
BATURAJA, cimutnews.co.id — Sebuah gerai kebutuhan sehari-hari resmi hadir di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Namanya MUI Mart.
Sekilas, gerai ini terlihat seperti unit usaha yang menjual sembako dan kebutuhan rumah tangga. Namun konsep yang dibawa jauh lebih besar: keuntungan usaha disebut akan ikut menopang kegiatan dakwah, sosial, dan keagamaan.
Pertanyaannya, mampukah MUI Mart membuktikan bahwa model bisnis berbasis pemberdayaan umat ini benar-benar memberi manfaat langsung bagi masyarakat?
Bukan Sekadar Gerai Sembako
MUI Mart berlokasi di Jalan Syeikh A. Kaliuddin, Kemiling, Desa Tanjung Baru, Kecamatan Baturaja Timur. Gerai tersebut diperkenalkan kepada masyarakat setelah diresmikan pada Rabu, 9 September 2026.
Peresmian dilakukan langsung oleh Bupati OKU H. Teddy Meilwansyah.
Kehadiran MUI Mart disebut sebagai salah satu inovasi MUI OKU untuk memperluas peran organisasi keagamaan tersebut. Tidak berhenti pada aktivitas dakwah, MUI juga didorong mengambil bagian dalam penguatan ekonomi umat.
“Peran MUI bukan hanya sebagai lembaga dakwah saja, tetapi juga sebagai bagian dari pemberdayaan ekonomi,” ujar Teddy.
Pernyataan tersebut menjadi penting karena MUI Mart sejak awal tidak diposisikan semata-mata sebagai toko.
Ada misi ekonomi sekaligus sosial yang ingin dibangun.
Diklaim Jadi MUI Mart Pertama di Sumsel
Dalam peresmian tersebut, Teddy menyebut MUI Mart di OKU memiliki keistimewaan.
Menurut dia, gerai tersebut disebut sebagai satu-satunya MUI Mart di wilayah Sumatera bagian Selatan. Sementara untuk Pulau Sumatera, keberadaan MUI Mart disebut baru terdapat di dua daerah, yakni Medan dan OKU.
Klaim tersebut menempatkan MUI Mart OKU bukan hanya sebagai unit usaha lokal, tetapi juga sebagai salah satu eksperimen pengembangan ekonomi umat di tingkat daerah.
Namun, status tersebut tentu bukan ukuran akhir keberhasilan.
Sebuah gerai pada akhirnya tetap harus mampu bertahan, berkembang, dan mendapatkan kepercayaan konsumen.
Bupati Turun Langsung Belanja
Dukungan pemerintah daerah terhadap MUI Mart tidak hanya disampaikan melalui pidato.
Setelah peresmian, Teddy turut berbelanja langsung di dalam gerai.
Ia melihat produk yang tersedia sekaligus membeli sejumlah kebutuhan sehari-hari sebagai bentuk dukungan terhadap usaha yang dikembangkan MUI OKU.
Langkah tersebut menjadi simbol bahwa pemerintah daerah ingin masyarakat tidak sekadar mengetahui keberadaan MUI Mart, tetapi juga ikut menjadikannya sebagai pilihan tempat berbelanja.
Teddy bahkan mengajak masyarakat OKU untuk mendukung gerai tersebut.
“Yang pasti, belanja di MUI Mart halal dan terpercaya. Setiap belanja di MUI Mart ada nilai ibadahnya,” katanya.
Janji Besarnya Ada pada Keuntungan
Di sinilah konsep MUI Mart menjadi lebih menarik.
Menurut Teddy, sebagian keuntungan usaha nantinya akan dialokasikan untuk kegiatan dakwah, sosial, dan keagamaan.
Artinya, setiap transaksi yang berlangsung di gerai tersebut diharapkan memiliki efek berantai.
Masyarakat mendapatkan kebutuhan sehari-hari, usaha memperoleh pendapatan, sementara sebagian keuntungan diarahkan kembali untuk kegiatan yang memberikan manfaat sosial.
“Sebagian keuntungan nantinya akan dibelanjakan untuk jalur dakwah, sosial dan keagamaan. Jadi MUI Mart bukan hanya mengejar keuntungan saja, tetapi ada sisi dakwah dan sosialnya,” ujar Teddy.
Namun Fakta di Lapangan Menunjukkan Tantangan yang Tidak Sederhana
Namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa membangun toko bukan hanya soal membuka gerai dan menyediakan barang.
Ada persoalan harga, kelengkapan produk, lokasi, pelayanan, kontinuitas stok, hingga kebiasaan konsumen yang harus dijawab.
Masyarakat pada akhirnya akan membandingkan MUI Mart dengan toko kelontong, minimarket, maupun pusat perdagangan lain yang sudah lebih dulu hadir.
Di sisi lain, kondisi berbeda dirasakan dari sisi misi sosialnya.
Jika MUI Mart mampu menjaga harga tetap kompetitif sekaligus menghasilkan keuntungan yang sehat, konsep tersebut berpotensi menjadi model pemberdayaan ekonomi yang menarik.
Sebaliknya, jika biaya operasional tinggi atau konsumen tidak cukup banyak, maka penyaluran keuntungan untuk kegiatan sosial dan dakwah juga berpotensi menghadapi keterbatasan.
Di sinilah keberlanjutan menjadi ujian sebenarnya.
Dari Gerai Menjadi Model Ekonomi Umat
MUI Mart di OKU memiliki peluang untuk berkembang lebih jauh jika mampu membangun kepercayaan konsumen.
Bukan hanya karena membawa nama MUI, tetapi karena memberikan alasan rasional bagi masyarakat untuk kembali berbelanja.
Harga yang bersaing, produk yang lengkap, pelayanan yang baik dan transparansi pengelolaan keuntungan akan menjadi faktor penting.
Sebab, masyarakat tidak hanya akan melihat siapa yang mengelola toko.
Mereka juga akan melihat apakah manfaat yang dijanjikan benar-benar kembali kepada umat.
Teddy sendiri berharap MUI Mart tidak berhenti di satu lokasi.
Ia mendorong agar usaha tersebut dapat berkembang dan membuka cabang di tempat lain.
“Inilah bentuk pengabdian MUI kepada masyarakat. Kami doakan mudah-mudahan MUI Mart ini bisa maju dan berkembang, tidak hanya di sini saja, tetapi bisa membuka cabang di tempat lainnya,” katanya.
Ada Satu Hal yang Kini Menarik untuk Ditunggu
Kehadiran MUI Mart membawa sebuah gagasan yang cukup sederhana, tetapi memiliki konsekuensi besar: menjadikan aktivitas ekonomi sehari-hari sebagai salah satu sumber pembiayaan kegiatan sosial dan dakwah.
Konsep itu terdengar menjanjikan.
Tetapi keberhasilan tidak akan ditentukan pada hari peresmian.
Ukuran sesungguhnya baru terlihat ketika gerai mulai menghadapi rutinitas bisnis: persaingan harga, perubahan daya beli, ketersediaan barang dan konsistensi pelanggan.
Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah MUI Mart OKU nantinya mampu berkembang menjadi model ekonomi umat yang benar-benar berkelanjutan, atau hanya menjadi terobosan yang ramai ketika pertama kali diluncurkan?
Hingga kini, perjalanan tersebut baru saja dimulai.
Dan justru dari aktivitas sehari-hari di balik etalase toko itulah pembuktian sebenarnya akan berlangsung. (Agus)

















