Beranda Palembang Herman Deru Didaulat Ayah Istimewa Indonesia, Film Disabilitas Uji Komitmen Inklusi

Herman Deru Didaulat Ayah Istimewa Indonesia, Film Disabilitas Uji Komitmen Inklusi

5
0
1. Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menghadiri pemutaran khusus Film Istimewa di Palembang Indah Mall XXI, Sabtu (12/9/2026), sebagai bentuk dukungan terhadap karya yang mengangkat kehidupan penyandang disabilitas. (foto: Poerba/cimutnews)

PALEMBANG, cimutnews.co.id — Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru didaulat sebagai Ayah Istimewa Indonesia setelah menghadiri pemutaran khusus film Istimewa di Palembang Indah Mall (PIM) XXI, Sabtu (12/9/2026) sore.

Gelar tersebut diberikan Pendiri Rumah Istimewa sekaligus Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKPPI), Abdullah Mansuri, yang juga disebut sebagai penulis naskah film Istimewa. Momen itu bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi titik temu antara dukungan pemerintah daerah dan karya perfilman yang membawa isu inklusi penyandang disabilitas ke ruang publik.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan sebelumnya menyebut kehadiran Herman Deru dalam pemutaran film tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap karya yang mendorong kesetaraan bagi penyandang disabilitas

Film Istimewa sendiri dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 17 September 2026. Film produksi Kairos Pictures itu disutradarai Ruben Adrian dan mengangkat kisah yang terinspirasi pengalaman nyata anak-anak penyandang disabilitas.

Bukan sekadar nobar, ada pesan sosial yang lebih besar

Pemutaran khusus di Palembang menjadi penting karena Istimewa tidak menempatkan penyandang disabilitas hanya sebagai objek cerita. Enam anak penyandang disabilitas disebut menjadi pemeran utama sekaligus penggerak cerita film tersebut.

Menurut sejumlah sumber pemberitaan mengenai film itu, produksi Istimewa juga melibatkan puluhan anak penyandang disabilitas. Pendekatan tersebut membuat isu representasi tidak berhenti pada tema cerita, tetapi masuk ke proses produksi film itu sendiri.

Kehadiran sejumlah pemeran dalam agenda nobar di Palembang turut memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berinteraksi langsung dengan orang-orang yang berada di balik film tersebut.

Bagi industri hiburan, representasi seperti ini memiliki arti penting. Penyandang disabilitas tidak hanya ditampilkan sebagai karakter yang membutuhkan belas kasihan, tetapi sebagai individu dengan pilihan, kemampuan, relasi sosial, mimpi, dan pengalaman hidupnya sendiri.

Baca juga  Polres Banyuasin Proses Pemeriksaan Kode Etik Briptu RM, Kapolres Tegaskan Komitmen Tanpa Pandang Bulu

Pemerintah Sumsel menyoroti kesempatan yang setara

Dalam keterangan Pemerintah Provinsi Sumsel, Herman Deru menyampaikan bahwa film tersebut memberikan motivasi sekaligus pengingat bahwa penyandang disabilitas mempunyai kesempatan dan kemampuan yang setara.

Ia juga menegaskan komitmen Pemprov Sumsel untuk memberikan ruang dan kesempatan, termasuk dalam bidang pekerjaan, bagi penyandang disabilitas

Pernyataan itu penting karena dukungan terhadap film bertema disabilitas baru mempunyai dampak lebih luas apabila diterjemahkan menjadi kesempatan nyata di luar ruang hiburan.

Dengan kata lain, sebuah film dapat membuka percakapan publik, tetapi perubahan sosial membutuhkan keberlanjutan dalam pendidikan, pekerjaan, akses fasilitas publik, pelayanan sosial, hingga kesempatan berkarya.

Film Istimewa membawa isu disabilitas ke bioskop nasional

Istimewa memiliki posisi yang cukup berbeda dibanding film keluarga pada umumnya. Film ini menempatkan kehidupan anak-anak di Rumah Istimewa sebagai pusat cerita dan menggunakan relasi mereka dengan figur ayah sebagai pintu masuk untuk membahas keluarga, kehilangan, kasih sayang, serta penerimaan.

ANTARA melaporkan film tersebut menampilkan anak penyandang disabilitas sebagai tokoh utama dan dijadwalkan hadir di seluruh bioskop Indonesia mulai 17 September 2026

Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) juga memberikan dukungan terhadap film tersebut. PPDI menyebut Istimewa sebagai film yang menempatkan enam anak penyandang disabilitas sebagai tokoh utama penggerak cerita.

Konteks ini membuat pemutaran di Palembang tidak berdiri sendiri. Agenda tersebut merupakan bagian dari rangkaian menuju penayangan nasional film yang membawa isu inklusivitas ke pasar film arus utama.

Mengapa gelar “Ayah Istimewa” menjadi menarik?

Secara jurnalistik, istilah “Ayah Istimewa Indonesia” perlu dipahami sebagai bentuk penghargaan atau apresiasi dari pihak yang memberikannya, bukan gelar resmi negara.

Namun, secara simbolik, penyematan tersebut menunjukkan bagaimana dukungan seorang pejabat publik terhadap kelompok disabilitas diterjemahkan menjadi pesan sosial.

Baca juga  Semangat Berkurban Digelorakan, Kepedulian Sosial Masih Jadi Tantangan

Ada konsekuensi yang lebih besar dari simbol tersebut. Ketika seorang kepala daerah menerima predikat sebagai figur yang dekat dengan anak-anak disabilitas, publik pada akhirnya akan menilai dukungan itu bukan hanya dari acara seremonial, tetapi dari seberapa jauh kebijakan daerah mampu membuka akses dan kesempatan yang setara.

Kerangka kebijakan nasional juga menempatkan penyandang disabilitas sebagai kelompok yang hak dan martabatnya harus dilindungi. Regulasi pemerintah mengenai penyelenggaraan kesejahteraan sosial bagi penyandang disabilitas menekankan pemenuhan kebutuhan dasar, pelaksanaan fungsi sosial, peningkatan kesejahteraan, dan pembangunan masyarakat inklusif.

ukuran keberhasilan bukan tepuk tangan di bioskop

Di sinilah nilai penting pemutaran Istimewa sebenarnya berada.

Tepuk tangan di dalam studio hanya berlangsung beberapa menit. Tantangan sesungguhnya muncul setelah lampu bioskop menyala: apakah cara masyarakat memandang penyandang disabilitas ikut berubah?

Film dapat menjadi pintu masuk untuk membangun empati. Namun, empati baru mempunyai dampak sosial apabila berkembang menjadi kesempatan yang konkret—mulai dari akses pendidikan, pekerjaan, ruang kreativitas, hingga keterlibatan dalam kehidupan bermasyarakat.

Dari film ke agenda inklusi Sumsel

Dukungan Herman Deru terhadap Istimewa karena itu dapat dibaca dalam dua lapis. Pertama, sebagai apresiasi terhadap karya perfilman yang membawa tema sosial. Kedua, sebagai pesan bahwa pemerintah daerah perlu menyediakan ruang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk berkarya.

Abdullah Mansuri sendiri berharap setelah Istimewa muncul karya-karya berikutnya yang melibatkan anak-anak penyandang disabilitas di Sumatera Selatan. Harapan tersebut disampaikan setelah pemutaran film di Palembang.

Jika harapan tersebut berlanjut, dampaknya bisa lebih jauh daripada satu judul film. Industri kreatif daerah berpotensi menjadi ruang baru bagi penyandang disabilitas untuk menunjukkan kemampuan sekaligus membangun representasi yang lebih beragam.

Baca juga  May Day Tanpa Demo di OKI, Buruh Pilih Jalur Dialog: Tujuh Tuntutan Ungkap Persoalan Ketenagakerjaan yang Belum Tuntas

Dengan demikian, ukuran keberhasilan Istimewa bukan semata jumlah penonton. Nilai strategisnya justru terletak pada apakah film tersebut mampu memperluas percakapan mengenai kesempatan yang setara.

Film tayang 17 September, publik kini menjadi penentu

Film Istimewa akan memasuki bioskop Indonesia mulai 17 September 2026. Sebelumnya, rangkaian pemutaran khusus dan gala premiere telah dilakukan sebagai bagian dari pengenalan film kepada publik.

Bagi Palembang, kedatangan film tersebut bersama pemeran dan dukungan pemerintah daerah memberi ruang bagi isu disabilitas untuk dibicarakan melalui medium yang lebih dekat dengan masyarakat.

Pada akhirnya, penyematan gelar Ayah Istimewa Indonesia kepada Herman Deru bukan hanya soal sebuah penghargaan. Ia menjadi pengingat bahwa keberpihakan kepada penyandang disabilitas harus diuji melalui tindakan yang berkelanjutan.

Jika pesan Istimewa tentang penerimaan, kesempatan, dan kesetaraan benar-benar ingin dibawa keluar dari layar, maka pekerjaan berikutnya justru dimulai setelah film selesai diputar.(Poerba)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here