Beranda Pagar Alam Maulid Nabi di Pagar Alam Jadi Momentum Perkuat Keteladanan dan Kehidupan Sosial...

Maulid Nabi di Pagar Alam Jadi Momentum Perkuat Keteladanan dan Kehidupan Sosial Warga

13
0
Wakil Wali Kota Pagar Alam Hj. Bertha menghadiri Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 M di Masjid Al-Aliyy, Dusun Tanjung Payang, Kelurahan Tanjung Agung. (Foto: Hafis/cimutnews)

PAGAR ALAM, cimutnews.co.id – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al-Aliyy, Dusun Tanjung Payang, Kelurahan Tanjung Agung, Kecamatan Pagar Alam Selatan, menjadi momentum untuk kembali menghidupkan nilai keteladanan Rasulullah dalam kehidupan masyarakat.

Wakil Wali Kota Pagar Alam Hj. Bertha menghadiri kegiatan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H/2026 M tersebut pada Sabtu (12/9/2026). Dalam kesempatan itu, Bertha mengajak masyarakat tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadikan keteladanan Rasulullah sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Maulid Nabi Tidak Sekadar Seremonial

Dalam sambutannya, Bertha mengatakan peringatan Maulid Nabi memiliki arti penting karena menjadi ruang untuk mengingat kembali perjalanan hidup Rasulullah SAW sekaligus mengambil pelajaran dari akhlak dan keteladanannya.

Menurut dia, nilai-nilai yang diwariskan Rasulullah tetap relevan untuk diterapkan dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam membangun hubungan sosial, menjaga persaudaraan, serta memperkuat kepedulian terhadap sesama.

“Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini merupakan momen penting dalam peradaban sejarah manusia sepanjang masa, baik era tradisional maupun era modern seperti sekarang ini,” ujar Bertha.

Ia menilai kegiatan keagamaan yang berlangsung di lingkungan masjid juga mempunyai fungsi sosial. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi dapat menjadi ruang pembelajaran dan pembentukan karakter masyarakat.

Pemerintah Kota Pagar Alam, kata Bertha, menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia berharap jamaah dapat mengambil nilai-nilai keislaman yang disampaikan dalam peringatan Maulid untuk kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dari Masjid ke Kehidupan Bermasyarakat

Pesan tersebut menjadi penting karena kegiatan keagamaan di tingkat lingkungan memiliki posisi yang dekat dengan kehidupan warga. Nilai yang disampaikan dalam majelis tidak berhenti di ruang masjid, tetapi berpotensi memengaruhi cara masyarakat membangun hubungan sosial di lingkungannya.

Dalam konteks pembangunan daerah, kehidupan masyarakat yang aman dan harmonis merupakan salah satu modal sosial yang tidak kalah penting dari pembangunan fisik. Pemerintah daerah membutuhkan dukungan masyarakat agar program pembangunan dapat berjalan dalam suasana yang kondusif.

Baca juga  Pemkab Muba Perluas Perlindungan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan, 45 Ribu Pekerja Rentan Sudah Terdaftar

Karena itu, pesan tentang keteladanan Rasulullah yang disampaikan dalam kegiatan Maulid dapat ditempatkan dalam konteks yang lebih luas: bagaimana nilai agama diterjemahkan menjadi perilaku sosial, kepedulian, gotong royong, serta sikap saling menghormati.

Pagar Alam Selatan dan Ruang Kehidupan Keagamaan

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan kehidupan keagamaan merupakan bagian yang kuat dari karakter sosial masyarakat Kecamatan Pagar Alam Selatan. Dalam publikasi BPS, mayoritas penduduk kecamatan tersebut beragama Islam, yakni 99,14 persen. BPS juga mencatat keberadaan tempat ibadah yang tersebar di sejumlah kelurahan, termasuk lima masjid dan empat langgar atau mushala di Kelurahan Tanjung Agung

Data tersebut memberikan konteks mengapa kegiatan keagamaan berbasis masjid memiliki ruang yang cukup penting dalam kehidupan masyarakat setempat.

Dengan komposisi masyarakat yang mayoritas Muslim dan keberadaan tempat ibadah di tingkat kelurahan, masjid dapat berfungsi sebagai simpul interaksi warga. Kegiatan seperti Maulid Nabi menjadi salah satu bentuk aktivitas yang mempertemukan unsur keagamaan dengan kehidupan sosial masyarakat.

Momentum Maulid Berlangsung dalam Rangkaian Rabiul Awal

Secara kalender, pemerintah menetapkan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H sebagai hari libur nasional pada 25 Agustus 2026. Keputusan tersebut tercantum dalam Surat Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, dan Menteri PANRB tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2026.

Namun, rangkaian kegiatan Maulid di berbagai daerah tidak selalu berlangsung tepat pada tanggal hari libur nasional. Kegiatan keagamaan masyarakat dapat diselenggarakan pada waktu lain dalam rangkaian Rabiul Awal.

Kalender Hijriah Indonesia yang dirujuk Kementerian Agama menempatkan 12 September 2026 sebagai 30 Rabiul Awal 1448 H. Artinya, kegiatan di Masjid Al-Aliyy masih berada pada penghujung rangkaian bulan Rabiul Awal

Baca juga  Pagar Alam Mulai Salurkan 513 Ton Beras, 17.115 Keluarga Jadi Sasaran

Fenomena ini menunjukkan bahwa peringatan Maulid di tingkat masyarakat memiliki pola yang lebih luas daripada sekadar satu tanggal perayaan. Momentum tersebut dapat menjadi rangkaian kegiatan pembinaan keagamaan yang disesuaikan dengan agenda masjid dan masyarakat setempat.

Pesan Wawako: Bangun Kota yang Aman dan Dirahmati

Di hadapan jamaah, Bertha juga mengajak masyarakat memperkuat sinergi dan kolaborasi untuk membangun Pagar Alam sebagai kota yang sejahtera, aman, tenteram, serta mendapat rahmat dari Allah SWT.

“Mari, pada kesempatan yang berbahagia ini, kita bersama-sama berdoa, bersinergi dan berkolaborasi, mewujudkan Kota Pagar Alam ini menjadi kota sejahtera, kota yang aman, tenteram dan kota yang senantiasa dirahmati oleh Allah SWT,” kata Bertha.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pesan yang dibawa dalam kegiatan keagamaan tidak hanya menyangkut hubungan personal antara manusia dan Tuhan. Ada pula dimensi sosial yang berkaitan dengan kondisi lingkungan tempat masyarakat hidup.

  Keteladanan sebagai Modal Sosial

Jika ditarik ke konteks pembangunan daerah, pesan Maulid Nabi mempunyai relevansi yang lebih luas. Pemerintah tidak mungkin membangun ketenteraman masyarakat hanya melalui kebijakan administratif. Stabilitas sosial juga membutuhkan keterlibatan komunitas, tokoh agama, pengurus masjid, keluarga, dan warga.

Di sinilah kegiatan keagamaan di tingkat kelurahan mempunyai arti strategis. Ketika pesan tentang akhlak, persaudaraan, kepedulian dan tanggung jawab sosial diterjemahkan ke dalam perilaku sehari-hari, kegiatan keagamaan dapat menjadi bagian dari penguatan modal sosial masyarakat.

Tantangannya adalah memastikan nilai tersebut tidak berhenti sebagai pesan dalam acara. Ukuran keberhasilannya justru terlihat setelah kegiatan selesai: apakah hubungan antarwarga semakin baik, kepedulian sosial meningkat, dan masyarakat semakin mampu menyelesaikan persoalan lingkungan secara bersama-sama.

Nilai Maulid Diukur Setelah Acara Berakhir

Baca juga  Kemenangan Perdana Belum Membuat Langkah SSB PSS U13 Aman

Ada satu hal penting dari peringatan Maulid Nabi di tingkat lingkungan yang sering luput dari perhatian: dampak terbesar kegiatan keagamaan justru dapat muncul setelah jamaah meninggalkan masjid.

Ketika keteladanan Rasulullah diterjemahkan menjadi perilaku konkret—menjaga hubungan bertetangga, membantu warga yang membutuhkan, menghormati perbedaan, menjaga lingkungan dan memperkuat gotong royong—maka sebuah peringatan keagamaan berubah menjadi energi sosial bagi masyarakat.

Bagi Pagar Alam, pendekatan tersebut dapat memperkuat hubungan antara pembangunan daerah dan kehidupan masyarakat. Pemerintah menyediakan kebijakan dan pelayanan, sementara masyarakat memiliki peran menjaga kohesi sosial di lingkungannya.

Pemerintah dan Masyarakat Perlu Menjaga Kesinambungan

Kegiatan Maulid Nabi di Masjid Al-Aliyy pada akhirnya bukan hanya agenda keagamaan. Ia menjadi ruang pertemuan antara pemerintah dan masyarakat sekaligus pengingat bahwa pembangunan daerah membutuhkan fondasi sosial yang kuat.

Pemerintah Kota Pagar Alam dapat terus mendorong kolaborasi dengan komunitas keagamaan dan masyarakat melalui kegiatan yang memberikan manfaat langsung, terutama pembinaan generasi muda, penguatan kepedulian sosial, pendidikan keagamaan, serta pemeliharaan kerukunan di tingkat lingkungan.

Dengan demikian, pesan yang disampaikan dalam peringatan Maulid Nabi tidak berhenti pada seremoni tahunan. Nilai keteladanan Rasulullah dapat terus diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang memperkuat kehidupan sosial masyarakat Pagar Alam. (Hafis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here