Honda DBL Sumsel 2026 Dibuka Herman Deru, Talenta Basket Muda Ditargetkan Tembus Pentas Dunia

Dewi Sastrani Bawa Isu Ketersediaan Darah ke Tingkat Nasional

Pada agenda yang sama, Dewi Sastrani menerima penghargaan untuk kiprah PMI Kota Palembang dalam membangun kemitraan strategis kemanusiaan.

Menurut keterangan Ketik.com, penghargaan tersebut diberikan atas dedikasi dalam menggerakkan kegiatan sosial dan kemanusiaan, termasuk mendorong partisipasi masyarakat dalam donor darah. Dewi menyebut penghargaan itu sebagai motivasi bagi PMI Kota Palembang untuk terus membantu masyarakat, khususnya mereka yang membutuhkan darah

Persoalan darah memiliki karakter berbeda dari program pembangunan fisik. Kebutuhannya dapat muncul secara mendadak dan tidak dapat sepenuhnya diprediksi, sementara ketersediaannya sangat bergantung pada partisipasi pendonor.

PMI Kota Palembang sendiri menyediakan layanan permintaan darah melalui Unit Donor Darah (UDD), termasuk pelayanan 24 jam untuk kebutuhan tertentu. Mekanisme pelayanan juga melibatkan rumah sakit melalui Bank Darah Rumah Sakit (BDRS) dan proses pemeriksaan kecocokan darah sebelum diberikan kepada pasien

Donor Darah Menunjukkan Pentingnya Kemitraan

Kondisi tersebut menjelaskan mengapa kemitraan menjadi bagian penting dalam kerja PMI. Ketersediaan darah bukan semata-mata persoalan lembaga penyedia layanan, tetapi membutuhkan ekosistem yang melibatkan pendonor, rumah sakit, perusahaan, organisasi masyarakat, komunitas hingga pemerintah.

Dalam konteks itu, penghargaan yang diterima Dewi Sastrani memiliki dimensi pelayanan publik yang kuat. Keberhasilan kegiatan kemanusiaan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak kegiatan digelar, tetapi juga kemampuan membangun partisipasi masyarakat secara konsisten.

Kronologi 9.9 Awarding Ketik.com

Penghargaan diberikan dalam rangkaian 9.9 Awarding Ketik.com bertema Melesat Hebat yang sekaligus menjadi bagian dari peringatan HUT ke-4 Ketik.com.

Acara berlangsung pada Rabu, 9 September 2026 di Hotel Mercure Surabaya Grand Mirama. Angka 9.9 dipilih karena merujuk pada tanggal berdirinya Ketik.com, yakni 9 September 2022.

Baca juga  Kepemilikan Senjata Ilegal Palembang Terungkap, Dua Pria Diamankan Saat Patroli Dini Hari

Founder sekaligus CEO Ketik.com Kiagus Firdaus mengatakan penghargaan tersebut ditujukan untuk memberikan apresiasi kepada tokoh, mitra dan insan inspiratif nasional maupun regional atas dedikasi, integritas serta kontribusi mereka di berbagai bidang.

Penerima penghargaan berasal dari beragam latar belakang. Selain Ratu Dewa dan Dewi Sastrani, sejumlah tokoh dari pemerintahan, olahraga, lingkungan, ekonomi dan bidang lainnya juga memperoleh apresiasi dalam agenda tersebut.

Apa Artinya bagi Palembang?

Dua penghargaan tersebut memperlihatkan dua sisi pembangunan yang sering berjalan terpisah. Di satu sisi, pemerintah membutuhkan kapasitas fiskal untuk membiayai pembangunan. Di sisi lain, masyarakat membutuhkan jaringan sosial dan kemanusiaan yang mampu bergerak ketika kebutuhan mendesak muncul.

Bagi Palembang, tantangan berikutnya adalah memastikan penghargaan tersebut menjadi pemicu peningkatan kinerja, bukan berhenti sebagai pengakuan. Inovasi fiskal harus menghasilkan ruang anggaran yang sehat, sementara kemitraan kemanusiaan perlu diperluas agar pelayanan seperti penyediaan darah semakin responsif.

Data Pembanding: Posisi Palembang di Sumatera Selatan

Dalam dokumen RPJPD Kota Palembang, kondisi kemandirian fiskal kabupaten/kota di Sumatera Selatan masih menghadapi persoalan. Dari 17 kabupaten/kota, Palembang tercatat berada pada kategori menuju mandiri, sedangkan daerah lainnya masih berada dalam kategori belum mandiri

Data tersebut menjadi pembanding penting. Penghargaan yang diterima Ratu Dewa sekaligus menempatkan agenda kemandirian fiskal Palembang dalam konteks regional, sehingga pekerjaan rumah pemerintah daerah bukan sekadar mempertahankan posisi, melainkan meningkatkan kualitas kemandirian tersebut.

Penghargaan Harus Berujung pada Kinerja

Dalam jangka pendek, penghargaan dapat memperkuat kepercayaan dan menjadi legitimasi moral bagi pemerintah maupun organisasi sosial untuk melanjutkan program yang telah berjalan. Namun, dalam jangka panjang, nilai penghargaan akan lebih kuat apabila diikuti indikator yang bisa diukur masyarakat.

Untuk agenda fiskal, indikator itu antara lain peningkatan kualitas pendapatan asli daerah, efisiensi belanja dan kemampuan membiayai prioritas pelayanan publik. Sementara dalam bidang kemanusiaan, keberhasilannya dapat dilihat dari konsistensi donor, kemampuan memenuhi permintaan darah dan luasnya jaringan kemitraan PMI.

Baca juga  Ratusan Warga Antre di Pasar Murah Seberang Ulu II, Minyak Goreng Jadi Incaran

Dua penghargaan ini sebenarnya memperlihatkan satu pola yang sama: kemandirian daerah tidak hanya dibangun melalui uang pemerintah, tetapi juga melalui kemampuan mengorganisasi partisipasi masyarakat. Fiskal membutuhkan kepatuhan dan aktivitas ekonomi, sedangkan layanan kemanusiaan membutuhkan solidaritas dan kemitraan.

Karena itu, tantangan setelah penghargaan justru lebih substantif. Palembang perlu membuktikan bahwa inovasi fiskal dan kemitraan kemanusiaan dapat berjalan beriringan untuk menghasilkan pelayanan publik yang semakin kuat dan berkelanjutan.

Penghargaan Bukan Garis Akhir

Penghargaan Ratu Dewa dan Dewi Sastrani menjadi catatan nasional bagi Palembang karena diberikan untuk dua bidang yang berbeda tetapi saling berkaitan dengan kualitas pembangunan daerah.

Ratu Dewa mendapat apresiasi atas agenda kemandirian fiskal, sedangkan Dewi Sastrani membawa kerja kemanusiaan PMI Palembang ke tingkat nasional. Keduanya kini menghadapi tantangan yang sama: mengubah pengakuan tersebut menjadi energi untuk memperkuat pelayanan yang manfaatnya dapat dirasakan langsung masyarakat.

Bagi warga Palembang, ukuran akhirnya bukanlah jumlah penghargaan yang diterima, melainkan perubahan nyata yang mengikuti penghargaan tersebut—baik dalam kualitas pengelolaan keuangan daerah maupun kemampuan menghadirkan layanan kemanusiaan ketika masyarakat membutuhkannya. (Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here