Beranda Pagar Alam Maulid Nabi di Pagar Alam Jadi Momentum Perkuat Ukhuwah dan Waspada Bencana

Maulid Nabi di Pagar Alam Jadi Momentum Perkuat Ukhuwah dan Waspada Bencana

11
0
1. Wakil Wali Kota Pagar Alam Hj. Bertha saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al-Furqon, Kelurahan Nendagung, Sabtu (12/9/2026). (Foto: Hafis/cimutnews)

PAGAR ALAM, cimutnews.co.id — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al-Furqon, Kelurahan Nendagung, Kota Pagar Alam, Sabtu (12/9/2026), tidak hanya menjadi agenda keagamaan. Kegiatan yang digelar Pengurus Cabang (PC) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kota Pagar Alam itu juga menjadi ruang untuk menguatkan kepedulian warga terhadap ancaman bencana yang tengah dihadapi masyarakat.

Wakil Wali Kota Pagar Alam, Hj. Bertha, yang hadir dalam kegiatan tersebut, mengajak jamaah menjadikan keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman dalam membangun kehidupan sosial yang penuh kepedulian, kasih sayang, keadilan, dan persaudaraan.

Maulid Nabi Tidak Sekadar Seremonial

Mengusung tema “Nabi Muhammad SAW Adalah Teladan Terbaik Sepanjang Masa”, kegiatan tersebut menghadirkan Ustadz Risdianto sebagai penceramah.

Dalam sambutannya, Hj. Bertha menekankan bahwa peringatan Maulid Nabi seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial tahunan. Menurut dia, momentum tersebut dapat menjadi sarana meningkatkan keimanan, memperluas wawasan keislaman, sekaligus mempererat hubungan sosial masyarakat.

“Nabi Muhammad SAW dilahirkan sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin) dan sebagai suri teladan (uswatun hasanah). Beliau telah mengajarkan kita tentang akhlak kemuliaan, kasih sayang, keadilan, serta pentingnya menjaga ukhuwah islamiyah dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar Bertha.

Pesan tersebut menjadi relevan karena kegiatan keagamaan di tingkat masyarakat tidak hanya berfungsi sebagai ruang ibadah, tetapi juga dapat menjadi sarana membangun solidaritas sosial.

Bahan kegiatan yang menjadi dasar penulisan menyebutkan bahwa Pemkot Pagar Alam memberikan apresiasi kepada PC Muslimat NU, pengurus masjid, dan panitia pelaksana atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

Dari Keteladanan Nabi ke Kepedulian Menghadapi Bencana

Hal yang menarik dari kegiatan ini adalah pesan keagamaan tersebut kemudian dikaitkan dengan kondisi lingkungan dan kebencanaan.

Baca juga  Pemkot Pagar Alam Siapkan 10 Hektare Lahan Bawang Putih, Didorong Jadi Sentra Pangan

Hj. Bertha mengajak jamaah menyikapi berbagai potensi musibah, mulai dari ancaman kebakaran hutan dan lahan akibat kondisi kering hingga guncangan gempa bumi yang sempat dirasakan masyarakat.

Ia juga meminta agar doa untuk keselamatan Kota Pagar Alam diselipkan dalam kegiatan keagamaan. Doa tersebut mencakup harapan agar masyarakat dijauhkan dari bencana serta para petani, khususnya petani kopi, memperoleh perlindungan dan keberkahan hasil panen.

Permintaan itu menunjukkan bahwa isu kebencanaan di Pagar Alam tidak berdiri sendiri. Kondisi cuaca dan aktivitas masyarakat menjadi faktor yang perlu diperhatikan bersama, terutama ketika memasuki periode kering.

Kondisi Kering Sumatera Selatan Perlu Diwaspadai

Konteks tersebut mendapat penguatan dari data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pada akhir Agustus 2026, Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan memprakirakan sebagian besar wilayah Sumatera Selatan memasuki periode dengan curah hujan rendah dan sifat hujan bawah normal pada dasarian pertama September.

BMKG juga mencatat sebagian besar wilayah Sumatera Selatan mengalami hari tanpa hujan kategori sangat panjang, yakni 31–60 hari. Kondisi itu dinilai berpotensi meningkatkan jumlah titik panas dan risiko karhutla.

Bahkan, BNPB pada awal September menyebut Sumatera Selatan sebagai salah satu provinsi prioritas dalam penanganan karhutla. Per 3 September 2026, luas lahan terbakar yang tercatat di Sumatera Selatan mencapai sekitar 1.926,23 hektare, sementara pemantauan satelit mendeteksi ratusan titik panas dalam berbagai tingkat kepercayaan.

Secara nasional, pemerintah juga telah mengantisipasi peningkatan risiko karhutla pada Agustus-September 2026. BNPB sebelumnya menyebut periode tersebut sebagai fase yang membutuhkan penguatan pemantauan, pencegahan, dan kesiapsiagaan, khususnya di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Mengapa Pesan Kebencanaan Muncul dalam Maulid?

Dari perspektif jurnalistik, bagian ini menjadi penting karena memperlihatkan bahwa kegiatan keagamaan di tingkat lokal dapat berfungsi lebih luas daripada sekadar ritual.

Baca juga  Oknum Kepala UPTD Disnakertrans Ogan Ilir Jadi Tersangka Penelantaran Anak, Korban Minta Proses Hukum Ditegakkan

Ketika ancaman bencana meningkat, masjid, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, dan pemerintah memiliki ruang yang sama untuk membangun kesadaran warga. Pesan mengenai menjaga lingkungan, menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran, serta kesiapsiagaan menghadapi bencana dapat disampaikan melalui forum yang sudah dekat dengan kehidupan masyarakat.

Artinya, keteladanan Nabi yang disampaikan dalam Maulid tidak hanya diterjemahkan sebagai hubungan vertikal dalam beribadah, tetapi juga sebagai tanggung jawab sosial untuk menjaga keselamatan sesama.

Petani Kopi Menjadi Perhatian

Perhatian khusus terhadap petani kopi juga memiliki konteks tersendiri bagi Pagar Alam.

Sektor pertanian merupakan bagian penting dari aktivitas ekonomi masyarakat daerah. Data Badan Pusat Statistik Kota Pagar Alam sendiri mencatat statistik mengenai jumlah petani menurut kecamatan dalam kelompok data pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Karena itu, doa dan perhatian pemerintah terhadap petani dalam kegiatan Maulid dapat dibaca sebagai pesan bahwa keberagamaan juga berkaitan dengan ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat.

Ancaman cuaca kering tidak hanya berbicara mengenai kemungkinan munculnya kebakaran. Kondisi iklim juga berpotensi memengaruhi aktivitas pertanian, ketersediaan air, dan keberlanjutan penghidupan warga apabila berlangsung berkepanjangan.

Masjid Bisa Menjadi Titik Awal Kesiapsiagaan

Ada satu hal yang lebih penting dari sekadar pesan seremonial dalam kegiatan tersebut: masjid dan organisasi keagamaan memiliki jaringan sosial yang langsung bersentuhan dengan masyarakat.

Ketika pesan kesiapsiagaan bencana disampaikan melalui tokoh agama dan forum keagamaan, informasi tersebut berpeluang menjangkau kelompok masyarakat yang tidak selalu mengikuti kanal informasi pemerintah.

Karena itu, kolaborasi pemerintah dengan Muslimat NU, pengurus masjid, ustaz, serta organisasi masyarakat dapat dikembangkan bukan hanya untuk kegiatan keagamaan, tetapi juga edukasi kebencanaan, perlindungan lingkungan, dan penguatan solidaritas warga.

Baca juga  Tim Bentang Merah Putih Tiba di Pagar Alam, 2.026 Meter Bendera Siap Dibentangkan di Dempo

Dukungan Pemkot Pagar Alam untuk Muslimat NU

Pada akhir sambutannya, Hj. Bertha menyampaikan apresiasi kepada PC Muslimat NU, pengurus Masjid Al-Furqon, dan seluruh panitia.

Pemerintah Kota Pagar Alam, kata dia, siap mendukung kegiatan serta program positif yang digagas Muslimat NU untuk memperkuat kehidupan spiritual dan sosial masyarakat.

Komitmen tersebut menjadi penting apabila diterjemahkan ke dalam kegiatan yang berkelanjutan. Organisasi keagamaan memiliki potensi menjadi mitra pemerintah dalam menyampaikan edukasi kepada masyarakat, termasuk mengenai kepedulian lingkungan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Pada akhirnya, pesan Maulid Nabi di Nendagung bukan hanya tentang mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pesan yang muncul justru mengarah pada bagaimana nilai keteladanan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari: memperkuat persaudaraan, membantu sesama, menjaga lingkungan, dan bersama-sama menghadapi risiko yang mengancam masyarakat.

Dengan kondisi cuaca Sumatera Selatan yang masih perlu diwaspadai dan karhutla menjadi perhatian pemerintah, ajakan tersebut memiliki relevansi yang lebih luas. Kesadaran masyarakat menjadi lapisan awal yang penting sebelum langkah penanganan bencana dilakukan oleh pemerintah dan lembaga terkait. (Hafis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here