Beranda Banyuasin Banyuasin Jadi Percontohan IMMACo, Muara Telang Disiapkan sebagai Kawasan Pertanian Modern 22...

Banyuasin Jadi Percontohan IMMACo, Muara Telang Disiapkan sebagai Kawasan Pertanian Modern 22 Ribu Hektare

7
0
Bupati Banyuasin Dr. H. Askolani mengikuti rapat percepatan pengembangan kawasan koperasi terintegrasi IMMACo di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta.(Foto: Noto/cimutnews)

JAKARTA, cimutnews.co.idBanyuasin menjadi kawasan percontohan IMMACo (Indonesian Millennial for Modern Agriculture Corporation) dengan pusat pengembangan di Kecamatan Muara Telang. Kawasan pertanian sekitar 22 ribu hektare tersebut diarahkan menjadi model pertanian modern yang mengintegrasikan petani, koperasi, teknologi, sarana produksi hingga pasar.

Penetapan itu mengemuka dalam rapat percepatan pengembangan kawasan koperasi terintegrasi IMMACo di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, 12 September. Bupati Banyuasin Dr. H. Askolani, S.H., M.H., hadir langsung dalam pembahasan bersama jajaran Kementerian Pertanian.

Muara Telang Diproyeksikan Menjadi Model Pertanian Terintegrasi

Penunjukan Banyuasin tidak hanya berkaitan dengan luas lahan. Kawasan Muara Telang dinilai memiliki basis aktivitas pertanian yang telah berkembang sehingga pengembangan pertanian modern dapat dibangun di atas ekosistem yang sudah berjalan.

Konsep IMMACo diarahkan untuk mengubah pola pertanian yang selama ini banyak bertumpu pada aktivitas produksi menjadi sistem ekonomi yang lebih terintegrasi. Koperasi ditempatkan sebagai salah satu simpul penting agar petani memiliki kelembagaan ekonomi dan tidak bergerak sendiri-sendiri.

Bupati Askolani menyambut penunjukan tersebut sebagai bentuk kepercayaan pemerintah pusat kepada Banyuasin.

“Banyuasin memiliki potensi pertanian yang sangat besar, baik dari sisi luas lahan maupun sumber daya petaninya.”

Menurut Askolani, gagasan memperkuat kelembagaan ekonomi petani sebenarnya telah menjadi bagian dari pemikiran pemerintah daerah sejak beberapa tahun terakhir. Karena itu, konsep IMMACo dinilai memiliki arah yang sejalan dengan agenda pembangunan pertanian Banyuasin.

Bukan Sekadar Memperluas Produksi

Hal yang menjadi pembeda dalam pengembangan kawasan ini adalah pendekatan dari hulu hingga hilir. Pertanian tidak hanya dilihat dari berapa banyak hasil panen yang dihasilkan, tetapi juga bagaimana produksi tersebut dikelola, dipasarkan dan memberikan nilai ekonomi lebih besar kepada petani.

Baca juga  Rumah Roboh Banyuasin Akibat Hujan dan Angin, Polisi dan Pemda Salurkan Bantuan

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian RI, Dr. Idha Widi Arsanti, S.P., M.P., menekankan pentingnya manajemen kawasan, penguatan koperasi dan penerapan teknologi pertanian modern.

Menurut dia, potensi Muara Telang perlu dioptimalkan dengan mempertimbangkan kondisi nyata di lapangan. Pendampingan terhadap petani menjadi bagian penting agar modernisasi tidak berhenti pada penyediaan teknologi, tetapi benar-benar meningkatkan kemampuan produksi dan pengelolaan usaha tani.

Pemerintah Dorong Ekosistem Pertanian dari Hulu hingga Hilir

Pengembangan kawasan IMMACo di Banyuasin juga akan membutuhkan dukungan lintas sektor. Pemerintah Kabupaten Banyuasin menyatakan kesiapan untuk memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat, koperasi, petani, perguruan tinggi, TNI dan pihak terkait lainnya.

Sejumlah komponen yang didorong dalam ekosistem tersebut meliputi:

  • penguatan kelembagaan koperasi;
  • penyediaan sarana produksi pertanian;
  • akses BBM untuk kegiatan pertanian;
  • penguatan penyuluhan;
  • penerapan teknologi pertanian modern;
  • pendampingan dan pembelajaran melalui perguruan tinggi;
  • pengembangan pasar bagi hasil pertanian lokal.

Rangkaian dukungan tersebut penting karena produktivitas lahan tidak berdiri sendiri. Ketersediaan input, kemampuan petani, teknologi, pembiayaan, distribusi dan kepastian pasar saling menentukan keberhasilan sebuah kawasan pertanian.

SPPG Berpotensi Menjadi Pasar bagi Produk Petani

Salah satu gagasan yang turut dibahas adalah menghubungkan hasil pertanian lokal dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Jika koneksi tersebut dapat dibangun secara konsisten, hasil produksi petani Banyuasin tidak hanya memiliki saluran pemasaran yang lebih jelas, tetapi juga dapat masuk ke dalam rantai pasok kebutuhan pangan masyarakat.

Bagi petani, kepastian pasar memiliki arti strategis. Produksi yang meningkat tanpa diikuti akses pasar dapat menimbulkan persoalan baru, sementara hubungan langsung dengan pembeli institusional berpotensi memberikan kepastian permintaan sekaligus mendorong perencanaan produksi.

Baca juga  Gotong Royong Digencarkan, Namun Kebersihan Jalan Lingkar Banyuasin Masih Jadi Tantangan

Tantangan Terbesar Ada pada Integrasi dan Kelembagaan

Penetapan Muara Telang sebagai kawasan percontohan IMMACo membawa peluang besar, tetapi luas kawasan sekitar 22 ribu hektare juga berarti tantangan pengelolaannya tidak sederhana.

 pertama, keberhasilan program akan sangat ditentukan oleh kemampuan menyatukan kepentingan berbagai aktor dalam satu sistem. Pemerintah pusat dapat menyediakan kebijakan dan dukungan, pemerintah daerah mengawal implementasi, sementara koperasi dan petani menjadi bagian penting dari kegiatan ekonomi sehari-hari. Tanpa pembagian peran yang jelas, modernisasi berisiko berjalan parsial.

kedua, ukuran keberhasilan IMMACo semestinya tidak hanya dihitung dari luas lahan yang masuk kawasan atau jumlah teknologi yang diterapkan. Indikator yang lebih penting adalah apakah produktivitas meningkat, biaya usaha tani menjadi lebih efisien, koperasi benar-benar berfungsi, akses pasar membaik dan pendapatan petani ikut tumbuh secara berkelanjutan.

Pola ini juga relevan dengan arah kebijakan ketahanan pangan nasional. Dorongan menuju swasembada pangan membutuhkan kawasan produksi yang bukan hanya besar secara luasan, tetapi juga efisien, memiliki kelembagaan kuat dan terhubung dengan rantai pasok.

Banyuasin dan Posisi Strategis sebagai Penyangga Pangan

Banyuasin selama ini memiliki basis pertanian yang menjadi salah satu kekuatan ekonomi daerah. Dengan pengembangan IMMACo, pemerintah daerah berupaya membawa kekuatan tersebut ke tahap berikutnya melalui pendekatan pertanian modern dan kelembagaan ekonomi petani.

nilai strategis program ini justru terletak pada upaya menjadikan lahan pertanian sebagai sebuah ekosistem ekonomi. Ketika koperasi, teknologi, penyuluhan, produksi dan pasar berada dalam satu rantai yang saling terhubung, peningkatan produktivitas berpeluang memberikan dampak yang lebih luas daripada sekadar kenaikan hasil panen.

Karena itu, pengembangan Muara Telang akan menjadi penting untuk diamati bukan hanya dari sisi produksi, tetapi juga dari kemampuan program tersebut membangun model bisnis pertanian yang dapat bertahan dalam jangka panjang.

Baca juga  HUT ke-5 Dewa di Kelenteng MAKIN Cin Sua Keng, Banyuasin, Jadi Momentum Memperkuat Kerukunan Lintas Agama

Menunggu Implementasi di Lapangan

Pemerintah Kabupaten Banyuasin menyatakan siap mendukung pengembangan kawasan percontohan IMMACo tersebut. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi modal awal untuk menerjemahkan konsep menjadi program yang benar-benar dirasakan petani.

Tahap berikutnya akan menjadi penentu. Penguatan koperasi, pendampingan petani, pemanfaatan teknologi, dukungan sarana produksi dan penciptaan pasar harus berjalan secara simultan agar kawasan sekitar 22 ribu hektare di Muara Telang tidak berhenti sebagai proyek percontohan di atas kertas.

Jika seluruh komponen tersebut dapat terintegrasi, Muara Telang berpeluang menjadi salah satu rujukan pengembangan pertanian modern berbasis koperasi sekaligus memperkuat posisi Banyuasin sebagai salah satu penyangga pangan nasional. (Noto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here